DEFINISI AL-QUR’AN, CARA TURUNNYA, DAN CARA PENGUMPULANNYA

Al-Qur’an yang agung, yang sejalan dengan kebijaksanaan Allah – tidak ada lagi di dunia ini wahyu ilahi selain dia setelah lenyap-nya atau bercampurnya kitab-kitab samawi terdahulu dengan ilmu-ilmu lain yang diciptakan manusia, adalah petunjuk hidayah, konstitusi hukum, sumber sistem aturan Tuhan bagi kehidupan, jalan untuk mengetahui halal dan haram, sumber hikmah, kebenaran, dan keadilan, sumber etika dan akhlak yang mesti diterapkan untuk meluruskan perjalanan manusia dan memperbaiki perilaku manusia. Allah Ta’ala berfirman,

“Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab.” (al-An’aam: 38).
Dia juga berfirman,
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab [Al Qur’an] untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(an-Nahl:89)
Para ulama ushul fiqih telah mendefinisikannya, bukan karena manusia tidak mengenalnya, melainkan untuk menentukan apa yang bacaannya terhitung sebagai ibadah, apa yang boleh dibaca dalam shalat dan apa yang tidak boleh; juga untuk menjelaskan hukum-hukum syariat ilahi yang berupa halal-haram, dan apa yang dapat dijadikan sebagai hujjah dalam menyimpulkan hukum, serta apa yang membuat orang yang mengingkarinya menjadi kafir dan apa yang tidak membuat pengingkarnya menjadi kafir. Karena itu, para ulama berkata tentang Al-Qur’an ini:

القرآن:
هو كلام الله المعجز «1» ، المنزّل على النّبي محمد صلّى الله عليه وسلم، باللفظ العربي، المكتوب في المصاحف، المتعبّد بتلاوته «2» ، المنقول بالتواتر «3» ، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس.

Al-Qur’an adalah firman Allah yang mukjizat (artinya: manusia dan jin tidak ada yang mampu membuat rangkaian seperti satu surah terpendek darinya), yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa arab, yang tertulis dalam mushaf, yang bacaannya terhitung sebagai ibadah (artinya, shalat tidak sah jika tidak membaca sesuatu darinya, dan semata-mata membacanya merupakan ibadah yang mendatangkan pahala bagi seorang muslim), yang diriwayatkan secara mutawatir (artinya, diriwayatkan oleh jumlah orang yang besar dari jumlah yang besar yang terpercaya, yang tidak mungkin mereka bersekongkol untuk berdusta), yang dimulai dengan surat al-Fatihah, dan diakhiri dengan surah an-Naas.
Berdasarkan definisi ini, terjemahan Al-Qur’an tidak bisa disebut Al-Qur’an, melainkan ia hanya tafsir; sebagaimana qiraa’at yang syaadzdzah (yaitu yang tidak diriwayatkan secara mutawatir, melainkan secara aahad) tidak dapat disebut Al-Qur’an, seperti qiraa’at Ibnu Mas’ud tentang kafarat sumpah orang yang tidak mampu: fa man lam yajid fa shiyaamu tsalatsati ayyaamin-mutataabi’aat- (al-Maidah: 89)

JUMLAH JUZ, SURAT DAN AYAT AL-QUR’AN

  • Al-Qur’an terdiri atas tiga puluh juz.
  • Surah-surah Al-Qur’an berjumlah 114 surah.
  • Ayat-ayatnya berjumlah 6236 menurut ulama Kufah,
    atau 6666 menurut selain mereka. Ia terdiri atas hal-hal berikut:
    – Perintah: 1000
    – Larangan: 1000
    – Janji: 1000
    – Ancaman: 1000
    – Kisah dan berita: 1000
    – Ibrah dan perumpamaan: 1000
    – Halal dan haram: 500
    – Doa: 100
    – Naasikh dan mansuukh: 66

NAMA-NAMA AL-QUR’AN
Al-Qur’an memmpunyai sejumlah nama, antara lain: Al-Qur’an, al-Mushaf, an-Nuur, dan al-Furqaan.
Ia dinamakan Al-Qur’an karena dialah wahyu yang dibaca. Sedangkan Abu ‘Ubaidah berkata: dinamakan Al-Qur’an karena ia mengumpulkan dan menggabungkan surah-surah. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُ ۥ وَقُرۡءَانَهُ
Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya [di dadamu] dan [membuatmu pandai] membacanya. (al-Qiyaamah: 17)
Maksud qur’aanahu dalam ayat ini adalah qiraa’atahu (pembacaannya)-dan sudah diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sedikit demi sedikit, dan setelah sebagiannya dikumpulkan dengan sebagian yang lain maka ia dinamakan Al-Qur’an.
Dia dinamakan al-Kitab, yang berasal dari kata al-katb yang artinya pengumpulan, karena dia mengumpulkan (berisi) berbagai macam kisah, ayat, hukum, dan berita dalam metode yang khas.
Dia dinamakan al-Mushaf, dari kata ash-hafa yang artinya mengumpulkan shuhuf (lembaran-lembaran) di dalamnya, dan shuhuf adalah bentuk jamak dari kata ash-shahiifah, yaitu selembar kulit atau kertas yang ditulisi sesuatu. Konon, setelah mengumpulkan Al Qur’an, Abu Bakar ash-Shiddiq bermusyawarah dengan orang-orang tentang namanya, lalu ia menamainya al-Mushaf.
Dia dinamakan an-Nuur (cahaya) karena dia menyingkap berbagai hakikat dan menerangkan hal-hal yang samar (soal hukum halal-haram serta tentang hal-hal gaib yang tidak dapat dipahami nalar) dengan penjelasan yang absolut dan keterangan yang jelas. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, [Muhammad dengan mu’jizatnya] dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang [Al Qur’an].” (an-Nisaa’: 174).
Dan dinamakan al-Furqaan karena ia membedakan antara yang benar dan yang salah, antara iman dan kekafiran, antara kebaikan dan kejahatan. Allah Ta’ala berfirman,
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan [Al Qur’an] kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqaan: 1)

CARA TURUNNYA AL-QUR’AN
Al-Qur’an tidak turun semua sekaligus seperti turunnya Taurat kepada Musa a.s. dan Injil kepada Isa a.s. agar pundak mukallaf tidak berat terbebani dengan hukum-hukumnya. Ia turun kepada Nabi yang mulia -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sebagai wahyu yang dibawa oleh malaikat Jibril a.s. secara berangsur-angsur, yakni secara terpisah-pisah sesuai dengan tuntutan kondisi, peristiwa dan keadaan, atau sebagai respons atas kejadian dan momentum atau pertanyaan.
Yang termasuk jenis pertama, misalnya firman Allah Ta’ala:
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman..(al-Baqarah:221)
Ayat ini turun berkenaan Martsad al-Ghanawi yang diutus oleh Nabi saw. ke Mekah untuk membawa pergi dari sana kaum muslimin yang tertindas, namun seorang wanita musyrik yang bernama ‘Anaq -yang kaya raya dan cantik jelita- ingin kawin dengannya kemudian Martsad setuju asalkan Nabi saw. juga setuju. Tatkala ia bertanya kepada beliau, turunlah ayat ini, dan bersamaan dengannya turun pula ayat:
“Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik [dengan wanita-wanita mu’min] sebelum mereka beriman.” (al-Baqarah:221)
Yang termasuk jenis kedua, misalnya:
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim.” (al-Baqarah: 220)
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh.” (al-Baqarah: 222)
“Mereka menanyakan kepadamu tentang [pembagian] harta rampasan perang.” (al-Anfaal: 1)
Turunnya Al-Qur’an dimulai pada bulan Ramadhan di malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Allah Ta’ala berfirman,
“[Beberapa hari yang ditentukan itu ialah] bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan [permulaan] Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang bathil].” (al-Baqarah: 185)
Dia berfirman pula,
“sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)
Dia juga berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan.” (al-Qadr: 1)

Al-Qur’an terus-menerus turun selama 23 tahun, baik di Mekah, di Madinah, di jalan antara kedua kota itu, atau di tempat-tempat lain.
Turunnya kadang satu surah lengkap, seperti surah al-Faatihah, al-Muddatstsir, dan al-An’aam. Kadang yang turun hanya sepuluh ayat, seperti kisah al-ifki (gosip) dalam surah an-Nuur, dan awal surah al-Mu’minuun. Kadang pula hanya turun lima ayat, dan ini banyak. Akan tetapi terkadang yang turun hanya sebagian dari suatu ayat, seperti kalimat,
“Yang tidak mempunyai uzur” (an-Nisaa : 95)
yang turun setelah firman-Nya,
“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang)” (an-Nisaa: 95).
Misalnya lagi firman Allah Ta’ala,
“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang) maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)
Yang turun setelah,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (kotor hati), maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)
Diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur -sejalan dengan manhaj Tuhan yang telah menentukan cara penurunan demikian-mengandung banyak hikmah. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Al-Qur’an itu (Kami turunkan) berangsur-angsur agar kamu (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-lsraa’-106)
Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah meneguhkan dan menguatkan hati Nabi saw. agar beliau menghafal dan menguasainya sebab beliau adalah seorang yang buta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang kafir berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan sekaligus?’ Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)” (al-Furqaan: 32)
Hikmah yang lain adalah menyesuaikan dengan tuntutan tahapan dalam penetapan hukum, serta mendidik masyarakat dan memindahkannya secara bertahap dari suatu keadaan ke keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya, dan juga melimpahkan rahmat Ilahi kepada umat manusia. Dahulu, di masa Jahiliyyah, mereka hidup dalam kebebasan mutlak. Kalau Al-Qur’an diturunkan semuanya secara sekaligus, tentu mereka akan merasa berat menjalani aturan-aturan hukum baru itu sehingga mereka tidak akan melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut.
Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah r.a. berkata, “Yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah suatu surah dari jenis al-mufashshal, di dalamnya disebutkan tentang surga dan neraka, hingga tatkala manusia telah menerima Islam, turunlah hukum halal dan haram. Sekiranya yang pertama-tama turun adalah ‘Jangan minum khamar!’, niscaya mereka akan berkata, ‘Kami selamanya tidak akan meninggalkan khamar!’ Dan sekiranya yang pertama turun adalah ‘Jangan berzina!’, niscaya mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkan zina!”.  (Dalam al-Kasysyaaf (1/185-186), az-Zamakhsyari menyebutkan sebab-sebab pemilahan dan pemotongan Al-Qur’an menjadi surah-surah, di antaranya: (1) penjelasan yang bervariasi mengenai sesuatu akan lebih baik, lebih indah, dan lebih menawan daripada kalau dia hanya satu penjelasan, (2) merangsang vitalitas dan memotivasi untuk mempelajari dan menggali ilmu dari Al-Qur’an, berbeda seandainya kitab suci ini turun secara sekaligus, (3) orang yang menghafal akan merasa bangga dengan satu penggalan tersendiri dari Al-Qur’an setelah ia menghafalnya, dan (4) perincian mengenai berbagai adegan peristiwa merupakan faktor penguat makna, menegaskan maksud yang dikehendaki dan menarik perhatian).
Hikmah yang lain adalah menghubungkan aktivitas jamaah dengan wahyu Ilahi sebab keberlanjutan turunnya wahyu kepada Nabi saw. membantu beliau untuk bersabar dan tabah, menanggung derita dan kesulitan serta berbagai macam gangguan yang beliau hadapi dari kaum musyrikin. Ia juga merupakan sarana untuk mengukuhkan aqidah di dalam jiwa orang-orang yang telah memeluk Islam. Jika wahyu turun untuk memecahkan suatu problem, berarti terbukti kebenaran dakwah Nabi saw.; dan kalau Nabi saw. tidak memberi jawaban atas suatu masalah lalu datang wahyu kepada beliau, kaum mukminin pasti kian yakin akan kebenaran iman, semakin percaya kepada kemurnian aqidah dan keamanan jalan yang mereka tempuh, serta bertambah pula keyakinan mereka terhadap tujuan dan janji yang diberikan Allah kepada mereka: menang atas musuh atau kaum musyrikin di dunia, atau masuk surga dan meraih keridhaan Tuhan serta penyiksaan kaum kafir di neraka Jahannam.

AL-QUR’AN MAKKIY DAN MADANIY

Wahyu Al-Qur’an memiliki dua corak yang membuatnya terbagi menjadi dua macam: makkiy dan madaniy; dan dengan begitu  surah-surah Al-Qur’an terbagi pula menjadi surah Makkiyyah dan surah Madaniyyah.
Makkiy adalah yang turun selama tiga belas tahun sebelum hijrah-hijrah Nabi saw. dari Mekah ke Madina-, baik ia turun di Mekah, di Thaif, atau di tempat lainnya, misalnya surah Qaaf, Huud, dan Yuusuf. Adapun Madaniy adalah yang turun selama sepuluh tahun setelah hijrah, baik ia turun di Madinah, dalam perjalanan dan peperangan, ataupun di Mekah pada waktu beliau menaklukkannya (‘aamul fathi), seperti surah al-Baqarah dan surah Aali ‘Imraan.
Kebanyakan syari’at Makkiy berkenaan dengan perbaikan aqidah dan akhlak, kecaman terhadap kesyirikan dan keberhalaan, penanaman aqidah tauhid, pembersihan bekas-bekas kebodohan (seperti, pembunuhan, zina, dan penguburan anak perempuan hidup-hidup), penanaman etika dan akhlak Islam (seperti keadilan, menepati janji, berbuat baik, bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan dan tidak bekerja sama dalam dosa dan permusuhan, serta melakukan kebajikan dan meninggalkan kemungkaran), pemfungsian akal dan pikiran, pemberantasan fantasi taklid buta, pemerdekaan manusia, dan penarikan pelajaran dari kisah-kisah para Nabi dalam menghadapi kaum mereka. Hal itu menuntut ayat-ayat Makkiy berbentuk pendek-pendek, penuh dengan intimidasi, teguran, dan ancaman, membangkitkan rasa takut, dan mengobarkan makna keagungan Tuhan. Adapun syari’at Madaniy pada umumnya berisi tentang penetapan aturan-aturan dan hukum-hukum terperinci mengenai ibadah, transaksi sipil, dan hukuman, serta prasyarat kehidupan baru dalam menegakkan bangunan masyarakat Islam di Madinah, pengaturan urusan politik dan pemerintahan, pemantapan kaidah permusyawaratan dan keadilan dalam memutuskan hukum, penataan hubungan antara kaum Muslimin dengan penganut agama lain di dalam maupun luar kota Madinah, baik pada waktu damai maupun pada waktu perang, dengan mensyari’atkan jihad karena ada alasan-alasan yang memperkenankannya (seperti gangguan, agresi, dan pengusiran), kemudian meletakkan aturan-aturan perjanjian guna menstabilkan keamanan dan memantapkan pilar-pilar perdamaian. Hal itu menuntut ayat-ayat Madaniyyah berbentuk panjang dan tenang, memiliki dimensi-dimensi dan tujuan-tujuan yang abadi dan tidak temporer, yang dituntut oleh faktor-faktor kestabilan dan ketenangan demi membangun negara di atas fondasi dan pilar yang paling kuat dan kokoh.

FAEDAH MENGETAHUI ASBAABUN NUZUUL
Mengetahui sebab-sebab turunnya ayat sesuai dengan peristiwa dan momentum mengandung banyak faedah dan urgensi yang sangat besar dalam menafsirkan Al-Qur’an dan memahaminya secara benar. Asbaabun nuzuul mengandung indikasi-indikasi yang menjelaskan tujuan hukum, menerangkan sebab pensyari’atan, menyingkap rahasia-rahasia di baliknya, serta membantu memahami Al-Qur”an secara akurat dan komprehensif, kendati pun yang menjadi patokan utama adalah keumuman kata dan bukan kekhususan sebab. Di dunia perundang-undangan zaman sekarang, kita melihat apa yang disebut dengan memorandum penjelas undang-undang, yang mana di dalamnya dijelaskan sebab-sebab dan tujuan-tujuan penerbitan undang-undang tersebut. Hal itu diperkuat lagi dengan fakta bahwa setiap aturan tetap berada dalam level teoritis dan tidak memuaskan banyak manusia selama ia tidak sejalan dengan tuntutan-tuntutan realita atau terkait dengan kehidupan praksis.
Semua itu menunjukkan bahwa syari’at Al-Qur’an tidaklah mengawang di atas level peristiwa, atau dengan kata lain ia bukan syari’at utopis (idealis) yang tidak mungkin direalisasikan. Syari’at Al-Qur’an relevan bagi setiap zaman, interaktif dengan realita. la mendiagnosa obat yang efektif bagi setiap penyakit kronis masyarakat serta abnormalitas dan penyimpangan individu.

YANG PERTAMA DAN YANG TERAKHIR TURUN DARI AL-QUR’AN
Yang pertama kali turun dari Al-Qur’anul Kariim adalah firman Allah Ta’ala dalam surah al-‘Alaq,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5)
Peristiwa itu terjadi pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi saw., di Gua Hira’ ketika wahyu mulai turun dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. yang tepercaya.
Adapun ayat Al-Qur’an yang terakhir turun-menurut pendapat terkuat-adalah firman Allah Ta’ala,
“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi.” (al-Baqarah: 281)
Peristiwa itu terjadi sembilan hari sebelum wafatnya Nabi saw. setelah beliau usai menunaikan haji Wada’. Hal itu diriwayatkan banyak perawi dari Ibnu Abbas r.a.. Adapun riwayat yang disebutkan dari as-Suddi, bahwa yang terakhir turun adalah firman Allah Ta’ala, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (al-Maa’idah: 3)
tidak dapat diterima sebab ayat ini turun dengan kesepakatan para ulama-pada hari Arafah sewaktu haji Wada’ sebelum turunnya surah an-Nashr dan ayat 281 surah al-Baqarah di atas.

PENGUMPULAN AL-QUR’AN
Urutan ayat-ayat dan surah-surah Al Qur’anul Kariim (yang turun sesuai dengan peristiwa dan momentum, kadang turun satu surah lengkap atau kadang beberapa ayat atau sebagian dari satu ayat saja, sebagaimana telah kita ketahui) tidaklah seperti urutan yang kita lihat pada mushaf-mushaf sekarang maupun lampau (yang mana urutan ini bersifat tauqiifiy, ditetapkan oleh Rasulullah saw. sendiri). Al-Qur’an mengalami pengumpulan/kompilasi sebanyak tiga kali.
Kompilasi Pertama di Masa Nabi saw.
Kompilasi pertama terjadi pada masa Nabi saw. dengan hafalan beliau yang kuat dan mantap seperti pahatan di batu di dalam dada beliau, sebagai bukti kebenaran janji Allah Ta’ala,    :
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat- cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di Sejumlah Pengetahuan Penting Al-Qur’an dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (al-Qiyaamah: 16-19)
Nabi saw. membacakan hafalannya kepada Jibril a.s. satu kali setiap bulan Ramadhan; dan beliau membacakan hafalannya sebanyak dua kali di bulan Ramadhan terakhir sebelum wafat. Selanjutnya Rasulullah saw. membacakannya kepada para sahabat seperti pembacaan-pembacaan yang beliau lakukan di depan Jibril, lalu para sahabat menulisnya seperti yang mereka dengar dari beliau. Para penulis wahyu berjumlah dua puluh lima orang. Menurut penelitian, mereka sebetulnya berjumlah sekitar enam puluh orang; yang paling terkenal adalah keempat khalifah, Ubay bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, saudaranya: Yaziid, Mughirah bin Syu’bah, Zubair bin ‘Awwam, dan Khalid bin Walid. Al-Qur’an juga dihafal oleh beberapa orang sahabat di luar kepala karena terdorong cinta mereka kepadanya dan berkat kekuatan ingatan dan memori mereka yang terkenal sebagai kelebihan mereka. Sampai-sampai dalam perang memberantas kaum murtad, telah gugur tujuh puluh orang penghafal Al-Qur’an. Abu ‘Ubaid, dalam kitab al-Qiraa’aat, menyebutkan sebagian dari para penghafal Al-Qur’an. Di antara kaum muhajirin ia menyebut antara lain keempat Khulafa’ur Rasyidin, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash, Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Salim bin Ma’qil (maula Abu Hudzaifah), Abu Hurairah, Andullah bin Sa’ib, keempat Abdullah (Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu ‘Amr, dan Ibnu Zubair), Aisyah, HAfsah, dan Ummu Salamah.

Di antara kaum Anshar dia menyebut antara lain: ‘Ubadah ibn Shamit, Mu’adz Abu Halimah, Mujammi’ bin Jariyah, Fadhalah bin ‘Ubaid, dan Maslamah bin Mukhallad.

Para penghafal yang paling terkenal di antaranya: ‘Utsman, Ali, Ubaiy bin Ka’b, Abu Darda’, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Ibnu Mas’ud, dan Abu Musa al-Asy’ari.

Kompilasi Kedua pada Masa Abu Bakar
Al-Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Rasulullah saw. sebab ada kemungkinan akan turun wahyu baru selama Nabi saw. masih hidup. Akan tetapi waktu itu semua ayat Al-Qur’an ditulis di lembaran kertas, tulang hewan, batu, dan pelepah kurma. Kemudian, banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam Perang Yamamah yang terjadi pada masa pemerintahan Abu Bakar, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam Fadhaa’ilul Quraan dalam juz keenam, sehingga Umar mengusulkan agar Al-Qur’an dikompilasikan/dikumpulkan, dan Abu Bakar menyetujuinya, serta beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk melaksanakan tugas ini. Kata Abu Bakar kepada Zaid, “Engkau seorang pemuda cerdas yang tidak kami curigai. Dahulu engkau pun menuliskan wahyu untuk Rasulullah saw.. Maka, carilah dan kumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an (yang tersebar di mana-mana itu).” Zaid kemudian melaksanakan perintah tersebut. Ia bercerita “Maka aku pun mulai mencari ayat-ayat Al-Qur’an, kukumpulkan dari pelepah kurma dan lempengan batu serta hafalan orang-orang. Dan aku menemukan akhir surah at-Taubah-yakni dalam bentuk tertulis-pada Khuzaimah al-Anshari, yang tidak kutemukan pada selain dia, yaitu ayat

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri” (at-Taubah: 128)
Hingga penghabisan surah Baraa’ah. Lembaran-lembaran yang terkumpul itu berada di tangan Abu Bakar hingga ia meninggal dunia, lalu dipegang Umar hingga ia wafat, selanjutnya dipegang oleh Hafshah binti Umar.” (Shahih Bukhari (6/314-315).
Dari sini jelas bahwa cara pengumpulan Al-Qur an berpedoman pada dua hal: (1) yang tertulis dalam lembaran kertas, tulang, dan sejenisnya, dan (2) hafalan para sahabat yang hafal Al-Qur’an di luar kepala. Pengumpulan pada masa Abu Bakar terbatas pada pengumpulan Al-Qur’an di dalam lembaran-lembaran khusus, setelah sebelumnya terpisah-pisah dalam berbagai lembaran. Zaid tidak cukup hanya berpedoman kepada hafalannya sendiri, ia juga berpedoman kepada hafalan para sahabat yang lain, yang jumlahnya banyak dan memenuhi syarat mutawatir, yakni keyakinan yang diperoleh dari periwayatan jumlah yang banyak yang menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol untuk berdusta.

Kompilasi Ketiga pada Masa Utsman, dengan Menulis Sejumlah Mushaf dengan Khath yang Sama 
Peran Utsman bin Affan r.a. terbatas pada penulisan enam naskah mushaf yang memiliki satu harf [cara baca), yang kemudian ia sebarkan ke beberapa kota Islam, Tiga buah di antaranya ia kirimkan ke Kufah, Damaskus, dan Basrah. Yang dua lagi ia kirimkan ke Mekah dan Bahrain, atau ke Mesir dan Jazirah, dan ia menyisakan satu mushaf untuk diri-nya di Madinah. Ia menginstruksikan agar mushaf-mushaf lain yang berbeda, yang ada di Irak dan Syam, dibakar. Mushaf Syam dulu tersimpan di Masjid Raya Damaskus, al-Jaami’ al-Umawiy, tepatnya di sudut sebelah timur maqshuurah (adalah sebuah ruangan yang dibangun di dalam masjid dan dikhususkan untuk tempat shalatnya khalifah serta tamu-tamunya). Ibnu Katsir pernah melihat mushaf ini (sebagaimana ia tuturkan dalam bukunya Fadhaa’ilul Qur’aan di bagian akhir tafsirnya), tetapi kemudian ia hangus dalam kebakaran besar yang menimpa Masjid Umawiy pada tahun 1310 H. Sebelum ia terbakar, para ulama besar Damaskus kontemporer pun telah melihatnya.
Sebab musabab pengumpulan ini terungkap dari riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhari kepada kita dalam Fadhaa’ilul Qur’aan, dalam juz keenam, dari Anas bin Malik r.a. bahwa Hudzaifah bin Yaman datang menghadap Utsman seraya menceritakan bahwa ketika ia sedang mengikuti peperangan bersama orang-orang Syam dan orang-orang Irak untuk menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Ia terkejut dengan perbedaan mereka dalam membaca Al-Qur’an. Hudzaifah berkata kepada Utsman, “Wahai Amirul Mukminin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih mengenai AI-Qur’an seperti perselisihan kaum Yahudi dan Nasrani!” Maka Utsman mengirim pesan kepada Hafshah, “Kirimkan lembaran-lembaran catatan Al-Qur’an kepada kami karena kami akan menyalinnya ke dalam
mushaf. Nanti kami kembalikan lembaran- lembaran itu kepadamu.” Setelah Hafshah mengirimkannya, Utsman memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf. Utsman berpesan kepada ketiga orang Quraisy dalam kelompok itu, “Kalau kalian berbeda pendapat dengan Zaid bin Tsabit mengenai suatu ayat, tulislah dengan dialek Quraisy karena Al-Qur’an turun dengan dialek mereka.” Mereka lantas melaksanakannya. Setelah mereka menyalin isi lembaran-lembaran itu ke dalam sejumlah mushaf, Utsman mengembalikan lembaran tersebut kepada Hafshah. Setelah itu, ia mengirimkan sebuah mushaf hasil salinan itu ke setiap penjuru, dan ia memerintahkan untuk membakar semua tulisan Al-Qur’an yang terdapat dalam sahifah atau mushaf selain mushaf yang ia salin.

Maka jadilah Mushaf Utsmani sebagai pedoman dalam pencetakan dan penyebarluasan mushaf-mushaf yang ada sekarang di dunia. Setelah sebelumnya (hingga era Utsman) kaum Muslimin membaca Al-Qur’an dengan berbagai qiraaat yang berbeda-beda, Utsman menyatukan mereka kepada satu mushaf dan satu cara baca serta menjadikan mushaf tersebut sebagai imam. Oleh karena itulah, mushaf tersebut dinisbahkan kepadanya dan ia sendiri dijuluki sebagai Jaami’ul Qur’aan (pengumpul Al-Qur’an).
Kesimpulan: Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar adalah pengumpulan dalam satu naskah yang terpercaya, sedangkan pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman adalah penyalinan dari sahifah-sahifah yang dipegang Hafshah ke dalam enam mushaf dengan satu cara baca. Cara baca ini sesuai dengan tujuh huruf (tujuh cara baca) yang Al-Qur’an turun dengannya.
Untuk membaca rasm (tulisan) mushaf ada dua cara: sesuai dengan rasm itu secara hakiki (nyata) dan sesuai dengannya secara taqdiiriy (kira-kira).

Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa pengurutan ayat-ayat bersifat tauqifiy (berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi saw.), sebagaimana urutan surah-surah juga tauqifiy – menurut pendapat yang kuat. Adapun dalil pengurutan ayat adalah ucapan Utsman bin ‘Ash r.a., “Ketika aku sedang duduk bersama Rasulullah saw., tiba-tiba beliau mengangkat dan meluruskan pandangan matanya, selanjutnya beliau bersabda, ‘Jibril baru saja mendatangiku; ia memerintahkan aku meletakkan ayat ini di tempat ini dari surah ini: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.'” (an-Nahl: 90)

Adapun dalil tentang pengurutan surah-surah adalah bahwa sebagian sahabat yang hafal Al-Qur’an di luar kepala, misalnya Ibnu Mas’ud, hadir dalam mudaarasah (penyimakan) Al-Qur’an yang berlangsung antara Jibril a.s. dan Nabi saw., dan mereka bersaksi bahwa mudaarasah tersebut sesuai dengan urutan yang dikenal dalam surah dan ayat sekarang ini.

Ada tiga syarat agar suatu ayat, kata, atau qiraa’ah dapat disebut Al-Qur’an, yaitu: (1) sesuai dengan rasm ‘utsmani walaupun hanya secara kira-kira, (2) sesuai dengan kaidah-kaidah nahwu (gramatika) Arab walaupun hanya menurut satu segi, dan (3) diriwayatkan secara mutawatir oleh sejumlah orang dari Nabi saw. (inilah yang dikenal dengan keshahihan sanad).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s