TASYBIIH, ISTI’AARAH, MAJAAZ, DAN KINAAYAH DALAM AL-QUR AN

AI-Qur’anul Kariim, yang turun dalam bahasa orang-orang Arab, tidak keluar dari karakter bahasa Arab dalam pemakaian kata: Ada kalanya secara haqiiqah (yaitu pemakaian kata dalam makna aslinya), dengan cara majaaz yaitu pemakaian kata dalam suatu makna lain yang bukan makna asli kata itu karena adanya suatu ‘alaaqah [hubungan] antara makna asli dan makna lain tersebut), penggunaan tasybiih (yaitu penyerupaan sesuatu atau beberapa hal dengan hal yang lain dalam satu atau beberapa sifat dengan menggunakan huruf kaaf dan sejenisnya, secara eksplisit atau implisit), dan pemakaian isti’aarah (yaitu tasybiih baliigh yang salah satu tharifnya dihapus, dan ‘ilaaqahnya selalu musyaabahah).
Tasybiih amat banyak dalam Al-Qur’an, baik-ditilik dari wajhusy-syibhi (segi keserupaan)-yang mufrad maupun yang murakkab. Contoh tasybiih mufrad atau ghairut tamtsiil (yaitu yang wajhusy-syibhinya tidak diambil dari kumpulan yang lebih dari satu, melainkan diambil dari tunggal, seperti kalimat Zaid adalah singa, di mana wajhusy-syibhinya diambil dari tunggal, yaitu bahwa zaid menyerupai singa (dalam hal keberanian) adalah firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya misal [penciptaan] ’Isa di sisi Allah, adalah seperti [penciptaan] Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” [seorang manusia], maka jadilah dia. (Ali Imran: 59)

Contoh tasybiih murakkab atau tasybiihut tamtsiil (yaitu yang wajhusy-syibhinya diambil dari kumpulan, atau-menurut definisi as- Suyuthi dalam al-Itqaan-ia adalah tasybiih yang wajhusy-syibhinya diambil dari beberapa hal yang sebagiannya digabungkan dengan sebagian yang lain) adalah firman Allah Ta’ala:

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (al-Jumu’ah: 5)

Penyerupaan ini murakkab: terdiri dari beberapa kondisi keledai, yaitu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari kitab-kitab itu di samping menanggung keletihan dalam membawanya. Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya-karena air itu-tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.”(Yuunus: 24)
Dalam ayat ini ada sepuluh kalimat, dan tarkiib (penyusunan) berlaku pada totalnya, sehingga jika salah satu saja di antaranya gugur maka tasybiih tersebut akan rusak, sebab yang dikehendaki adalah penyerupaan dunia-dalam hal kecepatan sirnanya, kehabisan kenikmatannya, dan keterpedayaan manusia dengannya-dengan air yang turun dari langit lalu menumbuhkan beragam rumput/tanaman dan menghiasi permukaan bumi dengan keindahannya, sama seperti pengantin wanita apabila telah mengenakan busana yang mewah; hingga apabila para pemilik tanam-tanaman itu hendak memetiknya dan mereka menyangka bahwa tanaman tersebut selamat dari hama, tiba-tiba datanglah bencana dari Allah secara mengejutkan, sehingga seolah-olah tanaman itu tidak pernah ada kemarin.
Adapun isti’aarah, yang tergolong majaaz lughawiy-yakni dalam satu kata, tidak seperti majaaz ‘aqliy-, juga banyak. Misalnya, firman Allah Ta’ala:

“Dan demi Shubuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (at-Takwiir: 18)
Kata tanaffasa (keluarnya nafas sedikit demi sedikit) dipakai-sebagai isti’aarah-untuk mengungkapkan keluarnya cahaya dari arah timur pada waktu fajar muncul baru sedikit. Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya.” (an-Nisaa : 10)
Harta anak-anak yatim diumpamakan dengan api karena ada kesamaan antara keduanya: memakan harta tersebut menyakitkan sebagaimana api pun menyakitkan. Contoh yang lain adalah firman Allah Ta’ala,
“(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang.” (Ibraahiim: 1)
Artinya, supaya kamu mengeluarkan manusia dari kebodohan dan kesesatan ke agama yang lurus, aqidah yang benar, dan ilmu serta akhlak. Kebodohan dan kesesatan serta permusuhan diserupakan dengan kegelapan karena ada kesamaannya: manusia tidak bisa mendapat petunjuk ke jalan yang terang jika ia berada dalam kebodohan dan kegelapan.
Agama yang lurus diserupakan dengan cahaya karena ada kesamaannya: manusia akan mendapat petunjuk ke jalan yang terang jika ia berada di dalam keduanya.
Sedangkan tentang majaaz, sebagian ulama mengingkari keberadaannya di dalam Al-Qur’an. Mereka antara lain madzhab Zhahiri, sebagian ulama madzhab Syafi’i (seperti Abu Hamid al-Isfirayini dan Ibnu Qashsh), sebagian ulama madzhab Maliki (seperti Ibnu Khuwaizmandad al-Bashri), dan Ibnu Taimiyah. Alasan mereka, majaaz adalah “saudara dusta” dan Al-Qur’an tidak mengandung kedustaan. Alasan lainnya, pembicara tidak mempergunakan majaaz, kecuali jika haqiiqah (makna asli suatu kata) telah menjadi sempit baginya sehingga terpaksa dia memakai isti’aarah, dan hal seperti ini mustahil bagi Allah. Jadi, dinding tidak berkehendak dalam firman-Nya, “Hendak roboh” (al-Kahfi: 77) dan negeri tidak ditanya dalam firman-Nya, “Dan tanyalah negeri” (Yuusuf: 82).
Akan tetapi, orang-orang yang telah meresapi keindahan diksi Al-Qur’an berpendapat bahwa alasan di atas tidak benar. Menurut mereka, seandainya tidak ada majaaz dalam Al-Qur an, niscaya hilanglah separuh dari keindahannya. Contohnya firman Allah Ta’ala,
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal” (al-lsraa : 29)
Konteks menunjukkan bahwa makna hakiki/asli tidak dikehendaki dan bahwa ayat ini melarang berlaku mubazir maupun kikir.

Adapun kinaayah (yaitu kata yang dipakai untuk menyatakan tentang sesuatu yang menjadi konsekuensi dari makna kata itu) juga banyak dijumpai dalam AI-Qur’an, sebab ia termasuk metode yang paling indah dalam menyatakan simbol dan isyarat. Allah Ta’ala mengisyaratkan tujuan dari hubungan perkawinan-yaitu untuk mendapat keturunan-dengan kata al-harts (ladang) dalam firman-Nya,
“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu iti bagaimana saja kamu kehendaki.” (al-Baqarah: 223)
Allah menyebut hubungan antara suami istri-yang mengandung percampuran dan penempelan badan-sebagai pakaian bagi mereka berdua. Dia berfirman:

“Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah: 187)

Dia mengisyaratkan kepada jimak dengan firman-Nya,

“Atau kamu telah menyentuh perempuan,” (an-Nisaa’: 43)

dan firman-Nya:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” (al-Baqarah: 187)
Dan dia mengisyaratkan tentang kesucian jiwa dan kebersihan diri dengan firman-Nya,

“Dan Pakaianmu bersihkanlah” (al-Muddatstsir: 4)

Ta’riidh (yaitu menyebutkan kata dan memakainya dalam makna aslinya, seraya memaksudkannya sebagai sindiran kepada sesuatu yang bukan maknanya, baik secara haqiiqah maupun majaaz) juga dipakai dalam Al-Qur’an. Contohnya:

“Dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini’. Katakanlah: ‘Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya).” (at-Taubah: 81)

Yang dimaksud disini bukan lahiriah kalam, yaitu lebih panasnya api neraka Jahanam ketimbang panasnya dunia, akan tetapi tujuan sebenarnya adalah menyindir orang-orang ini yang tidak ikut pergi berperang dan beralasan dengan cuaca yang terik, bahwa mereka akan masuk neraka dan merasakan panasnya yang tak terkira. Contoh yang lain adalah firman-Nya yang menceritakan perkataan Nabi Ibrahim:

“Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patungyang besar itulah yang melakukannya” (al-Anbiyaa’: 63)

Beliau menisbatkan perbuatan tersebut kepada patung terbesar yang dijadikan Tuhan sebab mereka mengetahui-jika mereka mempergunakan akal mereka-ketidakmampuan patung itu untuk melakukan perbuatan tersebut, dan Tuhan tidak mungkin tidak mampu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s