Cara Penulisan Al-Qur’an dan Rasm Utsmani

Rasm adalah cara menulis kata dengan ejaan-ejaannya dengan memperhitungkan permulaan dan pemberhentian (memulai dan mengakhiri bacaan, sejalan dengan definisi ini, huruf hamzah washl ditulis karena ia dibaca pada saat permulaan, sedangkan bentuk tanwin dihapus karena ia tidak dibaca pada saat berhenti di akhir kata).
Mushaf adalah mushaf Utsmani (Mushaf Imam) yang diperintahkan penulisannya oleh Utsman r.a. dan disepakati oleh para sahabat r.a.

Rasm Utsmani adalah cara penulisan keenam mushaf pada zaman Utsman r.a., Rasm inilah yang beredar dan berlaku setelah dimulainya pencetakan Al-Qur’an di al-Bunduqiyyah (latinnya Venizia, sebuah kota pelabuhan di pantai utara laut Adriatik Italia) pada tahun 1530 M, dan cetakan berikutnya yang merupakan cetakan Islam tulen di St. Petersburg, Rusia, pada tahun 1787 M, kemudian di Astanah (Istanbul] pada tahun 1877 M.
Ada dua pendapat di kalangan para ulama tentang cara penulisan Al-Qur’an (atau imlaa’):
1. Pendapat mayoritas ulama, di antaranya Imam Malik dan Imam Ahmad, bahwa Al-Qur’an wajib ditulis seperti penulisan rasm Utsmani dalam Mushaf Imam, haram menulisnya dengan tulisan yang berbeda dari khath (tulisan) Utsman dalam segala bentuknya dalam penulisan mushaf, sebab rasm ini menunjukkan kepada qiraa’at yang beraneka ragam dalam satu kata.
2. Pendapat sebagian ulama, yaitu Abu Bakar al-Baqillaniy, Izzuddin bin Abdussalam, dan Ibnu Khaldun, bahwa mushaf boleh saja ditulis dengan cara penulisan (rasm imlaa’) yang dikenal khalayak, sebab tidak ada nash yang menetapkan rasm tertentu, dan apa yang terdapat dalam rasm (misalnya penambahan atau penghapusan) bukanlah tauqiif (petunjuk) yang diwahyukan oleh Allah kepada rasul-Nya. Seandainya demikian, tentu kami telah mengimaninya dan berusaha mengikutinya. Namun, kalau mushaf ditulis dengan metode imlaa’ modern, ini memungkinkan untuk dibaca dan dihafal dengan benar.
Komisi Fatwa di al-Azhar dan ulama-ulama Mesir yang lain memandang bahwa lebih baik mengikuti cara penulisan mushaf yang ma’tsur, demi kehati-hatian agar Al-Qur’an tetap seperti aslinya dalam bacaan maupun penulisannya, dan demi memelihara cara penulisannya dalam era-era Islam yang lampau (yang mana tak ada riwayat satu pun imam ahli ijtihad bahwa mereka ingin mengubah ejaan mushaf dari penulisan rasmnya terdahulu), serta untuk mengetahui qiraa’at yang dapat diterima dan yang tidak. Oleh karena itu, dalam masalah ini tidak dibuka bab istihsaan yang mengakibatkan Al-Qur’an mengalami pengubahan dan penggantian, atau dipermainkan, atau diperlakukan ayat-ayatnya sesuka hati dalam hal penulisan. Akan tetapi, tidak ada salahnya, menurut pendapat mayoritas ulama, menulis Al-Qur’an dengan cara modern dalam proses belajar mengajar, atau ketika berdalil dengan satu ayat atau lebih dalam sebagian buku karangan modern, atau dalam buku-buku Departemen Pendidikan, atau pada waktu menayangkannya di layar televisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s