Tafsir Al Baqarah Ayat 30-39

Al Baqarah ayat 30-33
Manusia dijadikan sebagai khalifah di muka bumi dan diajari banyak bahasa (ilmu)

Kisah, atau dialog yang terjadi antara Allah Ta’ala dengan para malaikat-Nya, ini adalah semacam perumpamaan, dengan menampilkan makna-makna abstrak/ringkasan dalam bentuk hal-hal yang kasat mata agar lebih mudah dipahami akal manusia. Dalam kisah ini dijelaskan betapa tingginya Allah memuliakan manusia, yaitu dengan dipilihnya Adam sebagai khalifah di muka bumi serta diajarinya bahasa-bahasa yang tidak diketahui oleh para malaikat. Hal ini mengharuskan manusia beriman kepada sang Pencipta yang Mahamulia ini. Siapa pun tidak patut ingkar dan menentang. Kisah ini masih merupakan lanjutan ayat-ayat sebelumnya yang berisi celaan terhadap orang-orang kafir dan mengingatkan mereka akan karunia-karunia Allah kepada mereka.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٠) وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٣١) قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (٣٢) قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (٣٣

30. Wahai Muhammad, tuturkan kepada kaummu tentang kisah penciptaan kakek moyang mereka: Adam, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi yang akan menempati, mendiami dan mengelolanya, melaksanakan hukum-hukum-Ku terhadap umat manusia di sana, dan generasi demi generasi setelahnya akan bergantian melaksanakan semua misinya hingga alam menjadi berpenghuni.” Mereka, para malaikat bertanya-tanya dengan penuh rasa heran dan ingin tahu, bukan sebagai protes dan ungkapan rasa dengki, berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan mengangkat khalifah ini, padahal di antara keturunannya nanti ada orang yang merusak di bumi dengan berbuat maksiat dan menumpahkan darah (membunuh) secara lalim di sana? Perbuatan mereka timbul atas dorongan kehendak dan pilihan mereka sendiri, mereka pun diciptakan dari tanah liat, dan bahan ini menjadi bagian dari diri mereka; dan siapa pun yang keadaannya demikian maka dia lebih dekat kepada kesalahan. Mereka kalangan pelaku maksiat dan bukannya dari kalangan yang senantiasa taat, padahal Engkaulah Tuhan Yang Maha Bijaksana, Yang hanya melakukan yang terbaik, dan Yang hanya menghendaki yang Terbaik?. Para malaikat mengetahuinya karena telah diberitahu oleh Allah atau mereka mengetahuinya dari catatan Lauhul Mahfuzh, atau sudah tertanam dalam pengetahuan mereka bahwa hanya para malaikatlah makhluk yang maksum sedangkan semua makhluk selain mereka tidak memiliki sifat seperti mereka, atau mereka mengiaskan manusia pada jin yang dulu mendiami bumi lalu membuat kerusakan di sana sebelum ditinggali para malaikat, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu dan menaati-Mu?”, Kata-kata “nuqaddisu laka” memiliki dua makna: pertama, berarti “kami menyucikan-Mu karena-Mu” lam di ayat tersebut menunjukkan takhshis (pengkhususan kepada Allah saja) dan menunjukkan ikhlas (karena Allah). Kedua, berarti “Kami menyucikan diri kami dari akhlak buruk karena-Mu dan kami isi dengan akhlak mulia seperti cinta kepada-Mu, takut dan mengagungkan-Mu”. Maka Dia Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya aku mengetahui apa maslahat di balik pemilihan dirinya sebagai khalifah meskipun maslahat itu tersembunyi bagi kalian. Aku mengetahui bagaimana bumi diperbaiki dan dihuni serta siapa yang paling cocok menghuninya. Dalam menciptakan makhluk Aku punya hikmah yang tidak kamu ketahui. Persaingan yang muncul di antara sesama manusia untuk memperoleh keuntungan, pertentangan mereka dalam mempertahankan kelangsungan hidup, serta egoisme mereka merupakan faktor paling kuat yang akan memajukan alam. Dengan adanya kebaikan dan kejahatan dunia akan menjadi baik. Dengan ini akan tampak hikmah pengutusan para rasul, pengujian manusia dan jihad melawan nafsu. Agar ayat-ayat-Nya nampak jelas bagi makhluk-Nya serta dapat dilakukan ibadah yang tidak bisa dilakukan selain oleh kalangan manusia seperti jihad dan lainnya, diuji-Nya mereka (manusia) akankah mereka mau ta’at kepada-Nya dengan kecenderungan yang ada dalam diri mereka ke arah kebaikan dan keburukan, demikian juga agar semakin jelas mana wali-Nya dan mana musuh-Nya, siapa yang berhak menempati surga-Nya dan siapa yang berhak menempati neraka-Nya, agar nampak jelas karunia dan keadilan-Nya, dan agar kelihatan jelas apa yang disembunyikan oleh Iblis berupa keburukan serta hikmah-hikmah lainnya. Firman ini mengimbau para malaikat agar menyadari bahwa perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala sangat dalam hikmahnya dan sangat sempurna. “

31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) materiil yang mendiami dunia semuanya, kemudian Dia perlihatkan benda-benda yang punya nama itu kepada para malaikat untuk menguji mereka seraya berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama (semua) benda ini jika kamu yang benar!” dalam menganggap diri kalian lebih pantas menjadi khalifah di muka bumi daripada Adam dan keturunannya. Dalam hal ini terkandung isyarat bahwa Adam lebih utama daripada malaikat: dia dipilih dan diajari perkara yang  tidak diketahui para malaikat. Maka para malaikat tidak dapat membanggakan diri atas Adam.

32. Ternyata para malaikat tak mampu menyebutkan nama-nama benda yang diperlihatkan kepada mereka, akhirnya Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau dari segala kekurangan, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui segala sesuatu lagi Mahabijaksana dalam semua tindakan. Hikmah atau bijaksana artinya adalah tepat, yakni menempatkan sesuatu pada posisi yang layak. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa jika samar bagi seorang hamba hikmah Allah menciptakan sesuatu atau memerintahkan sesuatu, maka kewajibannya adalah tunduk dan menerima.”

33. Setelah itu Allah Yang Mahaagung  berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda yang mereka tak sanggup ketahui itu dan mereka akui bahwa mereka tidak mengetahuinya. Setelah dia (Adam) menyebutkan, memberitahukan nama-namanya. Para malaikat menyadari rahasia di balik penunjukan Adam dan keturunannya sebagai khalifah, mereka sadar bahwa mereka tidak cocok untuk mengurusi hal-hal yang bersifat materi, padahal dunia tidak bisa bertahan tanpanya, sebab para Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan Adam diciptakan dari tanah liat dan materi menjadi bagian dari dirinya. Dalam situasi demikian Allah Ta’ala berfirman kepada para Malaikat : “Bukankah sudah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, begitu pula hal-hal yang nyata? Aku tidak menciptakan khalifah di bumi secara sia-sia. Aku tahu perkara yang lahir maupun batin,  dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?”, misalnya seperti perkataan kalian- sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas-: “Allah tidak akan menciptakan Makhluk yang lebih mulia daripada kita. Karena itu kitalah yang lebih berhak menjadi khalifah di bumi (Tafsir Ibnu Katsir (1/71). Ini adalah salah satu segi penakwilan ayat ini.

Kesimpulan Ayat 30-33:
Pertama: Ayat-ayat ini menunjukkan pemuliaan manusia yang dijadikan Allah sebagai khalifah di bumi ini dalam menjalankan perintah-perintah-Nya di antara sesama manusia.
Hikmah dibalik penunjukan Adam sebagai khalifah adalah rahmat kepada umat manusia. Alasannya, manusia tidak sanggup menerima perintah-perintah dan larangan-larangan Allah tanpa perantara. Maka sebagai bentuk rahmat-Nya, Dia mengutus para rasul dari jenis manusia sendiri.
Ayat ini menjadi dasar dalam masalah pengangkatan seorang kepala negara, seorang khalifah yang dipatuhi dan ditaati, disetujui seluruh rakyat, dan dilaksanakan keputusan-keputusan hukumnya.
Dalil-dalil yang digunakan antara lain firman Allah Ta’ala,
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah:30)
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi.” (Shaad: 26)
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (an-Nuur: 55)
Artinya, Dia akan menjadikan mereka khalifah di bumi.
Cara pemilihan kepala negara ada tiga:
1. Penunjukan oleh kepala negara sebelumnya, sebagaimana Nabi saw. menunjuk Abu Bakar -secara isyarat- dan Abu Bakar menunjuk Umar.
2. Pemilihan yang dilakukan oleh sekelompok orang, sebagaimana dilakukan oleh Umar: Pemilihan terserah kepada mereka. Merekalah yang akan menentukan salah satu dari mereka untuk menjadi khalifah. Hal ini seperti yang dilakukan para sahabat dalam menunjuk Utsman bin Affan r.a.
3. Ijmak ahlul halli wal ‘aqdi, yang secara bahasa artinya “orang yang berwenang melepaskan dan mengikat.” Disebut “mengikat” karena keputusannya mengikat orang-orang yang mengangkat ahlul halli; dan disebut “melepaskan” karena mereka yang duduk disitu bisa melepaskan dan tidak memilih orang-orang tertentu yang tidak disepakati. Anggotanya adalah perwakilan dari orang-orang yang berpengaruh seperti para ulama, pemimpin dan orang penting atau terkemuka di dalam umat, karena dalam wilayah yang luas dan umat yang banyak tidak mungkin satu orang diwakili satu orang.
Kedua: Bahwa Allah memberi tahu para malaikat tentang penciptaan Adam dan penunjukannya menjadi khalifah di bumi, mengajar hamba-hamba-Nya tentang musyawarah dalam segala urusan mereka. Perkataan para malaikat “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya” bukan protes atau dengki kepada Adam dan anak cucunya, melainkan sekedar pertanyaan yang didasari rasa ingin tahu dan ingin menyingkap hikmah di balik hal itu.
Ketiga: Pada ayat: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya”, mengandung makna bahwa bahasa bersifat tauqiifiy. Artinya, Allah Ta’ala telah menciptakan ‘ilmun dharuuriy (pengetahuan dasar) mengenai kata-kata dan makna-makna itu serta menciptakan pengetahuan bahwa kata-kata tersebut dipakai untuk mengungkapkan makna-makna itu.
Keempat: Ayat mengenai pengajaran Adam tentang berbagai jenis makhluk yang diciptakan Allah serta Adam diberi-Nya ilham untuk mengetahui bendanya, karakteristik dan sifat-sifatnya, serta nama-namanya, menunjukkan keutamaan ilmu pengetahuan. Hikmah penciptaan Adam a.s. yang ditampilkan Allah SWT tidak lain adalah pengetahuannya. Sekiranya ada sesuatu yang lebih mulia daripada pengetahuan, tentu yang mesti ditampilkan adalah sesuatu tersebut, bukan ilmu pengetahuan.
Hikmah yang terkandung dalam pengajaran Adam dan pengutaraan benda-benda kepada para malaikat adalah pemuliaan dan pemilihan Adam agar para malaikat tidak dapat membanggakan diri atasnya lantaran ilmu pengetahuan yang mereka miliki, serta hikmahnya pula memperlihatkan rahasia-rahasia dan ilmu-ilmu yang terpendam dalam ilmu-Nya yang gaib melalui perkataan siapapun yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.
Kelima: Ayat “Jika kalian memang orang-orang yang benar” menunjukkan bahwa suatu dakwah/tuntutan tidak perlu dipertimbangkan kecuali jika dikuatkan dengan bukti, dan bahwa penuntut diharuskan membeberkan bukti untuk menguatkan tuntutannya.
Keenam: Firman-Nya “haaulaai” mengisyaratkan bahwa Allah menamai benda-benda yang terjangkau oleh pancaindra.
Ketujuh: Perkataan para malaikat “Mereka menjawab: ‘Mahasuci Engkau” menunjukkan keterbatasan pengetahuan semua makhluk jika dibandingkan dengan pengetahuan sang Pencipta, menunjukkan pula bahwa perbuatan sang Pencipta tidak lepas dari hikmah dan faedah, serta pengetahuan malaikat terbatas, tidak meliputi semua hal. Bagi orang yang ditanya tentang suatu perkara yang tidak diketahuinya, dia mesti berkata, “Allahu a’lam (Allah lebih tahu). Aku tak tahu.” Hal ini mencontoh para malaikat, para nabi, dan para ulama terkemuka.
Kedelapan: Ayat-ayat yang menceritakan bagaimana Adam diberi tahu tentang nama benda-benda menunjukkan dengan jelas betapa mulianya manusia dibanding makhluk-makhluk lain, juga betapa besar keutamaan ilmu dibanding ibadah. Para malaikat lebih banyak ibadahnya daripada Adam. Namun meski demikian, mereka tak mendapat kelayakan untuk menjadi khalifah. Ayat-ayat tersebut juga menunjukkan bahwa syarat untuk menjadi khalifah adalah punya ilmu pengetahuan, dan bahwa Adam lebih utama daripada malaikat.
Kesembilan: Menjadikan malaikat, yang tidak membutuhkan apa-apa dari bumi sebagai khalifah, tidak merealisasikan hikmah penunjukan manusia sebagai khalifah, yaitu: mengungkap rahasia-rahasia alam, mendiami bumi, dan menggali berbagai rezeki, tanaman dan barang tambang bumi; juga tidak akan mendatangkan kemajuan bagi ilmu dan seni yang telah kita saksikan berkembangannya hingga saat ini.

Ayat 34-39: Menerangkan kisah sujudnya malaikat kepada Adam ‘alaihis salam dan sikap Iblis terhadapnya

Ini adalah bentuk yang lain dari pemuliaan Allah kepada bapak kita: Adam, kakek moyang umat manusia. Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepadanya, sebagaimana Dia secara khusus menjadikannya sebagai khalifah di bumi dan mengajarinya nama benda-benda dan berbagai bahasa. Ini menunjukkan pemuliaan spesies manusia dengan pemuliaan kakek moyangnya.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (٣٤) وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ (٣٥) فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ (٣٦) فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (٣٧) قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٣٨) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٣٩

34. Ceritakan pula kepada kaummu, wahai Muhammad, Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” sebagai bentuk ketundukan, salam dan pemuliaan, bukan sujud ibadah dan penuhanan seperti yang dilakukan orang-orang kafir terhadap berhala-berhala mereka. Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir. Iblis enggan untuk sujud karena merasa dirinya lebih tinggi daripada Adam, seraya berkata, “Mengapa aku bersujud kepadanya padahal aku lebih baik daripada dirinya? Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah liat.” Lantaran keengganannya, takabburnya, dan kebanggaannya atas dirinya maka dia termasuk orang-orang kafir sehingga ia mendapat laknat sampai hari Kiamat karena mendurhakai perintah Tuhannya dan menolak bersujud kepada Adam.

Pemahaman ayat 34:
Bahwa Adam dan keturunannya tidak pantas mendurhakai perintah-perintah Allah. Semestinya mereka menyembah-Nya semata, tanpa berlambat-lambat dan melalaikan. Karena Allah telah memuliakan anak Adam dalam firman-Nya “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam” (al-Israa’:70), menjadikan Adam sebagai khalifah di muka bumi, dan mengajarinya hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui.
Dengan menuturkan kisah Iblis, Allah Ta’ala bermaksud mencela anak cucu Adam yang bersikap serupa dengannya, seperti orang-orang Yahudi yang ingkar kepada Nabi Muhammad saw. padahal mereka mengetahui kenabiannya dan mereka pun sejak dahulu kala telah mendapat banyak karunia Allah.
Malaikat dan setan adalah arwah yang punya hubungan dengan manusia. Kita tidak mengetahui hakikatnya, tetapi kita beriman kepada nash-nash yang menyebut tentangnya, tanpa membahas bagaimana keadaannya sekarang dan nasibnya kelak.
Sujud ada dua macam. Pertama, sujud ibadah dan penuhanan. Ini dilakukan hanya kepada Allah semata, tidak boleh dilakukan kepada selain Allah. Sujud ini ada dua bentuk: meletakkan dahi di atas tanah (inilah yang biasa dilakukan dalam sholat) dan tunduk kepada kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya,
وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدانِ [الرحمن 55/ 6]
“Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.” (ar-Rahmaan:6)
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّماواتِ وَالْأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً [الرعد 13/ 15]
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri atau pun terpaksa.” (ar-Ra’d:15)
Kedua: sujud salam dan pemuliaan tanpa unsur penuhanan. Misalnya, sujudnya para malaikat kepada Adam dan sujudnya Ya’qub dan putra-putranya kepada Yusuf. Sujud ini menurut mayoritas ulama hukumnya mubah dari zaman dulu hingga masa Rasulullah saw.. Para sahabat pernah berkata kepada beliau tatkala ada sebatang pohon dan seekor unta bersujud kepada beliau-, “Kami lebih patut untuk bersujud kepadamu daripada pohon dan unta yang terlepas.” Maka beliau bersabda kepada mereka,
لا ينبغي أن يسجد لأحد إلا لله رب العالمين
“Tak seorang pun, selain Allah Tuhan alam semesta, yang pantas menerima sujud.”
Nabi saw. pernah melarang bersujud kepada sesama manusia dan memerintahkan berjabat tangan, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Busti dari Abu Waqid dari Mu’adz bin Jabal r.a.
Adapun tentang hakikat iblis adalah termasuk golongan jin, dan jin adalah salah satu suku di kalangan malaikat. Mereka diciptakan dari api, dan iblis berasal dari mereka.
وَإِذْ قُلْنا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ، فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كانَ مِنَ الْجِنِّ، فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ [الكهف 18/ 50]
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (al-Kahfi:50)
Dari kisah ini dan dari fakta bahwa Allah sebelumnya sudah mengetahui kekafiran Iblis, dapat ditarik kesimpulan bahwa siapa pun-yang bukan nabi-yang Allah perlihatkan pada dirinya kesaktian dan hal-hal yang luar biasa maka itu tidak menunjukkan bahwa dia adalah seorang wali. Sebab “wali Allah” adalah orang yang diketahui oleh Allah bahwa dia tidak mati kecuali dalam keadaan beriman.”

35. Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini [Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan namanya, sebab Al Quran dan As Sunnah tidak menerangkannya. Mendekati pohon itu bagi Adam dan Hawa merupakan kemaksiatan sehingga mereka akan tergolong orang-orang yang melanggar perintah Allah. Allah Ta’ala melarang memakan buah pohon itu sebagai ujian atau karena hikmah yang kita tidak mengetahuinya], nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Pemahaman Ayat:
1. Perintah mendiami surga dengan tenang ditujukan kepada Adam dan istrinya- berdua saja- tidak bersama anak cucu karena mereka tidak akan beranak cucu di dalam surga.
2. Larangan mendekati adalah lebih ketat daripada yang tertuju pada objek secara langsung. Biasanya larangan mendekati tertuju pada hal-hal yang mengandung rangsangan kuat, seperti hubungan seks yang haram (perzinahan) maupun yang halal (istri) tetapi ada kondisi yang melarangnya seperti dalam keadaan beriktikaf.

36. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga [Adam dan Hawa dengan tipu daya dan bisikan setan akhirnya memakan buah pohon yang dilarang itu, yang mengakibatkan keduanya keluar dari surga. yang dimaksud dengan setan di sini ialah iblis yang disebut dalam surat Al Baqarah ayat 34 di atas] sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga) [Maksud Keadaan semula ialah kenikmatan, kemewahan dan kemuliaan hidup dalam surga]. Kami berfirman, “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain [Yakni Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis dan keturunannya, dan sudah menjadi maklum bagi yang namanya musuh tentu akan berusaha sekuat tenaga menimpakan madharat kepada musuhnya, mendatangkan keburukan dengan berbagai cara dan menghalanginya dari memperoleh kebaikan. Dalam ayat tersebut terdapat peringatan Allah Ta’ala kepada bani Adam agar waspada terhadap setan], dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan [Ayat ini menerangkan bahwa dunia yang kita tempati ini bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya dan bahwa kita hidup di dunia hanya sementara sebagai ladang beramal menuju akhirat].”

37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat [Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Allah yang diterima oleh Adam sebagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertobat, yaitu ucapan “Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa…dst (lih. Surat Al A’raaf: 23)] dari Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat [Tobat dari-Nya ada dua; diberi-Nya taufiq (dorongan) untuk bertobat dan diterima-Nya tobat seseorang ketika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Diberi-Nya taufiq untuk bertobat termasuk kasih sayang-Nya sebagaimana diajarkan-Nya kepada Adam kalimat untuk bertobat] lagi Maha Penyayang.

38. Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku [Dari rasul dan kitab yang dibawanya kepada kamu wahai jin dan manusia] kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku [Yaitu dengan beriman kepada rasul tersebut dan kitab yang dibawanya serta menjadikannya sebagai petunjuk; dengan membenarkan berita yang mereka sampaikan dan yang tercantum dalam kitab-kitab itu serta mengikuti perintah yang ada dan menjauhi larangannya], tidak ada kekhawatiran atas mereka[Terhadap hal yang akan datang dari perkara akhirat], dan mereka tidak bersedih hati [Terhadap hal yang telah luput dari perkara dunia. Khawatir itu terjadi karena sesuatu yang tidak disukainya bisa menimpanya di masa mendatang, sedangkan kesedihan terjadi karena sesuatu yang tidak disukai telah menimpa di masa lalu. Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala menghilangkan kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mereka akan memperoleh keamanan yang sempurna. Di dalam ayat lain, yaitu surat Thaahaa ayat 23 diterangkan bahwa orang yang mau mengikuti petunjuk Allah, maka ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, yakni menunjukkan ia akan memperoleh petunjuk (lawan sesat) dan akan memperoleh kebahagiaan (lawan celaka). Dengan demikian, orang yang mau mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh kemananan, petunjuk dan kebahagiaan di dunia dan akhirat –nas’alullah an yaj’alanaa minhum-.]“.

39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka [Dalam ayat tersebut digunakan lafaz “as-haab” jamak dari kata shaahib yang artinya “kawan”, yakni mereka itu kawan-kawan neraka yang selalu bersama dengannya sebagaimana bersamanya seseorang dengan kawannya]. Mereka kekal di dalamnya [Ayat 38 dan 39 menunjukkan bahwa manusia dan jin terbagi dua ada yang berbahagia dan ada yang celaka, di masing-masing ayat tersebut disebutkan sifat golongan yang berbahagia dan golongan yang celaka serta amalan yang menjadi sebabnya, demikian juga menunjukkan bahwa jin dan manusia sama dalam hal pahala dan siksa serta dalam hal kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s