Tafsir Ar Ruum Ayat 46-60

Ayat 46-53: Bukti kekuasaan Allah dan keesaan-Nya pada alam semesta, memperhatikan alam dapat menambah keyakinan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan bahwa hidayah berasal dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

  وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٤٦)

46. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya[Yakni di antara tanda yang menunjukkan rahmat-Nya, bahwa Dia akan membangkitkan manusia yang telah mati, dan bahwa Dia yang berhak disembah dan Penguasa Yang Maha terpuji] adalah bahwa Dia mengirimkan angin[Sebelum turunnya hujan] sebagai pembawa berita gembira[Pembawa berita gembira akan turunnya hujan, di mana angin itu menggerakkan awan, lalu mengumpulkannya sehingga jiwa manusia merasa gembira sebelum turunnya. Dari hujan itu tumbuhlah biji-biji yang telah disemaikan dan menghijaulah tanaman-tanaman serta berbuahlah pohon-pohonan dan sebagainya sehingga jiwa manusia bergembira] dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya[Yaitu hujan dan kesuburan. Sehingga kamu merasakan bahwa rahmat Allah itulah yang menyelamatkan hamba dan mendatangkan rezeki, dengan begitu kamu ingin beramal saleh yang sesungguhnya membuka perbendaharaan rahmat] dan agar kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya[Yaitu dengan seizin Allah atau perintah-Nya yang qadari (menjadi taqdir-Nya) terhadap alam semesta] dan (juga) agar kamu dapat mencari sebagian dari karunia-Nya[Seperti dapat mengimpor dan mengekspor barang untuk diperdagangkan, sehingga memperoleh keuntungan], dan agar kamu bersyukur[Terhadap nikmat-nikmat-Nya sehingga kamu mentauhidkan-Nya, karena Dia telah menundukkan semua sebab untuk manusia, menjalankan semua urusan untuk mereka. Inilah maksud dari nikmat yang diberikan, yakni agar disikapi dengan bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, agar Dia menambah dan mengekalkan nikmat itu kepada kita. Adapun menyikapi nikmat-Nya dengan kufur dan berbuat maksiat, maka ini adalah keadaan orang yang merubah nikmat Allah dengan kekafiran dan merubah nikmat-Nya menjadi cobaan, sehingga siap untuk hilangnya nikmat itu dan berpindah kepada yang lain].

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ (٤٧)

47. Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelum engkau (Muhammad) beberapa orang rasul kepada kaumnya[Yakni ketika mereka tidak mentauhidkan Allah dan mendustakan yang hak, maka rasul-rasul mereka datang mengajak mereka kepada tauhid dan ikhlas, membenarkan yang hak, membatalkan kekafiran dan kesesatan yang ada pada mereka, rasul-rasul tersebut juga membawa bukti-bukti yang menunjukkan kebenaran mereka (mukjizat), namun mereka tetap saja tidak beriman dan tidak berhenti dari kesesatannya], mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup)[Yang membuktikan kebenaran mereka], lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa[Dengan menyiksa orang yang berdosa dan menolong orang-orang mukmin para pengikut rasul]. Dan merupakan hak Kami menolong orang-orang yang beriman[Oleh karena itu, kalian wahai orang-orang yang mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika tetap di atas sikap itu, maka kamu akan mendapatkan hukuman-Nya dan Allah akan menolong Beliau].

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (٤٨)

48. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang sempurnanya kekuasaan-Nya dan sempurnanya nikmat-Nya, bahwa]Allahlah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya[Yakni tidak turun sekaligus sehingga menghasilkan maslahat bagi manusia], maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira[Sebagian mereka memberikan kabar gembira kepada yang lain tentang turunnya, kebutuhan mereka menjadi terpenuhi sehingga mereka bergembira dan senang, padahal sebelumnya mereka telah berputus asa].

وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمُبْلِسِينَ (٤٩)

49. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa.

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَةِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِي الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٥٠)

50. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu[Kekuasaan-Nya tidak dapat ditolak oleh sesuatu meskipun sulit dipikirkan mereka dan akal mereka tidak dapat membayangkannya].

وَلَئِنْ أَرْسَلْنَا رِيحًا فَرَأَوْهُ مُصْفَرًّا لَظَلُّوا مِنْ بَعْدِهِ يَكْفُرُونَ (٥١)

51. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan keadaan makhluk-Nya, bahwa mereka di samping memperoleh nikmat yang banyak itu, jika sekiranya Allah mengirimkan angin besar yang menimpa tumbuhan-tumbuhan mereka yang baru tumbuh hasil siraman hujan itu, lalu mereka melihatnya menjadi kuning]Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihat (tumbuh-tumbuhan itu) menjadi kuning (kering), niscaya setelah itu mereka tetap ingkar[Mereka akan lupa terhadap nikmat-nikmat yang lalu dan segera kufur kepada nikmat-Nya].

فَإِنَّكَ لا تُسْمِعُ الْمَوْتَى وَلا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ (٥٢)

52. Maka sungguh, engkau tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu dapat mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, (terlebih) apabila mereka berpaling ke belakang[Orang-orang kafir itu disamakan Allah dengan orang-orang mati yang tidak mungkin lagi mendengarkan pelajaran-pelajaran. Demikian pula disamakan dengan orang-orang tuli yang tidak bisa mendengar panggilan sama sekali, terlebih apabila mereka sedang membelakangi kita].

وَمَا أَنْتَ بِهَادِ الْعُمْيِ عَنْ ضَلالَتِهِمْ إِنْ تُسْمِعُ إِلا مَنْ يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ مُسْلِمُونَ (٥٣)

53. Dan engkau tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya[Disebabkan kebutaan mata hatinya itu]. Dan engkau tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Allah) kecuali kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami[Kepada merekalah bermanfaat memperdengarkan petunjuk, mereka mengimani ayat-ayat Allah dengan hati mereka, tunduk mengerjakan perintah-Nya lagi berserah diri kepada-Nya. Hal itu, karena pada mereka terdapat pendorong yang kuat untuk menerima nasehat dan pelajaran, yaitu kesiapan mereka beriman kepada setiap ayat Allah dan kesiapan mereka untuk melaksanakan perintah Allah yang mampu mereka lakukan], maka mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami)[Dengan mentauhidkan Allah].

Ayat 54-55: Kekuasaan Allah dalam penciptaan-Nya terhadap manusia dari sejak lahir hingga matinya kemudian dibangkitkan-Nya.

  اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ (٥٤)

54. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang luasnya ilmu-Nya, besarnya kemampuan-Nya dan sempurnanya hikmah-Nya]Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah[Yaitu air mani yang hina, selanjutnya berubah menjadi segumpal darah dan berubah menjadi segumpal daging sampai menjadi makhluk hidup dalam rahim, selanjutnya ia dilahirkan], kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu[Yakni masa kanak-kanak] menjadi kuat[di usia muda, dewasa, dan usia seorang bapak di mana keadaan lahir dan batinnya telah sempurna], kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu[maka ia sedikit demi sedikit menjadi] lemah (kembali)[di masa tua] dan beruban [serta pikun]. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki[Sesuai kebijaksanaan-Nya. Termasuk kebijaksanaan-Nya adalah Dia memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya kekuatan mereka yang diliputi oleh dua kelemahan; ketika kecil dan ketika sudah tua, di mana hal ini menunjukkan kekurangannya. Jika bukan karena penguatan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala, tentu dia tidak akan sampai pada usia kuat dan memiliki kemampuan. Di samping itu, jika kekuatannya semakin bertambah, tentu dia akan bersikap sombong dan melampuai batas serta berbuat yang semena-mena. Selain itu, agar manusia mengetahui sempurnanya kemampuan Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang senantiasa kekal, di mana dengan kemampuan-Nya Dia menciptakan segala sesuatu, mengatur segala urusan tanpa merasakan kelemahan dan kelelahan]. Dan Dia Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ (٥٥)

55. Dan pada hari (ketika) terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa[Yakni orang-orang kafir] bersumpah, bahwa mereka berdiam (dalam kubur) hanya sesaat (saja)[Ini adalah pengajuan uzur mereka dengan maksud agar permohonan maaf mereka diterima]. Begitulah dahulu mereka dipalingkan (dari kebenaran)[Maksudnya, sebagaimana mereka di dunia dipalingkan dari kebenaran dan malah berkata dusta, mereka mendustakan yang hak yang dibawa para rasul, sehingga di akhirat mereka juga dipalingkan dari perkataan yang hak (benar) tentang lama tinggal mereka di kubur, mereka mengingkari perkara yang dapat dirasakan, yaitu lamanya tingga di dunia, dan seorang hamba nanti akan dibangkitkan sesuai keadaan yang dia pegang sampai matinya].

Ayat 56-60: Keadaan orang-orang kafir pada hari Kiamat, perintah memperhatikan perumpamaan yang terdapat dalam Al Qur’an dan pentingnya sabar di atas kebenaran.

 وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالإيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٥٦)

56. Dan orang-orang yang diberi ilmu dan keimanan[Allah mengaruniakan kepada mereka ilmu dan keimanan, sehingga mereka disifati sebagai orang yang berilmu dan beriman, mereka tahu yang hak dan mengutamakannya karena keimanan mereka. Oleh karena mereka tahu yang hak dan mengutamakannya, maka ucapan mereka pun sesuai dengan kenyataan dan sejalan dengan keadaan mereka. Karenanya, mereka berkata yang benar] berkata (kepada orang-orang kafir), “Sungguh, kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah[Yakni qadha’ dan qadar-Nya yang ditetapkan-Nya untuk kamu], sampai hari berbangkit[Maksudnya sampai waktu di mana biasanya manusia sadar dan berpikir serta bersikap bijaksana, dan seterusnya sampai tiba hari berbangkit]. Maka inilah hari berbangkit itu[Yang kamu ingkari], tetapi kamu tidak mengetahui(nya)[Oleh karena ketidaktahuan kamu itu, kamu mengingkarinya di dunia, kamu mengingkari waktu kamu tinggal di dunia, padahal pada waktu tersebut kamu bisa kembali dan bertobat, tetapi ketidaktahuan menjadi ciri khasmu, di mana pengaruhnya adalah membuat kamu mendustakannya].”

فَيَوْمَئِذٍ لا يَنْفَعُ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَعْذِرَتُهُمْ وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ (٥٧)

57. Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) permintaan maaf[Oleh karena itu, jika mereka mengatakan, bahwa hujjah belum tegak kepada mereka atau mereka tidak memungkinkan untuk beriman, maka jelas sekali kedustaan mereka berdasarkan persaksian ahli ilmu dan iman, demikian pula berdasarkan persaksian kulit, tangan dan kaki mereka nanti di akhirat. Jika mereka meminta kembali ke dunia, maka mereka tidak akan dikembalikan, karena waktu untuk meminta maaf telah hilang, sehingga permohonan maaf mereka tidak diterima] orang-orang yang zalim, dan mereka tidak pula diberi kesempatan bertobat lagi.

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ وَلَئِنْ جِئْتَهُمْ بِآيَةٍ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلا مُبْطِلُونَ (٥٨)

58. Dan sesungguhnya telah Kami jelaskan kepada manusia[Karena perhatian-Nya kepada mereka, rahmat-Nya dan kelembutan-Nya kepada mereka, serta bagusnya pengajaran-Nya] segala macam perumpamaan dalam Al Quran ini[Dengan perumpamaan itu semakin jelaslah hakikat, perkara dapat diketahui dengan jelas, dan hujjah menjadi tegak. Ayat ini umum kepada semua perumpamaan yang Allah buat untuk mendekatkan perkara yang masih dalam bayangan akal dengan perkara yang nyata. Demikian pula pada berita tentang yang akan terjadi dan jelasnya hakikatnya sehingga seakan-akan terjadi. Allah juga menyebutkan hal yang akan terjadi pada hari Kiamat dan keadaan orang-orang yang berdosa serta penyesalan mendalam dari mereka, di mana Dia tidak menerima lagi tobat mereka, akan tetapi orang-orang zalim lagi kafir tidak menghendaki selain membantah yang hak]. Dan jika engkau membawa suatu ayat[Yang membuktikan kebenaran yang engkau bawa] kepada mereka, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata, “Kamu[Yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya] hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka[Yang demikian adalah akibat kekafiran mereka dan beraninya mereka kepada Allah, dan karena kebodohan mereka yang sangat, sehingga Allah mengunci hati mereka].”

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (٥٩)

59. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak (mau) memahami[Oleh karena itu, hati mereka tidak dapat dimasuki kebaikan, tidak dapat mengenal hakikat segala sesuatu, bahkan melihat yang hak sebagai batil dan yang batil sebagai yang hak].

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ (٦٠)

60. Maka bersabarlah engkau (Muhammad)[Di atas perintah-Nya dan berdakwah kepada mereka meskipun engkau melihat mereka berpaling. Janganlah hal itu menghalangimu dari menjalankan tugasmu]. Sungguh, janji Allah itu[Yakni pertolongan-Nya] benar[Hal ini dapat membantu seseorang untuk bersabar, karena seorang hamba apabila mengetahui bahwa amalnya tidak akan sia-sia, bahkan ia akan memperolehnya secara sempurna, maka akan ringan segala derita yang akan dihadapinya dan semua yang susah pun menjadi mudah, dan amal yang banyak pun menjadi sedikit] dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau[Iman dan keyakinan mereka lemah sehingga akalnya pun lemah dan kesabarannya pun ikut lemah. Oleh karena itu, janganlah kamu digelisahkan oleh mereka yang lemah iman itu.
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang kuat iman dan keyakinan, maka akalnya kuat, mudah bersabar, sedangkan orang yang lemah iman dan keyakinan, maka akalnya ikut lemah dan tidak bersabar. Orang yang kuat itu ibarat inti dalam buah, sedangkan yang lemah itu ibarat kulit buah, wallahul mustaa’an].

Selesai tafsir surah Ar Ruum dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s