Tafsir Al Qashash Ayat 14-28

Ayat 14-19: Musa ‘alaihis salam diberi ilham dan hikmah sebagai persiapan untuk menjadi rasul.

  وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٤) 

14. Dan setelah dia (Musa) dewasa[Yakni 30 hingga umur 40 tahun, di dalam surah Yusuf berhenti pada lafaz ini karena Nabi Yusuf telah diberi wahyu ketika kecil, yaitu saat di dalam sumur] dan sempurna akalnya[Yakni 40 tahun], Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan[Maksudnya, pemahaman agama]. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan[Yakni dalam beribadah kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya].

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (١٥)

15. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah[Maksudnya, pada waktu tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat], maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi[Sebab terjadi perkelahian adalah seperti yang diceritakan Qatadah, yaitu, “Orang Qibthi ingin memaksa seorang dari Bani Israil membawa kayu bakar ke dapur Fir’aun, namun ia menolaknya.” Menurut Sa’id bin Jubair, bahwa ia (orang Qibthi) tersebut adalah tukang masak di dapur Fir’aun]; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir’aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya[Karena Musa ‘alaihis salam telah dikenal termasuk Bani Israil], untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya[Maka Nabi Musa ‘alaihis salam menolongnya, dan menolong orang yang terzalimi adalah wajib dalam semua syariat], lalu Musa meninjunya[Beliau (Nabi Musa) ‘alaihis salam adalah seorang yang memiliki tenaga yang kuat], dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, “Ini[Yakni membunuh] adalah perbuatan setan[Maksudnya, Musa menyesal atas kematian orang itu disebabkan pukulannya, karena dia bukanlah bermaksud untuk membunuhnya, tetapi semata-mata membela kaumnya, dan yang demikian merupakan hiasan dan was-was setan]. Sungguh, dia (setan) adalah musuh yang jelas menyesatkan[Oleh karena itulah terjadi perbuatan itu disebabkan permusuhannya yang nyata dan keinginannya untuk menyesatkan manusia].”

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (١٦)

16. Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ (١٧)

17. Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, oleh karena nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku[Seperti diterima tobatnya dan diampuni serta diberikan berbagai nikmat], maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa[Beliau berjanji tidak akan menolong seorang pun di atas maksiat atau tidak akan menolong orang yang bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang diberikan menghendaki agar seorang hamba mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan].”

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي اسْتَنْصَرَهُ بِالأمْسِ يَسْتَصْرِخُهُ قَالَ لَهُ مُوسَى إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ (١٨)

18. Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu[Yakni apakah keluarga Fir’aun tahu peristiwa itu atau tidak? Beliau takut, karena sudah diketahui, bahwa tidak ada yang berani berbuat seperti itu selain Musa yang berasal dari Bani Israil] sambil menunggu (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya[Untuk menghadapi orang Qibthi yang lain]. Musa berkata kepadanya[Yakni, mencelanya], “Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat[Karena perbuatanmu yang sekarang dan kemarin].”

فَلَمَّا أَنْ أَرَادَ أَنْ يَبْطِشَ بِالَّذِي هُوَ عَدُوٌّ لَهُمَا قَالَ يَا مُوسَى أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالأمْسِ إِنْ تُرِيدُ إِلا أَنْ تَكُونَ جَبَّارًا فِي الأرْضِ وَمَا تُرِيدُ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُصْلِحِينَ (١٩)

19. Maka ketika dia (Musa) hendak memukul dengan keras orang yang menjadi musuh mereka berdua[yakni orang Qibthi itu, namun orang dari Bani Israil itu malah mengira, bahwa Musa bermaksud memukulnya ketika ia mendengar kata-kata Musa tersebut. Ia pun berkata untuk membela dirinya,], dia berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau hanya bermaksud menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian[Maka orang Qibthi yang berada di situ mendengarnya dan mengetahui bahwa orang yang melakukan pembunuhan kemarin adalah Musa, ia pun segera pergi memberitahukan Fir’aun sehingga Fir’aun marah besar dan hendak membunuh Musa].”

Ayat 20-22: Perginya Musa ‘alaihis salam ke Madyan untuk menyelamatkan diri dari penangkapan Fir’aun.

  وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلأ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ (٢٠)

20. Dan seorang laki-laki[Ada yang mengatakan, bahwa dia adalah orang mukmin dari keluarga Fir’aun] datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.”

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٢١)

21. Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau mengkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu[yakni orang-orang kafir, kaum Fir’aun. MAka Allah mengabulkan do’anya. Ini menunjukkan bahwa terbunuhnya orang Qibti oleh Nabi Musa a.s tanpa maksud membunuhnya bukanlah dosa besar, karena umumnya pemukulan tidaklah menyebabkan kematian, maksudnya adalah untuk menghentikan gangguan orang Qibti pada orang Bani Israil].”

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (٢٢)

22. Dan ketika dia menuju arah negeri Madyan[Madyan adalah negeri Nabi Syu’aib, perjalanan ke sana dari Mesir membutuhkan waktu kurang lebih 8 hari. Madyan tidak berada di bawah kekuasaan Fir’aun] dia berdoa (lagi), “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”

 

Ayat 23-28: Kuatnya fisik Musa ‘alaihis salam, amanahnya dan kesabarannya, dan bahwa malu merupakan sifat yang layak dimiliki kaum wanita.

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (٢٣) 

23. Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan yang sedang menghambat (ternaknya)[Karena mereka tidak mungkin bercampur baur dengan laki-laki yang sedang mengambilkan air minum untuk ternaknya, dan karena bakhilnya mereka, sehingga setelah mereka selesai memberi minum hewan ternak mereka, maka mereka tutup kembali mulut sumur dengan batu yang besar]. Dia (Musa) berkata, “Ada apa dengan kamu berdua[Yakni mengapa kamu tidak memberi minum ternakmu?]?” Kedua perempuan itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya[Tidak kuat untuk memberi minum hewan ternaknya].”

فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (٢٤)

24. Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu[Tanpa meminta upah, dan tidak ada niatnya selain mengharap keridhaan Allah. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa para pengembala ketika selesai mendatangi sumber air, meletakkan di mulut sumur batu yang besar, lalu dua wanita itu datang memberi minum kambingnya dari sisa kambing yang lain.
‘Amr bin Maimun meriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Musa ‘alaihis salam ketika sampai di sumber air Madyan mendapatkan sekumpulan orang yang sedang memberi minum ternaknya. Umar melanjutkan ceritanya, “Setelah mereka selesai (memberi minum), maka mereka bersama-sama mengembalikan batu ke sumur (untuk menutupinya), dan tidak ada yang mampu mengangkatnya kecuali dengan jumlah sepuluh orang. Tiba-tiba Beliau melihat ada dua orang perempuan yang sedang menghambat ternaknya, maka Musa berkata, “Ada apa dengan kamu berdua?” Maka Keduanya menceritakan keadaannya, lalu Musa ‘alaihis salam mendatangi batu itu dan mengangkatnya (sendiri), dan tidak mengambil air kecuali satu ember sehingga kambing-kambing (mereka berdua) puas (meminumnya).” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan isnadnya shahih)], kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa[Permintaan Beliau ini adalah dengan ucapan dan keadaannya; lisan Beliau berdoa, dan keadaan Beliau menunjukkan rasa butuh], “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku[Ayat ini sekaligus mengisyaratkan kepada kita agar senantiasa meminta kepada Allah dalam semua kebutuhan kita, baik yang terkait dengan agama (seperti meminta hidayah dan ampunan), maupun yang terkait dengan dunia (seperti meminta makan, minum dan pakaian). Demikian pula menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala senang diminta oleh hamba-hamba-Nya].”

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٢٥)

25. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu[Hal ini menunjukkan kepribadiannya yang mulia dan akhlaknya yang terpuji, karena malu termasuk akhlak utama, terlebih bagi wanita. Ayat ini juga menunjukkan bahwa sikap Nabi Musa ‘alaihis salam memberi minum kepada keduanya tidaklah sebagai pekerja atau pelayan yang biasanya tidak memiliki rasa malu, bahkan Beliau terhormat. Oleh karena itulah, wanita ini ketika melihat akhlak Musa yang mulia, membuatnya merasa malu dengannya], dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika Musa mendatangi ayahnya[Ahli tafsir berbeda pendapat tentang ayah perempuan itu siapakah dia? Ada yang berpendapat, bahwa ayah itu adalah Nabi Syu’aib inilah yang masyhur, dan di antara ulama yang menyatakan demikian adalah Al Hasan Al Bashri dan Malik bin Anas, bahkan ada hadits yang menegaskan demikian, namun dalam isnadnya perlu dipertimbangkan. Ada pula yang berpendapat bahwa Nabi Syu’aib berumur panjang setelah kaumnya dibinasakan sehingga masih hidup di zaman Nabi Musa dan menikahkan puterinya dengan Musa] dan dia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya)[Sehingga Beliau sampai di tempat ini], dia berkata[Menenangkan rasa kekhawatirannya], “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu[Karena engkau telah berada di tempat yang mereka tidak memiliki kekuasaan terhadapnya].”

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ (٢٦)

26. Salah seorang dari kedua perempuan itu berkata, “Wahai ayahku! Jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita)[Untuk menggembala kambing dan memberi minumnya], sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya[Kedua sifat ini, “Kuat dan amanah” perlu diperhatikan ketika memilih seseorang sebagai karyawannya. Jika kedua-duanya berkumpul bersamaan, maka akan sempurnalah pekerjaan. Umar, Ibnu Abbas, Syuraih Al Qaadhiy, Abu Malik, Qatadah dan lain-lain mengatakan, “Ketika wanita itu mengatakan seperti itu, ayahnya bertanya kepadanya, “Dari mana kamu tahu demikian?” wanita itu menjawab, “Sesungguhnya dia mampu mengangkat batu besar yang tidak mungkin diangkat kecuali oleh sepuluh orang, juga pada saat aku datang (kemari) bersamanya, aku berjalan di depannya, namun ia mengatakan, “Berjalanlah di belakangku, jika hendak melewati jalan lain, lemparlah batu kecil ini agar aku tahu jalan”].”

قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ  (٢٧)

27. Dia berkata, “Sesungguhnya aku bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau bekerja[Yakni mengembala kambingku] padaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu[Dan tidak wajib kamu lakukan], dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau[Yakni, aku hanyalah membebanimu dengan pekerjaan yang ringan dan tidak berat]. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik[Keinginannya untuk memberikan kemudahan dan bermuamalah secara baik menunjukkan bahwa orang tersebut adalah orang yang saleh].”

قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الأجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ (٢٨)

28. Dia (Musa) berkata, “Itu (perjanjian) antara aku dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan [Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa selanjutnya ayah wanita itu memerintahkan puterinya memberikan tongkat kepada Musa untuk menyingkirkan binatang buas yang akan menerkam kambing-kambingnya].”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s