Tafsir An Nur Ayat 41-54

Ayat 41-45: Kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, fenomena keimanan dan petunjuk di alam semesta dimana semua makhluk melakukan tasbih, serta penjelasan tentang ‘kehidupan’ yang berasal dari satu materi, yaitu air.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ (٤١) 

41. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya tentang keagungan-Nya, sempurnanya kekuasaan-Nya dan butuhnya semua makhluk kepada-Nya serta beribadah kepada-Nya]Tidaklah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi[Baik makhluk hidup maupun benda mati], dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya[Masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah dengan ilham dari Allah sesuai keadaannya masing-masing. Kata “Qad ‘alima shalaatahu wa tasbiihah” bisa juga kembalinya kepada Allah, sehingga maksudnya Allah mengetahui shalat dan tasbih masing-masing makhluk-Nya. Hal ini seperti dalam ayat lain yang berbunyi, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Terj. Al Israa’: 44)]. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan[Dia mengetahui semua perbuatan mereka dan tidak ada satu pun dari perbuatan mereka yang samar, dan Dia akan memberikan balasan terhadapnya].

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ (٤٢)

42. [Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan ibadah mereka dan butuhnya mereka kepada-Nya dari sisi ibadah dan mentauhidkan-Nya, Dia menerangkan butuhnya mereka dari sisi kepemilikan, pengaturan dan pengurusan-Nya]Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi[Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan ibadah mereka dan butuhnya mereka kepada-Nya dari sisi ibadah dan mentauhidkan-Nya, Dia menerangkan butuhnya mereka dari sisi kepemilikan, pengaturan dan pengurusan-Nya], dan hanya kepada Allah-lah kembali (seluruh makhluk)[Untuk diberikan balasan].

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالأبْصَارِ (٤٣)

43. Tidakkah engkau melihat[Besarnya keagungan Allah] bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya[Yakni turun rintikan-rintikan secara berhamburan agar terwujud manfaat tanpa menimbulkan bahaya], dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang Dia kehendaki[Sesuai hukum qadari-Nya dan kebijaksanaan-Nya yang terpuji] dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan[Dengan demikian, bukankah Allah -yang mengadakan awan mendung dan mengirimkannya kepada hamba-hamba-Nya yang membutuhkan, dan menurunkannya secara bermanfaat dan tidak menimbulkan bahaya- Mahasempurna kekuasaan-Nya, Mahaberlaku kehendak-Nya dan luas rahmat-Nya?].

يُقَلِّبُ اللَّهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لأولِي الأبْصَارِ (٤٤)

44. Allah mempergantikan malam dan siang[Demikian pula panas ke dingin, dingin ke panas, malam ke siang, dan siang ke malam serta menggilirkan hari-hari kepada hamba-hamba-Nya]. Sungguh pada yang demikian itu, pasti terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (yang tajam)[Sehingga ia memperhatikan pula hikmah di balik itu, berbeda dengan orang yang jahil yang memandangnya seperti binatang memandang].

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَى أَرْبَعٍ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٤٥)

45. Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air[Yakni dari mani, dengan bercampurnya sperma dan ovum. Meskipun materinya sama, yaitu air, namun hasilnya berbeda-beda, di antaranya ada yang berjalan di atas perut, ada yang berjalan di atas kedua kaki, dst. Ini semua menunjukkan berlakunya kehendak Allah ‘Azza wa Jalla], maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya[Seperti ular dan cacing] dan sebagian berjalan dengan dua kaki[Seperti manusia dan burung], sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki[Seperti hewan ternak]. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu[Seperti halnya Dia turunkan hujan dari langit, kemudian air hujan itu bersatu dengan bumi, maka tumbuhlah beraneka macam tumbuh-tumbuhan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Terj. Ar Ra’d: 4)].

Ayat 46-54: Mengisahkan kaum munafik dan bagaimana mereka tidak dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah, perbedaan sikap orang-orang munafik dan orang-orang mukmin dalam berhakim kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٤٦)

46. Sungguh, Kami[Yakni telah menyayangi hamba-hamba Kami] telah menurunkan ayat-ayat yang memberi penjelasan (Al Qur’an)[Yakni jelas dilalah(maksud)nya yang menunjukkan maksud-maksud syar’i, adab-adab yang terpuji, dan pengetahuan yang baik, sehingga menjadi jelaslah jalan yang harus ditempuh, semakin jelas mana yang hak dan mana yang batil sehingga tidak ada lagi syubhat dan kemusykilan, karena ia turun dari Tuhan yang ilmu-Nya sempurna, rahmat-Nya sempurna dan penjelasan-Nya pun sempurna]. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki[Yaitu mereka yang sudah tecatat sejak dahulu akan memperoleh kebaikan] ke jalan yang lurus[Yang menyampaikan seseorang kepada Allah dan kepada tempat istimewa dari-Nya (surga), itulah jalan Islam yang di dalamnya terdapat pengetahuan terhadap yang hak (benar) dan pengamalannya].

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ (٤٧)

47. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan keadaan orang-orang zalim yang dalam hatinya ada penyakit atau kelemahan iman atau ada kemunafikan, keraguan dan kelemahan ilmu, bahwa mereka mengatakan bahwa diri mereka memegang teguh keimanan kepada Allah dan ketaatan, namun kenyataannya mereka tidak melakukan apa yang mereka katakan, dan sebagian dari mereka berpaling jauh dari ketaatan sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, “mu’ridhuun” (berpaling), karena orang yang meninggalkan terkadang memiliki niat untuk kembali, namun orang ini malah berpaling. Kita dapat menemukan keadaan seperti ini, yakni mengaku beriman dan taat namun tidak melakukan banyak ketaatan, khususnya ibadah yang berat bagi jiwa, seperti zakat, nafkah yang wajib maupun yang sunat, jihad fii sabilillah, dsb]Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul (Muhammad), dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (٤٨)

48. Dan apabila mereka diajak kepada Allah[Maksudnya, dipanggil utnuk berhukum kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya] dan Rasul-Nya, agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang[Mereka menginginkan hukum jahiliyyah, mereka mengutamakan undang-undang yang tidak syar’i karena mereka tahu bahwa mereka akan disalahkan, di mana hukum syara’ tidaklah memutuskan kecuali sesuai kenyataan].

وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ (٤٩)

49. Tetapi, jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh[Mereka tunduk kepadanya bukan karena ia adalah hukum syar’i, akan tetapi karena sesuai dengan hawa nafsu mereka. Oleh karenanya mereka dalam hal ini tidaklah terpuji meskipun mereka datang dengan tunduk, karena hamba yang hakiki adalah orang yang mengikuti yang hak baik dalam hal yang ia suka maupun tidak, baik yang membuatnya senang maupun sedih. Adapun orang yang mengikuti syariat karena sesuai hawa nafsu saja, maka ia bukanklah hamba hakiki. Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman mencela mereka karena berpaling dari hukum syar’i].

أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٥٠)

50. Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada penyakit[Yang membuat hatinya tidak sehat], atau (karena) mereka ragu-ragu[Meragukan kebenaran hukum Allah dan Rasul-Nya] ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim[Karena hukum Allah dan Rasul-Nya adalah adil dan tepat (hikmah). Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa iman tidak sebatas di lisan saja bahkan amal pun menjadi bagiannya. Oleh karenanya, Allah menyebut mereka bukan mukmin karena berpaling dari ketaatan. Ayat ini juga menunjukkan wajibnya tunduk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya dalam setiap keadaan, dan bahwa orang yang mengkritiknya berarti ada penyakit dalam hatinya dan ragu-ragu dalam keimanannya. Demikian juga menunjukkan haramnya berburuk sangka terhadap hukum-hukum syariat atau menyangkanya tidak adil atau tidak tepat].

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥١)

51. [Setelah Allah menyebutkan keadaan orang-orang yang berpaling dari hukum syar’i, Dia menyebutkan keadaan orang-orang mukmin]Hanya ucapan orang-orang mukmin[Yang hakiki; yang membenarkan iman mereka dengan amal saleh], yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka[Maksudnya, di antara kaum muslimin dengan kaum muslimin atau di antara kaum muslimin dengan non muslim], mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat[Baik sesuai hawa nafsu mereka maupun tidak].” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung[Yang mendapatkan apa yang dicita-citakan dan selamat dari yang dikhawatirkan].

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (٥٢)

52. [Setelah Allah menyebutkan keutamaan taat dalam hal hukum, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan keutamaan taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal]Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya[Dia membenarkan berita keduanya dan melaksanakan perintahnya] serta takut kepada Allah[Dia takut kepada Allah dengan adanya ma’rifat (mengenal Allah), ia pun meninggalkan apa yang dilarang dan menahan hawa nafsunya] dan bertakwa kepada-Nya[Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan takut kepada Allah ialah takut kepada Allah disebabkan dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan yang dimaksud dengan takwa ialah memelihara diri dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi. Kata takwa apabila disebutkan secara mutlak, maka maksudnya melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, dan apabila disebutkan bersamaan dengan melaksanakan perintah, maka takwa diartikan dengan takut kepada azab Alah dengan meninggalkan maksiat], mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (surga)[an selamat dari neraka. Ayat ini mencakup hak yang di sana terdapat hak Allah dan Rasul-Nya, yaitu taat. Hak yang khusus bagi Allah, yaitu takut dan takwa, dan hak yang khusus bagi Rasul, yaitu membela dan memuliakannya.].

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ قُلْ لا تُقْسِمُوا طَاعَةٌ مَعْرُوفَةٌ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٥٣)

53. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan keadaan orang-orang yang meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berangkat jihad, yaitu golongan kaum munafik, serta orang yang dalam hatinya ada penyakit dan lemah iman]Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah sungguh-sungguh, bahwa jika engkau suruh mereka berperang[Di peperangan selanjutnya], pastilah mereka akan pergi. Katakanlah (Muhammad), “Janganlah kamu bersumpah[Yakni kami tidak butuh kepada sumpah dan udzurmu, karena Allah telah memberitahukan kepada kami berita kamu], (karena yang diminta) adalah ketaatan yang baik[Ada yang menafsirkan, ketaatan kamu sudah diketahui dan tidak samar bagi kami, yaitu hanya di mulut dan tidak sampai dilakukan. Kami telah mengetahui rasa berat dan malas dari kamu tanpa adanya udzur, sehingga kami tidak butuh kepada uzur dan sumpahmu. Sumpah adalah kepada orang yang tidak seperti kamu, yaitu orang yang masih mengandung kemungkinan untuk selalu taat. Adapun kamu, maka tidak. Bahkan yang dinantikan untukmu adalah keputusan Allah dan hukuman-Nya. Oleh karena itu, lanjutan ayatnya mereka diancam dengan firman-Nya, “Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”, yakni Dia akan memberi balasan kepadamu dengan sempurna]. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan[Seperti perkataanmu untuk taat, tetapi kenyataannya menyelisihi].

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (٥٤)

54. Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul[Seperti perkataanmu untuk taat, tetapi kenyataannya menyelisihi]; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya[Yaitu menyampaikan, dan Beliau telah melakukannya], dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu[Yaitu menaati. Namun ternyata kamu tidak berbuat demikian, maka jelas kamu dalam kesesatan dan berhak mendapat azab]. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk[Ke jalan yang lurus]. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas[Yang tidak menyisakan keraguan dan syubhat (kesamaran). Tugas Beliau adalah menerangkan dengan jelas, adapun menghisab, maka hal itu adalah urusan Allah Subhaanahu wa Ta’aala].”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s