Tafsir Al Furqan Ayat 21-34

Juz 19

Ayat 21-29: Kesombongan kaum musyrik sehingga tidak beriman kepada Allah, permintaan mereka agar diturunkan malaikat, batalnya amal mereka, penyesalan mereka karena tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pentingnya memilih teman yang baik.

وَقَالَ الَّذِينَ لا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا (٢١) يَوْمَ يَرَوْنَ الْمَلائِكَةَ لا بُشْرَى يَوْمَئِذٍ لِلْمُجْرِمِينَ وَيَقُولُونَ حِجْرًا مَحْجُورًا       (٢٢) وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (٢٣) أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلا      (٢٤) وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلائِكَةُ تَنْزِيلا  (٢٥) الْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ لِلرَّحْمَنِ وَكَانَ يَوْمًا عَلَى الْكَافِرِينَ عَسِيرًا (٢٦) وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا (٢٧) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا (٢٨) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا (٢٩

21. Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat)[1] berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita[2] atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita[3]?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka[4] dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman[5].”

22. (Ingatlah) pada hari (ketika) mereka melihat para malaikat[6], pada hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa[7] dan mereka berkata, “Hijraan mahjuuraa[8].”

23. Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan[9], lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan[10].

24. Penghuni-penghuni surga[11] pada hari itu paling baik tempat tinggalnya[12] dan paling indah tempat istirahatnya.

25. [13]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan awan putih[14] dan para malaikat diturunkan secara bergelombang[15].

26. Kerajaan yang hak[16] pada hari itu adalah milik Tuhan Yang Maha Pengasih[17]. Dan itulah hari yang sulit bagi orang-orang kafir.

27. [18]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya[19] (menyesali perbuatannya), seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul[20].”

28. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan[21] itu teman akrab(ku).

29. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al Quran) ketika (Al Quran) itu telah datang kepadaku[22]. Dan setan memang pengkhianat manusia[23].

Ayat 30-34: Pengaduan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Tuhannya karena kaumnya tidak peduli terhadap Al Qur’an, bantahan terhadap syubhat orang-orang yang mengingkari turunnya Al Qur’an dan hikmah diturunkan Al Qur’an secara berangsur-angsur.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (٣٠)وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا (٣١) وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا (٣٢) وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا (٣٣) الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ سَبِيلا (٣٤

30. Dan Rasul (Muhammad) berkata[24], “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku[25] telah menjadikan Al Quran ini diabaikan[26].”

31. [27]Begitulah[28], bagi setiap nabi, telah Kami adakan musuh dari orang-orang yang berdosa[29]. Tetapi cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk[30] dan penolong[31].

32. Dan orang-orang kafir berkata[32], “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus[33]?” Demikianlah[34], agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya[35] dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar)[36].

33. Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh[37], melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik[38].

34. Orang-orang yang dikumpulkan di neraka Jahannam[39] dengan diseret wajahnya[40], mereka itulah yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya.


[1] Maksudnya, orang-orang yang mendustakan janji dan ancaman Allah, di mana dalam hati mereka tidak ada rasa takut terhadap ancaman Allah dan tidak berharap bertemu dengan Allah.

[2] Sebagai rasul.

[3] Lalu Dia memberitahu kami bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya.

[4] Karena permintaan mereka untuk melihat Allah di dunia. Nampaknya mereka tidak berkaca terhadap diri mereka, memangnya mereka siapa sampai meminta untuk melihat Allah dan mengira bahwa kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam benar tidaknya tergantung atas hal itu? Kesombongan apalagi yang lebih besar daripada ini.

[5] Hati mereka lebih keras daripada batu, bahkan lebih keras daripada besi sehingga nasehat dan peringatan tidak bermanfaat, dan mereka tidak mau mengikuti kebenaran ketika pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menyikapi orang yang paling jujur dan paling tulus kepada orang lain dan menyikapi ayat-ayat Allah dengan berpaling, mendustakan dan menentangnya. Sungguh kelewatan sekali sikap mereka. Oleh karena itu amal-amal mereka akan batal dan mereka akan rugi serugi-ruginya sebagaimana diterangkan dalam ayat 23.

[6] Yang sebelumnya mereka minta agar diturunkan. Awal mereka melihat malaikat adalah pada saat mereka mati, yaitu ketika malaikat turun hendak mencabut nyawa mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu,” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Terj. Al An’aam: 93) Setelah itu, ketika mereka dikubur, di mana mereka akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir, lalu malaikat itu akan bertanya kepada mereka tentang Tuhan mereka, nabi mereka dan agama mereka. Mereka pun tidak bisa menjawab dengan jawaban yang menyelamatkan mereka, sehingga mereka akan disiksa, dan tidak memperoleh rahmat, kemudian pada hari Kiamat ketika para malaikat menggiring mereka ke neraka lalu menyerahkan kepada para penjaga neraka yang akan menyiksa mereka. Inilah sesungguhnya yang mereka usulkan dan yang mereka minta. Oleh karena itu, jika mereka tetap di atas perbuatan itu, maka mereka akan melihat dan menemui malaikat, dan ketika itu mereka malah berlindung dari malaikat serta berlari, namun tidak ada tempat berlari lagi.

[7] Yakni orang-orang kafir, berbeda dengan orang-orang mukmin yang mendapat kabar gembira dengan surga.

[8] Ini suatu ungkapan yang biasa disebut orang Arab di waktu menemui musuh yang tidak dapat dielakkan lagi atau ditimpa suatu bencana yang tidak dapat dihindari. Ungkapan ini berarti, “Semoga Allah menghindari bahaya ini dari saya”, ada pula yang mengartikan, “Haram lagi diharamkan.” Yakni orang kafir haram mendapatkan kabar gembira, diampuni dosa atau masuk ke surga pada hari itu.

[9] Yang dimaksud dengan amal mereka di sini ialah amal-amal yang mereka harapkan kebaikannya dan mereka bersusah payah melakukannya, yaitu amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia seperti silaturrahim, menjamu tamu, menolong orang yang kesulitan sewaktu di dunia. Amal-amal itu tidak dibalas oleh Allah karena mereka tidak beriman.

[10] Yaitu seperti debu yang berhamburan yang terlihat dari lubang dinding ketika terkena sinar matahari. Diumpamakan seperti itu dalam hal tidak ada pahalanya karena tidak ada syarat untuk diterima, yaitu iman dan karena mereka telah diberi balasan ketika di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً ، أُطعِمَ بِهَا طُعمَةً مِنَ الدُّنيَا ، وَأَمَّا المُؤمِنُ ، فَإِنَّ اللَّه تعـالى يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ في الآخِرَةِ ، وَيُعْقِبُهُ رِزْقاً في الدُّنْيَا عَلى طَاعَتِهِ

“Sesungguhnya orang kafir, apabila mengerjakan amal yang baik, maka akan diberi makanan karenanya di dunia. Adapun orang mukmin, maka Allah Ta’ala akan menyimpan kebaikannya di akhirat dan akan mengaruniakan rezeki di dunia karena ketaatannya.” (HR. Muslim)

[11] Yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan beramal saleh.

[12] Daripada tempat tinggal orang-orang kafir ketika di dunia dan ketika di akhirat.

[13] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan tentang dahsyatnya hari Kiamat, derita dan hal yang menegangkan hati ketika itu.

[14] Awan ini adalah awan yang Allah turun di situ (lihat tafsir As Sa’diy), Dia turun dari atas langit lalu langit terbelah dan para malaikat dari setiap langit turun bergelombang, lalu mereka berdiri berbaris-baris mengelilingi makhluk, wallahu a’lam. Ibnu Katsir berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan tentang kedahsyatan hari Kiamat dan perkara-perkara dahsyat yang terjadi di sana, di antaranya terbelahnya langit dan terpecahnya serta mengeluarkan awan, yakni naungan cahaya yang besar yang menyilaukan penglihatan, turunnya malaikat dari langit-langit pada hari itu, lalu mengepung makhluk di padang mahsyar, kemudian Allah Tabaaraka wa Ta’aala datang untuk memberikan keputusan. Mujahid berkata, “Hal ini sama seperti firman Allah Ta’ala, “Tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan Malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan…dst.” (Terj. Al Baqarah: 210)

Ibnu Abbas berkata, “Langit dunia terbelah, lalu turun penghuninya yang lebih banyak dari penghuni bumi dari kalangan jin dan manusia, kemudian langit kedua terbelah, lalu turun penghuninya yang lebih banyak dari penghuni bumi dari kalangan jin dan manusia, kemudian seterusnya sampai langit ketujuh terbelah, dan penghuni setiap langit lebih banyak lagi daripada penghuni langit sebelumnya, kemudian malaikat Karrubiiyin turun, lalu para malaikat pemikul ‘Arsy.”

[15] Malaikat karena jumlahnya yang banyak dan kuatnya mereka, mereka turun mengelilingi makhluk sambil tunduk kepada perintah Tuhan mereka. Ketika itu, tidak ada seorang pun yang berani berbicara kecuali dengan izin Allah, lalu bagaimana menurutmu tentang manusia yang lemah, khususnya mereka yang berani berhadapan dengan Tuhan mereka dengan perkara-perkara besar yang menunjukkan beraninya mereka terhadap Allah, yang mengerjakan perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya, mengerjakan dosa dan tidak bertobat daripadanya. Ketika itulah, Allah Yang Maha Pengasih memberikan keputusan yang tidak ada kezaliman meskipun seberat dzarrah (debu). Oleh karena itulah hari itu adalah hari yang sangat sulit bagi orang-orang kafir, berbeda dengan orang mukmin yang diringankan bebannya.

[16] Yang dimaksud dengan kerajaan yang hak ialah kekuasaan yang mutlak yang tidak disekutui oleh siapa pun juga.

[17] Tidak ada seorang pun yang bersekutu dalam kerajaan itu. Ketika itu, raja-raja di dunia dengan rakyatnya adalah sama, orang merdeka dengan budak adalah sama, orang-orang terhormat dan orang-orang rendah adalah sama. Dan termasuk yang menenangkan hati dan menenteramkan dada adalah ketika Dia menyandarkan kerajaan-Nya dengan nama-Nya Ar Rahman yang rahmat-Nya mengena kepada segala sesuatu, di mana dengan rahmat-Nya dunia dan akhirat menjadi makmur, dengannya yang kurang menjadi sempurna dan semua kekurangan pun hilang, dan bahwa rahmat-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Saat itu, semua makhluk telah hadir di tempat yang luas dalam keadaan tunduk, hina dan menunggu keputusan Allah apa yang Dia putuskan kepada mereka, sedangkan Dia Maha Pengasih, yang lebih pengasih daripada diri mereka dan daripada ibu-bapak mereka. Jika demikian, menurutmu apa yang dilakukan-Nya kepada mereka? Ketika itu, tidak ada yang celaka di hadapan-Nya kecuali orang yang memang celaka dan tidak ada orang yang keluar dari rahmat-Nya kecuali orang yang dikuasai oleh kecelakaannya dan sudah pantas menerima azab.

[18] Disebutkan dalam Ad Durrul Mantsur juz 5 hal. 68, bahwa Ibnu Mardawaih dan Abu Nu’aim dalam Ad Dalaa’il meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Abu Mu’aith biasa duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah dan tidak menyakitinya. Ia adalah orang yang santun. Oleh karenanya sebagian orang-orang Quraisy apabila duduk bersamanya menyakitinya. Abu Mu’aith memiliki seorang teman yang sedang berada di Syam, lalu orang-orang Quraisy mengatakan, “Abu Mu’aith telah pindah agama,” lalu kawannya datang pada malam hari dari Syam dan bertanya kepada istrinya, “Sudah sampai di mana Muhammad berbuat?” Istrinya berkata, “Perkaranya sudah lebih parah.” Ia bertanya lagi, “Apa yang dilakukan kawanku Abu Mu’aith?” Istrinya menjawab, “Ia telah pindah agama.” Maka semalaman Ia (kawan Abu Mu’aith) merasa gelisah. Ketika tiba pagi harinya, Abu Mu’aith datang lalu mengucapkan salam kepadanya, tetapi salamnya tidak dijawab, maka Abu Mu’aith berkata, “Mengapa engkau tidak menjawab salamku?” Ia menjawab, “Bagaimana aku akan menjawab salammu padahal engkau telah pindah agama?” Ia berkata, “Apakah orang-orang Quraisy berkata seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.” Ia bertanya, ”Kalau begitu perbuatan apa yang dapat mengobati dada mereka?” Ia menjawab, “Engkau datangi dia (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lalu engkau ludahi wajahnya dan engkau caci-maki dengan cacian yang yang terburuk yang engkau ketahui.” Maka Abu Mu’aith melakukannya, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersikap apa-apa selain mengusap mukanya dari air liur, lalu Beliau menoleh kepadanya sambil berkata, “Jika aku mendapati kamu berada di luar pegunungan Mekah, aku akan memenggal lehermu dengan cara ditahan.” Ketika tiba perang Badar dan kawan-kawannya berangkat, maka ia (Abu Mu’aith) enggan untuk berangkat, lalu kawan-kawannya berkata, “Keluarlah bersama kami.” Ia berkata, “Sungguhnya orang ini (Yakni Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah berjanji kepadaku jika mendapatiku berada di luar pegunungan Mekah akan memenggal leherku dengan cara ditahan.” Mereka berkata, “Engkau akan memperoleh unta merah, (tenang saja) dia tidak akan mendapatkan kamu jika kekalahan menimpanya.” Maka ia keluar bersama mereka, dan ketika Allah mengalahkan kaum musyrik dan untanya jatuh ke tanah lumpur di beberapa jalan (di gunung), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangkapnya dalam 70 orang Quraisy, lalu Abu Mu’aith datang kepada Beliau dan bersabda, “Engkau akan bunuh aku di tengah-tengah mereka ini?” Beliau menjawab, “Ya, karena engkau telah meludahi wajahku.” Maka Allah menurunkan ayat tentang Abu Mu’aith, “Wa yauma ya’addhuzh zhaalimu ‘alaa yadaihi…dst. sampai ayat, “Wa kaanasy syaithaanu lil insaani khadzuulaa.” Syaikh Muqbil berkata, “Kami masih tidak berani menghukumi (kedudukan haditsnya) karena As Suyuthiy rahimahullah agak mudah (menshahihkan).”

[19] Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya, berupa syirk, kufur dan mendustakan para rasul.

[20] Dengan beriman kepadanya, membenarkannya dan mengikutinya.

[21] Yang dimaksud dengan si fulan, adalah setan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia. Yakni mengapa aku malah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, paling baik dan paling lembut kepadaku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan aku malah berteman dengan musuhku yang tidak memberiku manfaat apa-apa selain kecelakaan, kerugian, kehinaan dan kebinasaan.

[22] Yaitu menghalangiku beriman kepadanya dengan menghias kesesatan dan memperjelek kebenaran dengan tipuan dan bujukannya.

[23] Yakni yang menelantarkannya ketika manusia sedang kesulitan. Hal ini sebagaimana yang pidato setan kepada semua pengikutnya ketika urusan telah diselesaikan dan Allah telah menghisab makhluk-Nya:

Dan berkatalah setan ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Terj. Ibrahim: 22)

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperhatikan dirinya, apakah tertipu oleh setan atau tidak? Demikian pula memanfaatkan kesempatan hidup di dunia, mengisinya dengan iman dan amal saleh sebelum tiba hari di mana tidak ada lagi kesempatan, yang ada adalah pembalasan terhadap amal.

[24] Berdoa dan mengeluhkan kepada Tuhannya serta menyayangkan tentang sikap kaumnya yang malah berpaling dari Al Qur’an ini.

[25] Yakni yang Engkau utus aku untuk menerangkan petunjuk dan menyampaikan risalah kepada mereka.

[26] Mereka meninggalkan dan mengabaikannya, padahal yang wajib bagi mereka adalah tunduk kepadanya, mendatangi hukum-hukumnya, dan berjalan mengikutinya.

[27] Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghibur Rasul-Nya dan memberitahukan, bahwa mereka punya pendahulu yang perbuatannya sama dengan mereka.

[28] Yakni sebagaimana telah Kami adakan untukmu musuh dari kaum musyrik Quraisy.

[29] Di antara faedah diadakan musuh bagi setiap nabi adalah agar hak berada di atas kebatilan dan kebenaran semakin jelas, karena dengan adanya penentangan yang batil terhadap yang hak dapat menambah kebenaran semakin jelas, dan semakin jelas keistimewaan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berada di atas yang hak dan hukuman yang diberikan-Nya kepada orang-orang yang berada di atas kebatilan. Oleh karena itu, bersabarlah sebagaimana mereka (para nabi) bersabar dan janganlah kamu bersedih dan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.

[30] Yakni yang menunjukimu sehingga apa yang kamu harapkan tercapai, demikian pula maslahat agama maupun dunia.

[31] Terhadap musuh-musuhmu. Oleh karena itu, bertawakkallah kepada-Nya.

[32] Perkataan ini termasuk di antara usulan orang-orang kafir.

[33] Seperti Taurat, Injil dan Zabur.

[34] Al Qur’an diturunkan tidak secara sekaligus.

[35] Maksudnya, Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan begitu hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kuat, tenang dan teguh. Terutama, ketika ada sebab-sebab gelisah, maka dengan turunnya Al Qur’an dapat menenteramkannya.

[36] Agar mudah dipahami dan dihapal. Hal ini menunjukkan perhatian Allah terhadap kitab-Nya dan terhadap Rasul-Nya, di mana Dia menurunkan kitab-Nya sesuai keadaan rasul dan maslahat agamanya.

[37] Untuk membatalkan perkaramu.

[38] Maksudnya, setiap kali mereka datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan sesuatu yang benar dan nyata. Al Qur’an penuh dengan kebenaran dan kejelasan. Kandungannya hak (benar) dan tidak dicampuri kebatilan dan syubhat, sedangkan lafaz-lafaznya begitu jelas. Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa sepatutnya bagi orang yang berbicara tentang ilmu, baik yang menyampaikan hadits, pengajar dan penasehat mengikuti Tuhannya dalam menyesuaikan ayat-ayat-Nya dengan keadaan rasul-Nya, oleh karenanya ia membawakan ayat-ayat, hadits-hadits dan nasehat yang sesuai yang sesuai dengan kondisi. Dalam ayat ini juga terdapat bantahan terhadap kaum Jahmiyyah dan yang semisal mereka yang memandang bahwa nash-nash Al Qur’an harus dibawa kepada selain zhahirnya, dan bahwa ia memiliki makna selain yang dipahami darinya.

[39] Yang menghimpun semua azab dan hukuman.

[40] Oleh para malaikat yang akan mengazab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s