Tafsir Al Furqan Ayat 1-10

Surah Al Furqaan (Pembeda)

Surah ke-25. 77 ayat. Makkiyyah

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-2: Pengagungan bagi Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan pujian bagi-Nya karena menurunkan Al Qur’an kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ajakan untuk mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang memiliki kerajaan langit dan bumi.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا (١) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا (٢

1. [1]Mahatinggi[2] Allah yang telah menurunkan Furqaan (Al Quran)[3] kepada hamba-Nya (Muhammad)[4], agar dia menjadi pemberi peringatan[5] kepada seluruh alam (jin dan manusia),

2. Yang memiliki kerajaan langit dan bumi[6], tidak mempunyai anak, tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(-Nya)[7], dan Dia menciptakan segala sesuatu[8], lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat [9].

Ayat 3-6: Menceritakan bagaimana orang-orang kafir menyekutukan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan menyembah selain-Nya, bantahan terhadap pendustaan mereka kepada Al Qur’an serta tuduhan dusta mereka bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengada-adanya.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلا نَفْعًا وَلا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلا حَيَاةً وَلا نُشُورًا (٣)وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا (٤) وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلا (٥) قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (٦

3. [10]Namun mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan[11] dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat[12] serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.

4. [13]Dan orang-orang kafir berkata, “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain[14].” [15]Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar.

5. Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu[16], yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya[17] setiap pagi dan petang[18].”

6. [19]Katakanlah (Muhammad), “(Al Quran) itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia[20] di langit dan di bumi[21]. Sungguh, Dia Maha Pengampun[22] lagi Maha Penyayang[23].”

Ayat 7-10: Protes orang-orang kafir, permintaan mereka agar didatangkan mukjizat serta pengingkaran mereka jika rasul diutus dari kalangan manusia biasa.

وَقَالُوا مَالِ هَذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الأسْوَاقِ لَوْلا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا (٧) أَوْ يُلْقَى إِلَيْهِ كَنْزٌ أَوْ تَكُونُ لَهُ جَنَّةٌ يَأْكُلُ مِنْهَا وَقَالَ الظَّالِمُونَ إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا رَجُلا مَسْحُورًا (٨)انْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأمْثَالَ فَضَلُّوا فَلا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلا (٩)تَبَارَكَ الَّذِي إِنْ شَاءَ جَعَلَ لَكَ خَيْرًا مِنْ ذَلِكَ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَيَجْعَلْ لَكَ قُصُورًا (١٠

7. Dan mereka berkata[24], “Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar[25]? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia[26],

8. Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan[27] atau (mengapa tidak ada) kebun baginya[28], sehingga dia dapat makan dari (hasil)nya?” Dan orang-orang zalim itu berkata[29], “Kamu hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir[30].”

9. Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang engkau[31], maka sesatlah mereka[32], mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).

10. Mahasuci[33] (Allah) yang jika Dia menghendaki, niscaya Dia jadikan bagimu yang lebih baik daripada itu[34], (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai[35], dan Dia jadikan (pula) istana-istana untukmu [36].


[1] Ayat ini menerangkan tentang keagungan Allah, keesaan-Nya dan banyaknya kebaikan serta ihsan-Nya.

[2] Yakni Mahaagung, sempurna sifat-sifat-Nya dan banyak kebaikannya yang di antara kebaikan dan nikmat-Nya yang terbesar adalah menurunkan Al Qur’an.

[3] Al Qur’an disebut Al Furqan, karena ia membedakan antara yang hak dengan yang batil, yang halal dengan yang haram, petunjuk dengan kesesatan, dan orang yang bahagia dengan orang yang sengsara.

[4] Yang telah sempurna martabat kehambaan, dan kedudukannya di atas para rasul yang lain.

[5] Menakuti mereka dengan azab Allah dan menerangkan jalan yang diridhai Allah dan jalan yang dimurkai-Nya, sehingga barang siapa yang menerimanya dan mengamalkannya, maka ia termasuk orang yang selamat di dunia dan akhirat, yang memperoleh kebahagiaan yang kekal. Adakah nikmat dan karunia yang lebih besar daripada ini?

[6] Dia yang mengaturnya sendiri, dan semua yang ada di dalamnya adalah milik-Nya dan hamba-Nya, tunduk kepada rububiyyah-Nya dan butuh kepada rahmat-Nya.

[7] Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak dan sekutu, padahal Dia yang memiliki alam semesta, sedangkan selain-Nya dimiliki, Dia berkuasa, sedangkan selain-Nya dikuasai, Dia Mahakaya dari segala sisi, sedangkan selain-Nya butuh kepada-Nya dari segala sisi, dan bagaimana mungkin Dia memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, padahal semua makhluk di bawah ketetapan-Nya, di mana mereka tidak bertindak kecuali dengan izin-Nya, maka Mahatinggi Allah dari memiliki anak dan sekutu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, dan orang yang mengatakan demikian berarti tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya.

[8] Baik alam bagian atas maupun alam bagian bawah, baik manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuhan, benda mati, dan lain-lain.

[9] Maksudnya, segala sesuatu yang diciptakan Allah diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

[10] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya dan banyaknya kebaikan-Nya, maka yang demikian menghendaki agar Dia yang dicintai, disembah dan diagungkan, maka Dia menerangkan batilnya menyembah selain-Nya.

[11] Sungguh sangat aneh sekali dan sangat membuktikan sekali terhadap kebodohan mereka, kurangnya akal mereka, bahkan membuktikan kezaliman dan beraninya mereka terhadap Tuhan yang menciptakan mereka, yaitu sikap mereka mengambil tuhan yang keadaannya seperti yang disebutkan, yakni tidak dapat menciptakan, bahkan dicipta, yang tidak dapat menghidupkan, mematikan mapun membangkitkan.

[12] Sedikit maupun banyak.

[13] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menetapkan kebenaran tauhid dengan dalil yang qath’i (pasti) lagi jelas dan batilnya syirk (mengadakan tandingan bagi Allah), Dia menetapkan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan batilnya orang yang menolaknya dan menentangnya.

[14] Yang dimaksud dengan orang-orang yang lain itu adalah orang-orang Ahli Kitab.

[15] Allah membantah mereka dengan menerangkan, bahwa mereka telah bersikap sombong, zalim dan berdusta besar. Padahal mereka mengetahui pribadi orang yang membawanya, terkenal kejujurannya, amanahnya, dan akhlaknya yang mulia, dan lagi tidak mungkin bagi Beliau bahkan semua makhluk untuk mendatangkan Al Qur’an yang isinya begitu agung, indah, dan bijaksana, bahkan terdapat berita-berita orang terdahulu yang benar, yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

[16] Yang disampaikan dari mulut ke mulut dan disalin oleh Beliau.

[17] Agar Beliau hapal.

[18] Dalam ucapan mereka ini terdapat kesalahan besar dan menunjukkan kedustaan mereka:

– Tuduhan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia yang paling baik dan paling jujur lisannya dengan tuduhan berdusta.

– Perkataan mereka, bahwa Al Qur’an adalah dusta dan buatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

– Perkataan mereka itu sesungguhnya menunjukkan bahwa mereka mengaku mampu mendatangkan yang seperti Al Qur’an dan menyamakan antara ucapan makhluk yang memiliki kekurangan dari berbagai sisi dengan Al Khaaliq yang Mahasempurna dari berbagai sisi.

– Kedaaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mereka ketahui, yaitu bahwa Beliau tidak sanggup menulis.

[19] Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman membantah mereka.

[20] Yakni hal gaib.

[21] Sisi tegaknya hujjah kepada mereka adalah, bahwa yang menurunkannya adalah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, termasuk mengetahui pula orang yang membawa Al Qur’an (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan mengatakan bahwa ia turun dari sisi Allah. Jika memang Al Qur’an bukan dari Allah, tentu Allah segera membinasakannya, namun kenyataannya Allah menguatkannya dan memenangkannya terhadap musuh-musuhnya. Di samping itu, disebutkan ilmu-Nya yang menyeluruh adalah untuk mengingatkan mereka dan mendorong mereka untuk mentadabburi Al Qur’an, di mana jika mereka mau mentadaburinya, tentu mereka akan melihat di antara ilmu-Nya dan hukum-hukum-Nya yang menunjukkan bahwa Al Qur’an turun dari Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak.

Meskipun mereka mengingkari tauhid dan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Allah bersikap lembut kepada mereka, Dia tidak segera menghukum mereka, bahkan mengajak mereka dengan lembut untuk bertobat dan kembali kepadanya, Dia berfirman di akhir ayat, “Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Agar mereka tidak berputus asa.

[22] Sifat-Nya mengampuni bagi pelaku dosa dan maksiat apabila mereka mengerjakan sebab-sebab untuk diampuni, yaitu berhenti dari maksiat dan bertobat.

[23] Dia tidak segera menghukum mereka, padahal mereka telah melakukan perbuatan yang menghendaki untuk disiksa, Dia mengutus Rasul-Nya untuk kebaikan mereka, tetapi Rasul tersebut mereka sakiti baik dengan lisan maupun dengan perbuatan, bahkan Dia mengajak mereka bertobat dan siap menerima tobat mereka, menghapuskan kesalahan mereka dan menerima kebaikan mereka.

[24] Ini di antara ucapan orang-orang yang mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana ucapan ini dimaksudkan untuk mengkritik kerasulan Beliau, mereka mengatakan, “Mengapa rasul itu tidak seorang malaikat, atau seorang raja atau ada malaikat yang membantunya?”

[25] Ini termasuk sifat-sifat manusia, makan, minum dan butuh seperti yang dibutuhkan manusia lainnya, demikian juga pergi ke pasar untuk berjual-beli. Menurut mereka Rasul tidak pantas seperti itu, padahal Allah berfirman, “Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar, dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. maukah kamu bersabar?; Dan Tuhanmu Maha Melihat.” (Terj. Al Furqan: 20)

[26] Lagi membenarkannya.

[27] Dari langit sehingga tidak perlu berjalan ke pasar untuk memperoleh penghidupan.

[28] Sehingga tidak perlu pergi ke pasar untuk mencari rezeki.

[29] Kezaliman mereka membuat mereka mengatakan seperti itu, bukan karena samar.

[30] Padahal mereka mengetahui sempurnanya akalnya, baik bicaranya dan pribadinya yang selamat dari cacat.

[31] Yaitu perkataan mereka, “Mengapa rasul itu tidak malaikat, raja yang mempunyai kekayaan, tetapi malah manusia?” Demikian pula perkataan mereka, bahwa Beliau terkena sihir.

[32] Ucapan mereka penuh pertentangan, semuanya merupakan kebodohan, kedunguan dan kesesatan, tidak ada satu pun yang ada petunjuknya. Bahkan dengan memperhatikan sebentar saja sudah dapat diketahui kebatilannya dan yang demikian sudah cukup untuk membantahnya.

[33] Tabaaraka juga bisa diartikan, Mahabanyak kebaikan-Nya.

[34] Dari apa yang mereka katakan, berupa harta kekayaan yang banyak dan kebun.

[35] Di dunia, namun Dia menghendaki untuk memberikan surga di akhirat karena keadaan dunia yang di sisi-Nya sangat rendah dan hina.

[36] Maksudnya, kalau Allah menghendaki niscaya dijadikan-Nya untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam surga-surga dan istana-istana seperti yang akan diperolehnya di akhirat. tetapi Allah tidak menghendaki yang demikian agar manusia itu tunduk dan beriman kepada Allah, tidak terpengaruh oleh benda, tetapi berdasarkan kepada bukti-bukti dan dalil-dalil yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s