Tafsir Thaha Ayat 114-123

Ayat 114: Bersihnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala dari segala cacat dan kekurangan dan perintah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak tergesa-gesa membaca Al Qur’an, dan perintah kepada Beliau agar meminta ditambahkan ilmu.

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا (١١٤)

114. [Setelah Allah menyebutkan hukum jaza’i(pembalasan)nya terhadap hamba-hamba-Nya, hukum syar’i-Nya yang ada dalam kitab-Nya, di mana hal ini termasuk kerajaan-Nya, Dia berfirman,]Maka Mahatinggi Allah[Yakni dari apa yang dikatakan orang-orang musyrik atau dari segala kekurangan] Raja[Di mana kerajaan adalah sifat-Nya, semua makhluk adalah milik-Nya, hukum-hukum kerajaan, baik yang qadari (terhadap alam semesta) maupun yang syar’i berlaku pada mereka] yang sebenar-benarnya[Wujud-Nya hak (benar), kerajaan-Nya hak dan kesempurnaan-Nya hak. Sifat-sifat kesempurnaan tidak ada yang hakiki kecuali bagi Allah Yang Memiliki Keagungan. Contohnya adalah kerajaan, meskipun di antara makhluk-Nya ada yang menjadi raja pada sebagian waktu dan terhadap orang-orang tertentu, namun kerajaannya terbatas dan akan sirna, adapun Allah, maka Dia senantiasa sebagai Raja, Mahahidup, Maha Berdiri Sendiri lagi Maha Mulia]. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu[Maksudnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilarang Allah menirukan bacaan Jibril ‘alaihis salam kalimat demi kalimat, sebelum Jibril ‘alaihis salam selesai membacakannya, karena Allah menjamin untuk mengumpulkan Al Qur’an di dalam dadanya dan membacakannya. Oleh karena tergesa-gesanya Beliau untuk segera menghapal wahyu itu menunjukkan kecintaan yang sempurna kepada ilmu, maka Allah memerintahkan kepadanya agar meminta kepada Allah tambahan ilmu, karena ilmu adalah kebaikan, dan banyaknya kebaikan perlu dicari, dan hal itu berasal dari Allah. Tentunya, cara untuk memperolehnya adalah dengan bersungguh-sungguh, rindu kepada ilmu, memintanya kepada Allah, meminta pertolongan-Nya serta butuh kepadanya di setiap waktu. Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan tentang adab mencari ilmu, yaitu bahwa orang yang mendengarkan ilmu sepatutnya bersabar tidak langsung mencatat sampai pengajar atau pengimla’ (pendikte) menyelesaikan kata-katanya yang masih berkaitan. Jika telah selesai, ia boleh bertanya jika ia memiliki pertanyaan dan tidak segera bertanya dan memotong pembicaraan guru, karena hal itu merupakan sebab terhalangnya ilmu. Demikian pula orang yang ditanya, sebaiknya meminta dijabarkan pertanyaan dan mengetahui maksudnya terlebih dahulu sebelum menjawab, karena hal itu merupakan sebab agar menjawab benar], dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku[dengan Al Qur’an. Oleh karena itu, setiap kali diturunkan ayat Al Qur’an, maka bertambahlah ilmu Beliau].”

Ayat 115-123: Kisah Nabi Adam ‘alaihis salam, perintah Allah kepada para malaikat agar sujud kepada Adam dan bagaimana mereka melaksanakan perintah Allah, berbeda dengan Iblis yang malah enggan dan bersikap sombong, serta peringatan agar tidak tertipu oleh rayuan Iblis.

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا (١١٥)

115. Dan sungguh, telah Kami pesankan[Pesan Allah ini tersebut dalam ayat 35 surat Al Baqarah, di mana pada pesan itu, Beliau (Adam) dilarang mendekati sebuah pohon] kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa[Yakni ia meninggalkan pesan Allah], dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat[yakni keteguhan hati dan kesabaran dari perkara yang Kami larang] padanya[Apa yang dialaminya menjadi pelajaran bagi keturunannya. Tabiat keturunannya sama seperti tabiat bapak mereka; Adam. Adam lupa, keturunannya pun lupa, Adam berbuat salah, keturunannya pun berbuat salah, Adam tidak teguh hatinya, anak keturunannya pun tidak teguh hatinya. Namun kemudian Adam segera bertobat dari kesalahannya, mengakui kesalahannya, lalu dosa-dosanya diampuni. Setelah disebutkan kisah Adam secara garis besar, maka di ayat selanjutnya disebutkan kisah Adam secara lebih rinci].

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى (١١٦)

116. [Setelah Allah menyempurnakan penciptaan Adam, mengajarkan nama-nama benda kepadanya, melebihkan dan memuliakannya, maka Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk sujud memuliakan dan menghormati Adam, maka mereka pun sujud mengikuti perintah Allah. Ketika itu di tengah-tengah mereka ada Iblis, ia bersikap sombong terhadap perintah Allah dan enggan bersujud kepada Adam, dia berkata, “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Ketika itu jelaslah permusuhannya kepada Adam dan istrinya, dan tampaklah hasadnya yang menjadi sebab permusuhan, maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya terhadap gangguan Iblis sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya]Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Lalu mereka pun sujud kecuali iblis[Dia adalah nenek moyang jin, dia sebelumnya tinggal bersama malaikat dan beribadah kepada Allah bersama mereka]; dia menolak[Dia menolak sujud kepada Adam dan berkata, “Saya lebih baik daripadanya.”].

فَقُلْنَا يَا آدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى (١١٧)

117. Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga[Karena di surga kamu memperoleh rezeki yang banyak dan nikmat tanpa susah payah serta istirahat yang sempurna], nanti kamu sengsara[Yakni kamu akan kelelahan ketika keluar dari surga, di mana untuk makan, kamu harus menggarap tanah, menanaminya dengan tumbuhan, memetiknya, memasaknya, dan lain sebagainya. Berbeda dengan di surga semua yang diinginkan ada di hadapan].

إِنَّ لَكَ أَلا تَجُوعَ فِيهَا وَلا تَعْرَى (١١٨)

118. Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang,

وَأَنَّكَ لا تَظْمَأُ فِيهَا وَلا تَضْحَى (١١٩)

119. Dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.”

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لا يَبْلَى (١٢٠)

120. [Iblis datang kepada Adam sebagai seorang penasehat dan berbicara dengan lembut sehingga Adam dan istrinya (Hawa) tertipu, keduanya akhirnya memakan pohon yang terlarang itu dan keduanya pun menyesal, pakaiannya lepas dan tampaklah auratnya setelah sebelumnya tertutup, dan keduanya pun menutupi auratnya dengan daun-daun (yang ada di) surga dan merasa malu]Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian[Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon keabadian), karena kata setan, orang yang memakan buahnya akan kekal di surga, tidak akan mati. Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan apa namanya, sebab Al Quran dan Hadits tidak menerangkannya] dan kerajaan yang tidak akan binasa?”

فَأَكَلا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (١٢١)

121. Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga[untuk menutupi auratnya], dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia[ Yang dimaksud dengan durhaka di sini adalah melanggar larangan Allah karena lupa, dengan tidak sengaja, sebagaimana disebutkan dalam ayat 115 surat ini. Sedangkan yang dimaksud dengan sesat adalah mengikuti apa yang dibisikkan setan. kesalahan Adam ‘alaihis salam meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamakan durhaka dan sesat, karena tingginya martabat Adam ‘alaihis salam dan untuk menjadi teladan bagi orang besar dan pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang meskipun kecil].

ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَى (١٢٢)

122. [Setelah itu Adam dan Hawa’ segera bertobat dan berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”] Kemudian Tuhannya memilih dia [Maksudnya, Allah memilih Adam ‘alaihis salam untuk menjadi orang yang dekat kepada-Nya], maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk [Oleh karena itu, keadaannya setelah tobat menjadi lebih baik daripada sebelumnya, namun musuhnya kembali melakukan tipu daya terhadapnya, akan tetapi tipu dayanya kalah karena hidayah Allah kepadanya, maka sempurnalah nikmat untuk Adam dan keturunannya, mereka harus bersyukur terhadap nikmat itu, serta tetap waspada terhadap musuh yang senantiasa memantau dan mencari celah untuk menggelincirkan anak Adam di siang dan malam. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Wahai anak Adam! Janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya dia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’raaf: 27)].

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (١٢٣)

123. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kepada Adam, Hawa’ dan Iblis untuk turun ke bumi, dan agar Adam dan keturunannya menjadikan setan sebagai musuhnya, selalu bersikap waspada terhadapnya, dan bahwa Dia akan menurunkan kepada mereka kitab-kitab-Nya, dan akan mengutus kepada mereka para rasul untuk menerangkan jalan yang lurus yang menghubungkan ke kampung halaman mereka yang sesungguhnya (surga) dan memperingatkan mereka terhadap musuh yang satu ini (Iblis dan keturunannya atau setan)] Dia (Allah) berfirman, “Turunlah kamu berdua[yakni Adam dan Hawa atau Adam dan Iblis.] dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain[Seperti melakukan kezaliman antara yang satu dengan yang lain, atau maksudnya, bahwa Adam dan keturunannya menjadi musuh bagi Iblis dan keturunannya]. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka ketahuilah barang siapa mengikut petunjuk-Ku[Yaitu dengan melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang], dia tidak akan sesat[Dalam meniti hidup di dunia] dan tidak akan celaka [di akhirat].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s