Tafsir Maryam Ayat 41-57

Ayat 41-50: Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dengan bapaknya, penjelasan bahwa setan adalah musuh manusia dan pentingnya berpaling dari orang-orang yang bodoh.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٤١)

41. [Kitab yang paling agung, paling utama dan paling tinggi adalah Al Qur’an. Jika disebutkan berita di sana, maka beritanya adalah berita yang paling benar, jika disebutkan perintah dan larangan di sana, maka perintah dan larangan itu adalah yang paling adil. Jika disebutkan balasan, janji dan ancaman, maka janji dan ancaman tersebut adalah yang paling benar, dan menunjukkan kebijaksanaan, keadilan dan karunia-Nya. Jika disebutkan nama dan kisah para nabi dan rasul, maka nabi dan rasul yang disebutkan adalah nabi yang lebih utama daripada yang lain, oleh karena itu sering diulang-ulang kisah para nabi dan rasul, yang di sana Allah melebihkan mereka daripada yang lain, meninggikan derajat dan perkara mereka, karena tugas yang mereka jalankan, berupa ibadah kepada Allah, mencintai-Nya, kembali kepada-Nya, memenuhi hak-hak-Nya dan hak hamba-hamba-Nya serta mengajak manusia kepada Allah serta bersabar di atasnya. Di surah ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan secara garis besar kisah para nabi, di mana Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan Rasul-Nya untuk mengingat kisah mereka, karena dengan mengingat kisah tesebut dapat memperjelas pujian untuk Allah dan untuk mereka, menerangkan ihsan dan karunia-Nya kepada mereka, dan di sana pun terdapat dorongan untuk beriman dan mencintai mereka serta menjadikan mereka sebagai teladan] Ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim [Ibrahim ‘alaihis salam adalah nabi yang paling utama setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dialah orang yang Allah berikan kenabian dan kitab pada keturunannya, dialah orang yang mengajak manusia kepada Allah, bersabar terhadap gangguan dan siksaan dari orang lain dalam berdakwah, Beliau berdakwah kepada orang yang terdekat maupun yang jauh, dan berusaha semampunya mendakwahkan bapaknya. Di ayat tersebut dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan dialog yang sopan dan bertahap dari Ibrahim kepada bapaknya] di dalam kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya dia seorang yang sangat membenarkan [Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah seorang Nabi yang sangat cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah. Shiddiq juga berarti sangat banyak kejujurannya, di mana Beliau jujur dalam ucapannya, dalam perbuatannya, dan dalam keadaannya serta membenarkan semua yang diperintahkan untuk dibenarkan, dan hal itu menunjukkan ilmu yang dalam yang sampai ke hati dan membekas di dalamnya sehingga membuahkan keyakinan serta amal saleh yang sempurna], dan seorang nabi.

إِذْ قَالَ لأبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا (٤٢)

42. (Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya [yaitu Azar, di mana ia seorang penyembah patung], “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun [Hal ini menunjukkan kekurangan pada zatnya (diri patung itu) dan perbuatannya, karena tidak mampu mendengar, melihat dan menolong. Demikian juga menunjukkan bahwa menyembah sesuatu yang memiliki kekurangan baik pada zat maupun perbuatannya adalah perbuatan yang diangggap buruk oleh akal dan syara’. Di dalamnya juga terdapat isyarat, bahwa yang wajib dan pantas disembah adalah Tuhan yang memiliki kesempurnaan, di mana semua nikmat yang diperoleh hamba berasal dari-Nya, dan tidak ada yang dapat menghindarkan bahaya selain Dia]?

يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا (٤٣)

43. Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu [Kata-kata Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sangat lembut, Beliau tidak mengatakan, “Wahai ayahku! Aku mengetahui sedangkan engkau tidak mengetahui”, bahkan mengatakan, “Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu.”], maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus [yaitu beribadah kepada Allah saja dan menaati-Nya dalam semua keadaan].

يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا (٤٤)

44. Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan [Yaitu dengan menaatinya untuk menyembah patung. Menurut As Sa’diy, dikatakan menyembah setan adalah karena orang yang menyembah selain Allah sama saja menyembah setan]. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih [Barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, maka sama saja telah menjadikan kawannya, dan ia akan bermaksiat kepada Allah seperti halnya setan].

يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا (٤٥)

45. Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih [Jika engkau tidak bertobat. Yang demikian disebabkan tetap terusnya ayahnya di atas kekafiran serta sikap melampaui batas], sehingga engkau menjadi teman bagi setan [di neraka].”

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (٤٦)

46. Dia (ayahnya) berkata, “Bencikah engkau kepada tuhan-tuhanku, wahai Ibrahim?[sehingga engkau mencelanya] Jika engkau tidak berhenti [dari mencela sesembahan-sesembahanku dan dari mengajakku beribadah kepada Allah], pasti engkau akan kurajam [yakni kulempari dengan batu atau aku caci-maki dengan kata-kata yang jelek], maka tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.”

قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا (٤٧)

47. Dia (Ibrahim) berkata [Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menjawab dengan jawaban ‘ibadurrahman (hamba-hamba Ar Rahman) terhadap ucapan orang-orang yang bodoh, dan tidak membalas, bahkan bersabar serta tidak menyikapi ayahnya dengan sikap yang buruk], “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu [Bisa juga diartikan, “Keselamatan atasmu” yakni engkau akan selamat dari perkataan dan sikap yang menyakitkan dariku], aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku [Maka Nabi Ibrahim melakukan janjinya itu dengan memintakan ampunan untuk ayahnya. Hal ini sebelum jelas baginya, bahwa ayahnya adalah musuh Allah. Setelah jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah, maka beliau tidak memintakan ampunan untuknya serta berlepas diri darinya.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kita untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim, di antaranya adalah mengikuti jejaknya dalam berdakwah kepada Allah, dengan ilmu, hikmah (kebijaksanaan), lembut, halus dan bertahap serta bersabar di atasnya dan tidak bosan, demikian pula bersabar terhadap gangguan orang lain baik yang berupa ucapan (seperti caci-maki) maupun perbuatan (seperti disakiti), menyikapinya dengan memaafkan, bahkan dengan sikap ihsan baik yang berupa ucapan maupun perbuatan]. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku [sangat sayang dan perhatian kepadaku].

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا (٤٨)

48. [Ketika Nabi Ibrahim melihat bahwa kaumnya dan ayahnya tidak dapat lagi diharapkan keimanannya]Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau sembah selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku [Bisa juga diartikan, “dan aku hanya beribadah kepada Tuhanku (saja).”], mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku [sebagaimana kalian kecewa ketika berdoa kepada patung-patung.
Inilah tugas da’i yang melihat bahwa orang yang didakwahkannya tidak bisa diharapkan lagi, yaitu ketika mereka mengikuti hawa nafsunya, nasehat tidak lagi berguna, dan mereka terombang-ambing dalam kesesatan, hendaknya ia menyibukkan diri memperbaiki dirinya, mengharap kepada Tuhannya agar amalnya diterima, menjauhi keburukan dan orang-orangnya (‘uzlah), lihat pula surah Al Maa’idah: 105].”

فَلَمَّا اعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَكُلا جَعَلْنَا نَبِيًّا (٤٩)

49. [Oleh karena meninggalkan kampung halaman, keluarga dan kaumnya adalah sesuatu yang paling berat bagi seseorang, dan Nabi Ibrahim meninggalkan semua itu karena Allah, maka Allah menggantinya dengan yang lebih baik darinya, Allah menganugerahkan kepadanya seorang anak, yaitu Ishak, dan dari  padanya lahir Ya’kub] Maka ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah [Dengan pergi menuju negeri yang disucikan (muqaddas)], Kami anugerahkan kepadanya Ishak dan Ya’qub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi.

وَوَهَبْنَا لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا (٥٠)

50. Dan Kami anugerahkan kepada mereka [yakni Ibrahim dan anak-anaknya] sebagian dari rahmat Kami [yaitu ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan keturunan yang banyak, di mana banyak yang menjadi nabi dan wali, serta diberikan kecukupan rezeki] dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik dan mulia [di setiap umat. Mereka adalah para pemimpin orang-orang yang berbuat ihsan, Allah tebarkan pujian yang baik lagi tinggi di tengah-tengah manusia, nama mereka disebut-sebut, mereka pun dijadikan teladan, dan dicintai oleh manusia. Oleh karenanya, banyak manusia yang menamai anak-anak mereka dengan nama para nabi dan rasul].

Ayat 51-57: Kisah beberapa nabi yang lain, sifat mereka dan penjelasan pentingnya shalat dan zakat.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (٥١)

51. Dan ceritakanlah (Muhammad)[Dengan menunjukkan kemuliaannya, mengenalkan kedudukannya dan akhlaknya yang mulia], kisah Musa di dalam kitab (Al Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih [ada yang membacanya “mukhlis”, yang artinya orang yang ikhlas dalam beribadah, hanya mengharap  ridho Allah, tidak riya’, ataupun musyrik. Sedangkan mukhlas, berarti orang yang dipilih Allah di antara sekian makhluk-Nya], seorang rasul dan nabi [Rasul adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan dikirim kepada orang-orang yang menyimpang atau orang-orang kafir, mengajak manusia kepada syari’at baru yang dibawanya, terkadang ia memiliki kitab dan terkadang tidak. Seorang rasul sudah tentu nabi, sedangkan seorang nabi belum tentu rasul.
Nabi adalah seorang yang mendapatkan wahyu dan dikirim kepada orang-orang yang sudah beriman, di mana ia mengajak kepada syari’at sebelumnya, menghidupkannya dan menggunakan hukum dengan syari’at sebelumnya. terkadang ia menerima kitab].

وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الأيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا (٥٢)

52. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung (Sinai)[Ketika beliau sedang mengadakan perjalanan] dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap.

وَوَهَبْنَا لَهُ مِنْ رَحْمَتِنَا أَخَاهُ هَارُونَ نَبِيًّا (٥٣)

53. Dan Kami telah menganugerahkan sebagian rahmat Kami kepadanya, yaitu (bahwa) saudaranya, Harun, menjadi seorang nabi [Allah mengabulkan permintaan Nabi Musa ‘alaihis salam, ketika beliau meminta agar saudaranya, yaitu Harun diutus pula bersamanya, dan Harun lebih tua usianya daripada Musa].

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا (٥٤)

54. Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail [Di mana dari Beliau lahir bangsa Arab] di dalam kitab (Al Qur’an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya [Yakni selalu menepati janji, baik janji dengan Allah maupun janji dengan manusia. Oleh karena itu, ketika beliau berjanji siap untuk disembelih, beliau berkata kepada ayahnya, “Engkau akan mendapatiku insya Allah termasuk orang yang sabar.” Beliau memenuhi janjinya dan mempersilahkan bapaknya menyembelihnya, yang kemudian Allah tebus dengan kambing sebagai ganti Isma’il, di mana di dalam kisah beliau banyak pelajaran yang dapat diambil, salah satunya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidaklah memberikan ujian dengan ujian yang sampai membinasakan dirinya, kalau pun seakan-akan seperti membinasakan dirinya, maka hal itu agar diketahui dengan jelas sejauh mana kesabarannya], seorang rasul [Yang diutus kepada suku Jurhum. Ayat ini menunjukkan keutamaan Nabi Isma’il di atas saudaranya, yaitu Ishak, karena Ishaq hanya disifati dengan kenabian saja, sedangkan Isma’il disifati dengan kenabian dan kerasulan] dan nabi.

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (٥٥)

55. Dan dia menyuruh keluarganya [Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “ahl” di ayat tersebut adalah umatnya, wallahu a’lam. Beliau menyuruh keluarga atau umatnya untuk senantiasa mendirikan shalat yang di sana terdapat ikhlas kepada Allah, dan memerintahkan berzakat, yang di sana terdapat sikap ihsan kepada makhluk. Beliau menyempurnakan diri dan orang lain, terutama sekali keluarganya yang lebih berhak disempurnakan sebelum yang lain] untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya [Yang demikian disebabkan karena ia melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai Allah dan berusaha mencari keridhaan-Nya].

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٥٦)

56. Dan ceritakanlah (Muhammad)[ Sambil memuliakannya dan menyifatinya dengan sifat yang sempurna] kisah Idris di dalam kitab (Al Qur’an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran [Orang yang shiddiq berarti dalam dirinya terdapat sikap membenarkan secara sempurna, ilmu, keyakinan, dan amal yang saleh] dan seorang nabi.

وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا (٥٧)

57. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi [Menurut Mujahid, Allah mengangkat Idris dalam keadaan belum meninggal sebagaimana Isa diangkat. Menurut Al Hasan dan lainnya, Allah mengangkat Idris ke surga. Disebutkan dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika isra’-mi’raj bertemu dengan Idris di langit keempat].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s