Tafsir An Nahl Ayat 97-110

Ayat 97-102: Dorongan untuk beramal saleh, keutamaan membaca Al Qur’an dan mentadabburi maknanya, waspada terhadap was-was setan dan penjelasan hikmah dari diturunkannya Al Qur’an.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧)

97. Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[dengan kebahagiaan di dunia, ketenteraman hatinya, ketenangan jiwanya, sikap qana’ah (menerima apa adanya) atau mendapatkan rezeki yang halal dari arah yang tidak diduga-duga, dsb. Inilah yang diharapkan oleh orang-orang yang sekarang putus asa di dunia. Ketika mereka tidak memperoleh ketenangan atau kebahagiaan batin meskipun mereka memperoleh dunia, namun akhirnya mereka nekat bunuh diri seperti yang kita saksikan. Berdasarkan ayat ini, cara untuk memperoleh kebahagiaan atau ketenangan batin adalah dengan beriman (tentunya dengan memeluk Islam) dan beramal saleh atau mengerjakan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, tidak hanya memperoleh kebahagiaan di dunia, di akhirat pun, Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dengan memberikan surga yang penuh kenikmatan, yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia] dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan[baik laki-laki maupun perempuan, mendapat pahala yang sama, dan bahwa amal saleh harus disertai iman].

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (٩٨)

98. Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Quran[yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi hati dan ilmu yang banyak], mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk[dengan mengucapkan, “A’uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim” (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Hal itu, karena setan berusaha memalingkan manusia dari maksud dan makna Al Qur’an, maka jalan keluarnya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah dari godaannya agar perhatian seseorang tertuju kepada Al Qur’an dan tidak berpaling daripadanya].

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٩٩)

99. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya[dengan tawakkal mereka kepada-Nya, Allah singkirkan gangguan setan, sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk masuk menguasainya].

إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (١٠٠)

100. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin[dengan menaatinya dan ikut ke dalam golongannya. Jika setan sebagai pemimpinnya, maka dia akan menggiring mereka ke dalam neraka, wal ‘iyaadz billah] dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ  (١٠١)

101. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan, bahwa orang-orang yang mendustakan Al Qur’an berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadi hujjah bagi mereka, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah hakim yang Mahabijaksana yang menetapkan hukum-hukum dan mengganti hukum yang satu dengan hukum yang lain karena hikmah dan rahmat-Nya. Ketika mereka melihat seperti itu, mereka pun mencela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencela apa yang Beliau bawa]Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain[dengan menasakh(hapus)nya, dan menurunkan ayat yang lain untuk maslahat hamba], padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja.” Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui[tentang Tuhan mereka yang Mahabijaksana dan syari’at-Nya serta faedah naskh].

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (١٠٢

102. Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril)[disebut demikian, karena Dia bersih dari aib, khianat, dan penyakit] menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar[di dalamnya mengandung kebenaran, baik pada beritanya, perintah maupun larangannya. Jika telah diketahui, bahwa Al Qur’an adalah kebenaran, maka berarti sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengannya adalah batil], untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman[Karena kebenaran senantiasa sampai ke dalam hati sedikit demi sedikit, maka iman akan semakin kokoh bagai gunung kokoh yang menancap. Di samping itu, dengan turunnya ayat sedikit-demi sedikit, lebih siap diterima oleh jiwa daripada turun secara sekaligus yang seakan-akan mereka menerima banyak beban. Oleh karena itulah, dengan Al Qur’an keadaan para sahabat berubah; akhlak, tabi’at, kebiasaan dan amal mereka berubah sampai mengalahkan orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian.Sepatutnya generasi yang datang setelah para sahabat terdidik di atas ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur’;an, berakhlak dengan akhlaknya, menggunakannya sebagai penerang dalam gelapnya kesesatan dan kebodohan, sehingga dengannya urusan agama dan dunia mereka menjadi baik], dan menjadi petunjuk[hakikat segala sesuatu, menerangkan mana yang benar dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan] serta kabar gembira[bahwa mereka akan memperoleh kebaikan, yaitu surga dan mereka akan kekal di sana selama-lamanya] bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Ayat 103-109: Bantahan terhadap kaum musyrik dalam kedustaan mereka terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan penjelasan keadaan kaum mukmin yang jujur serta hukuman orang-orang yang murtad.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (١٠٣)

103. [Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Bani Hadhrami memiliki dua orang budak dari penduduk selain Yaman. Keduanya masih kecil, yang satu bernama Yasar, sedangkan yang satu lagi bernama Jabr. Keduanya suka membaca Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang duduk dengan keduanya, lalu orang-orang kafir Quraisy berkata, “Beliau duduk dengan keduanya adalah untuk belajar dari kedua anak itu.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menurunkan firman-Nya, “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa ‘Ajam, sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.”]Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa ‘Ajam[bahasa ‘Ajam adalah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik. Hal itu, karena orang yang dituduh mengajarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit tentang bahasa Arab], sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas[oleh karena itu, bagaimana mungkin Beliau diajarkan oleh orang ‘ajam (luar Arab)].

إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ لا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٠٤)

104. Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran)[yang menunjukkan kebenaran secara tegas, lalu mereka menolaknya dan tidak mau menerimanya], Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka[ketika datang hidayah irsyad (bimbingan) karena mereka menolaknya, sehingga diberi hukuman dengan terhalang mendapatkan hidayah dan dibiarkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala] dan mereka akan mendapat azab yang pedih.

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (١٠٥)

105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah[yang mengatakan, bahwa Al Qur’an itu ucapan manusia], dan mereka itulah pembohong[kedustaan ada dalam diri mereka, dan mereka lebih layak disebut pendusta daripada selain mereka. Diulangi kata-kata “dusta” terhadap mereka untuk menguatkan dan sebagai bantahan terhadap perkataan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja.” Adapun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau beriman kepada ayat-ayat Allah dan tunduk kepada Tuhannya. Oleh karena itu, mustahil jika Beliau berdusta atas nama Allah dan berkata apa yang tidak difirmankan-Nya. Oleh karena musuh-musuh Beliau menuduh Beliau berdusta, maka Allah menampakkan kehinaan dan menerangkan aib mereka, fa lillahil hamd].

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٦)

106. Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) [Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan tentang buruknya keadaan orang yang kafir kepada Allah setelah beriman. Seakan-akan mereka adalah orang yang buta setelah melihat dan kembali kepada kesesatan setelah mendapat petunjuk], kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)[Dan boleh baginya mengucapkan kata-kata kufur ketika dipaksa. Fiqih yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa ucapan orang yang dipaksa tidaklah dipandang dan tidak membuahkan hukum syar’i, baik dalam urusan talak, jual-beli dan akad lainnya. Hal ini, karena apabila seseorang tidak berdosa mengucapkan kata-kata kufur ketika dipaksa, maka urusan lain tentu lebih berhak tidak mendapatkan dosa], tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran[yakni hatinya rela dengan kekafiran], maka kemurkaan Allah menimpanya[Jika Dia murka, maka tidak ada satu pun makhluk yang berani berdiri, dan segala sesuatu akan ikut murka] dan mereka akan mendapat azab yang besar.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (١٠٧)

107. Yang demikian itu[yakni murtadnya mereka dari agama Islam] disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan di dunia daripada akhirat[maka Allah mencegah mereka dari beriman], dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٠٨)

108. Mereka itulah orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah[oleh karena itu, hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan, sedangkan pendengaran dan penglihatan tidak bisa menerima manfaat yang akan sampai ke dalam hati mereka.]. Mereka itulah orang yang lalai.

لا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (١٠٩

109. Pastilah mereka termasuk orang yang rugi di akhirat nanti[karena tempat kembali mereka ke neraka dan mereka kehilangan nikmat yang kekal].

Ayat 110: Gambaran gangguan yang dilakukan orang-orang kafir kepada kaum muslimin generasi pertama dan kesabaran mereka di atas keimanan.

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١١٠

110. [Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ada segolongan kaum di antara penduduk Mekah yang masuk Islam. Mereka meremehkan Islam, maka orang-orang musyrik memaksa mereka keluar bersama mereka pada perang Badar. Sebagian di antara mereka tertangkap, dan sebagian lagi terbunuh. Maka kaum muslimin berkata, “Para tawanan kita ini adalah kaum muslimin, mereka dipaksa, maka mintakanlah ampunan untuk mereka.” Maka turunlah ayat kepada mereka, “Innalladziina tawaffaahumum malaa’ikatu zhaalimii anfusihim…dst.” (An NIsaa’: 97) Ibnu Abbas berkata, “Maka dikirimlah surat berisi ayat tersebut kepada kaum muslimin yang tinggal di Mekah. Mereka (kaum muslimin) pun keluar, lalu ditemui oleh kaum musyrik, kemudian mereka menimpakan fitnah (gangguan kepada kaum muslimin), maka turunlah ayat ini, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah…dst.” (terj. Al ‘Ankabut: 10), maka kaum muslimin mengirimkan surat kepada mereka berisikan ayat tersebut. Mereka pun keluar (dari Mekah) dan nampak berputus asa dari semua kebaikan, kemudian turunlah ayat tentang mereka, “Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Kaum muslimin kemudian mengirimkan surat berisikan ayat tersebut dan menerangkan kepada mereka, “Bahwa Allah telah memberikan jalan keluar kepada kamu.” Mereka pun keluar dan ditemui oleh kaum musyrik, lalu mereka diperangi, di antara mereka ada yang selamat dan di antara mereka ada yang terbunuh]Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar[di atas ketaatan], sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengurus hamba-hamba-Nya yang ikhlas dengan kelembutan dan ihsan-Nya, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi orang yang berhijrah di jalan-Nya, meninggalkan tempat tinggal dan hartanya karena mencari keridhaan-Nya. Meskipun ia mendapat gangguan dalam menjalankan agamanya agar kembali kafir, namun ia tetap berada di atas keimanan, dan dapat pergi membawa iman, kemudian dia berjihad melawan musuh-musuh Allah untuk memasukkan mereka ke dalam agama Allah dengan lisan dan tangannya, dan bersabar dalam melakukan ibadah-ibadah yang berat itu. Ini merupakan sebab paling besar untuk memperoleh pemberian yang paling baik, yaitu ampunan Allah terhadap semua dosa besar maupun kecil. Di dalamnya mengandung selamat dari setiap perkara yang tidak diinginkan dan memperoleh rahmat-Nya yang besar, di mana dengan rahmat-Nya keadaan mereka menjadi baik, urusan agama dan dunia mereka semakin lurus. Demikian pula mereka akan mendapatkan rahmat Allah di hari kiamat].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s