Tafsir An Nahl Ayat 30-40

Ayat 30-32: Balasan bagi orang yang berbuat ihsan di dunia dan pemuliaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk mereka di akhirat.

وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ (٣٠)

30. [Dengan berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah]Kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini[Dengan berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah dan berbuat ihsan terhadap hamba-hamba Allah] mendapat (balasan) yang baik[dengan mendapatkan kehidupan yang baik seperti rezeki yang lapang, kehidupan yang menyenangkan, ketenteraman, keamanan dan kegembiraan]. Dan sesungguhnya negeri akhirat[surga] pasti lebih baik[dari kehidupan dunia dan kenikmatannya] dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (٣١)

31. (yaitu) surga-surga ‘And yang mereka masuki, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam (surga) itu mereka mendapat segala apa yang diinginkan[Allah Ta’ala memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan, sampai Allah mengingatkan mereka beberapa nikmat yang tidak terlintas di hati mereka. Maka Maha banyak keberkahan-Nya, di mana tidak ada habis-habisnya kepemurahan-Nya, dan tidak ada batas pemberian-Nya, di mana tidak ada yang serupa dengan-Nya baik sifat zat-Nya, sifat perbuatan-Nya, atsar (bekas atau pengaruh) dari sifat-sifat itu, keagungan dan kebesaran kerajaan-Nya]. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang yang bertakwa,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٣٢)

32. (yaitu) orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik[bersih dari kekafiran dan syirik. Mereka mati dalam keadaan senang dengan berita gembira dari malaikat yaitu surga yang akan dimasukinya, mereka melihatnya sehingga tidak merasakan sakitnya kematian. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menjaga ketakwaannya sampai akhir hayat], mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka)[dengan penghormatan dan memberi berita gembira, ketika maut datang kepada mereka], “Salaamun’alaikum[Selamat sejahtera bagimu dari segala musibah dan malapetaka], masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan[berupa iman, taqwa dan amal saleh. Amal merupakan sebab mereka masuk surga dan selamat dari neraka, akan tetapi amal tersebut dilakukan mereka berkat rahmat Allah dan karunia-Nya; bukan karena usaha dan kemampuan mereka. Mereka memasuki surga dengan ruhnya di alam kubur, kemudian memasuki dengan ruh dan badan mereka kelak di akhirat setelah hari kebangkitan].”

Ayat 33-34: Akibat orang yang menzalimi dirinya di dunia dan balasan orang yang datang pada hari Kiamat membawa dosa-dosa.

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ       (٣٣)

33. Tidak ada yang ditunggu mereka (orang kafir)[yang telah datang kepada mereka ayat-ayat, namun mereka tidak beriman, dan telah diperingatkan, namun tidak sadar] selain datangnya para malaikat kepada mereka[untuk mencabut nyawa mereka] atau datangnya perintah Tuhanmu[yakni kedatangan azab dari Allah untuk memusnahkan mereka atau kedatangan kiamat, karena sesungguhnya mereka telah berhak menerimanya]. Demikianlah yang telah diperbuat oleh orang-orang (kafir) sebelum mereka[yang mendustakan rasul-rasul, lalu dibinasakan]. Allah tidak menzalimi mereka[ketika mengazab mereka], justru merekalah yang selalu menzalimi diri mereka sendiri[dengan kekafiran, padahal mereka tidaklah diciptakan kecuali untuk beribadah kepada-Nya agar mereka mendapatkan kenikmatan yang sempurna di akhirat. Mereka menzalimi diri mereka dan meninggalkan sesuatu yang karenanya mereka diciptakan, serta menjatuhkan dirinya kepada kehinaan yang kekal dan kesengsaraan selamanya].

فَأَصَابَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (٣٤

34. Maka mereka ditimpa azab (akibat) perbuatan mereka dan diliputi oleh azab yang dulu selalu mereka perolok-olokan.

Ayat 35-40: Menerangkan bagaimana orang-orang musyrik tertipu dengan kesyirkkannya dan beralasan dengan qadar, ushul (dasar) dakwah para rasul adalah tauhid, menetapkan adanya kebangkitan dan hisab, dan menerangkan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dalam memberlakukan perintah-Nya.

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ (٣٥)

35. Dan orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya[Orang-orang musyrik beralasan terhadap perbuatan syirk mereka dengan kehendak Allah, yakni jika Allah menghendaki tentu mereka tidak akan berbuat syirk serta tidak mengharamkan sesuatu yang dihalalkan-Nya, seperti bahiirah, washilah, ham, dsb. (lihat Al Maa’idah: 103). Ini adalah alasan yang batil. Hal itu, karena jika alasan ini benar, tentu Allah tidak akan menyiksa orang-orang sebelum mereka yang telah berbuat syirk. Bahkan maksud mereka dengan mengatakan hal itu tidak lain untuk menolak kebenaran yang dibawa para rasul. Karena jika tidak demikian, sesungguhnya mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki alasan di hadapan Allah. Bukankah Allah telah memerintah dan melarang mereka? Membuat mereka mampu memikul yang dibebankan kepada mereka, memberikan kepada mereka kemampuan dan kehendak yang daripadanya muncul perbuatan mereka. Oleh karena itu, alasan mereka dengan taqdir ketika berbuat maksiat adalah alasan yang paling batil. Semua manusia merasakan, bahwa mereka dalam perbuatannya tidak dipaksa, karena Allah telah memberi mereka kemampuan dan kehendak. Jika seandainya perbuatan mereka dipaksa, maka tentu Allah tidak akan menghukum mereka. Oleh karena itu, pernyataan mereka bertentangan dengan dalil wahyu maupun dalil akal].” Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas[ dan tidak ditugaskan memberi hidayah. Dengan demikian, tidak ada alasan sedikit pun bagi seseorang di hadapan Allah jika Dia mengazab mereka, karena Dia telah mengutus para rasul-Nya untuk mengingatkan mereka].

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)

36. [Allah Ta’ala memberitahukan bahwa hujjah-Nya telah ditegakkan kepada semua umat dengan mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi sesembahan selain Allah. Terhadap seruan rasul tersebut, manusia terbagi menjadi dua golongan; ada yang mengikuti para rasul baik dalam hal ilmu maupun amal, dan ada pula yang tidak mengikutinya]Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[adalah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala],” Kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)[kamu tidak menemukan seorang pun yang mendustakan rasul kecuali akhir kehidupannya dengan dibinasakan].

إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٣٧)

37. Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk[keimanan. Menjadikan manusia beriman bukanlah tugas rasul. Artinya pahala dan hukuman terkait erat dengan dua hal; kehendak Allah SWT dan orientasi hamba untuk mewujudkan sebab-sebab yang membawa pada keselamatan atau kebinasaan. Hidayah Allah ada 2 macam. Pertama, hidayah dalam arti bimbingan dan tuntunan. Ini adalah peran yang dijalankan oleh para rasul dan kitab-kitab yang diturunkan pada mereka. Kedua, hidayah taufik dan pertolongan. Ini tergantung dengan sikap hamba dalam meniti jalan hidayah dan keimanan. Barangsiapa beriman, Allah SWT akan menambahnya dengan taufik kepada kebaikan. Dan barang siapa yang tersesat, kafir, dan berpaling], maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya [serta menjadikannya jauh dari kebenaran dan kebaikan], dan mereka tidak mempunyai penolong[dari azab Allah].

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لا يَبْعَثُ اللَّهُ مَنْ يَمُوتُ بَلَى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٣٨)

38. Dan mereka[orang-orang musyrik] bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

لِيُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي يَخْتَلِفُونَ فِيهِ وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا كَاذِبِينَ (٣٩)

39. [Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan hikmah dibangkitkan-Nya mereka]Agar Dia menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu[dengan kaum mukmin tentang perkara agama (baik perkara besar seperti ‘aqidah, maupun perkara yang ringan, seperti masalah furu’/cabang). Pada hari itu, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan yang benarnya], dan agar orang kafir itu mengetahui bahwa mereka adalah orang yang berdusta[dalam mengingkari kebangkitan. Mereka akan mengetahui kedustaan mereka saat mereka melihat amal mereka menjadi penyesalan bagi mereka, sesembahan yang mereka sembah ternyata tidak memberi mereka manfaat apa-apa, dan ketika mereka melihat apa yang mereka sembah menjadi bahan bakar api neraka, matahari dan bulan di gulung lalu dijatuhkan ke dalam neraka, demikian juga bintang-bintang, dan ketika itu jelaslah bagi penyembahnya bahwa semua itu adalah makhluk yang ditundukkan, dan bahwa semuanya butuh kepada Allah. Memenuhi semua kebutuhan mereka tidaklah sulit bagi Allah, bukankah apabila Dia berkehendak kepada sesuatu cukup mengatakan, “Jadilah!” Maka jadilah ia, tanpa ada yang menghalangi dan menolaknya, bahkan akan terjadi sesuai yang dikehendaki-Nya].

إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٤٠

40. Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu[ayat ini dimaksudkan untuk menguatkan kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s