Tafsir Ar Ra’d Ayat 12-24

Ayat 12-13: Bukti-bukti kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala di alam semesta yang salah di antaranya adalah guruh dan kilat

هُوَ الَّذِي يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنْشِئُ السَّحَابَ الثِّقَالَ     (١٢)

12. Dialah yang memperlihatkan kilat [yaitu kilasan cahaya terang di sela-sela awan mendung, disebabkan adanya dua awan yang berbeda muatan listriknya saling mendekat] kepadamu, yang menimbulkan ketakutan[Seperti bagi mereka yang sedang bepergian dan petani, khawatir dengan akibat yang ditimbulkannya, seperti dapat mengakibatkan buta] dan harapan[Seperti bagi mereka yang mukim, mengharap manfaat air hujan oleh orang-orang yang membutuhkannya untuk mengairi sawah dan ladang, membersihkan udara dari debu, asap dan mikroba] [Dalam menyikapi fenomena umum manusia terkelompok menjadi dua. Pertama, kelompok yang senang, gembira, dan berharap, karena membawa kebaikan baginya. Kedua, ada kelompok yang pesimis, mengeluh, tidak senang dan sedih karena bagi dirinya fenomena itu membawa keburukan baginya], dan Dia menjadikan mendung[Di mana dengannya suatu negeri dan penduduknya memperoleh manfaat yang banyak].

وَيُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ فَيُصِيبُ بِهَا مَنْ يَشَاءُ وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ (١٣

13.[Al Bazzar meriwayatkan dalam Kasyful Astar juz 3 hal. 54 dengan sanadnya dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang di antara sahabatnya kepada salah seorang tokoh Jahiliyyah, ia mengajak orang itu kepada Allah Tabaaraka wa Ta’aala, lalu orang itu berkata, “Apakah Tuhanmu yang engkau mengajakku kepada-Nya dari besi, atau dari perak atau dari emas?” Lalu sahabat itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya kembali yang kedua kalinya, dan orang itu berkata seperti sebelumnya. Kemudian Beliau mengutus sahabatnya untuk ketiga kalinya, namun orang itu masih tetap berkata seperti itu, lalu sahabat itu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu, maka Allah Tabaaraka wa Ta’aala mengirimkan halilintar kepadanya dan membakarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’aala telah mengirimkan kepada kawanmu halilintar lalu membakarnya.” Maka turunlah ayat ini, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki,” ] Dan guruh[Disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas tentang guruh, sbb:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا أَبَا الْقَاسِمِ أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ قَالَ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ فَقَالُوا فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ قَالَ زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ فَقَالُوْا صَدَقْتَ

Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Pernah datang beberapa orang yahudi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Abul Qaasim, beritahukanlah kami tentang guruh! Apa sebenarnya dia?” Beliau menjawab, “Dia adalah salah satu malaikat Allah yang ditugaskan mengurus awan mendung, di tangannya ada beberapa sabetan dari api, digiringnya awan dengan sabetan itu ke tempat yang Allah kehendaki.” Mereka bertanya lagi, “Lalu apa suara yang kami dengar ini?” Beliau menjawab, “Penggiringannya kepada awan ketika dia menggiringnya sampai tiba ke tempat yang diperintahkan.” Orang-orang Yahudi berkata, “Engkau benar.” (HR. Tirmidz)] bertasbih sambil memuji-Nya[mengucapkan Subhaanallah wa bihamdih], (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar[yaitu api yang keluar dari awan], lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara mereka berbantah-bantahan[Dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam] tentang Allah, dan Dia Mahakuat[Tidaklah Dia menginginkan sesuatu kecuali Dia melakukannya, tidak ada yang menolaknya, dan tidak ada yang dapat lolos dari-Nya. Oleh karena Dia yang menurunkan hujan, mengatur urusan, tunduk kepada-Nya semua makhluk besar yang ditakuti oleh manusia, dan lagi Dia Mahakuat, maka Dialah yang berhak disembah saja, tidak selain-Nya] [Abban meriwayatkan dari Anas ra., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Halilintar tidak menyambar orang yang berdzikir kepada Allah SWT.”].

Ayat 14-16: Allah Subhaanahu wa Ta’aala Dialah yang berhak ditujukan doa dan ibadah, dan segala sesuatu tunduk kepada-Nya

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلا فِي ضَلالٍ (١٤)

14. Hanya kepada Allah doa yang benar[akni Dialah Allah Tuhan yang segala ibadah sepatutnya hanya ditujukan kepada-Nya, seperti doa, takut dan cemas, cinta dan harap, tawakkal, menyembelih, ruku’ dan sujud, dsb. karena ketuhanan-Nya adalah benar, sedangkan ketuhanan selain-Nya adalah batil]. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka[Sedikit maupun banyak, terkait dengan urusan dunia maupun akhirat], tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya[Orang-orang yang berdoa kepada berhala dimisalkan seperti orang yang mengulurkan telapak tangannya yang terbuka ke air agar air sampai ke mulutnya. Hal ini tidak mungkin terjadi karena telapak tangan yang terbuka tidak dapat menampung air. Ada pula yang menafsirkan, bahwa orang yang berdoa kepada berhala seperti orang yang kehausan mengulurkan tangannya ke bawah sumur sedangkan airnya berada jauh darinya, dan sudah pasti air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Demikianlah keadaan orang-orang kafir, di saat mereka membutuhkan bantuan, berhala-berhala yang mereka sembah tidak dapat mengabulkan permintaan mereka, karena berhala itu sendiri fakir, tidak memiliki apa-apa meskipun seberat biji sawi]. Dan doa[atau ibadah] orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلالُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ    (١٥)

15. Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri[Seperti halnya orang-orang mukmin] maupun terpaksa[Seperti halnya orang-orang munafik] (dan sujud pula) bayang-bayang mereka[Segala sesuatu sujud sesuai keadaannya masing-masing. Jika semua makhluk bersujud kepada-Nya baik dengan senang atau terpaksa, maka dapat diketahui bahwa Allah Dialah Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah dan dipuji dengan sebenarnya, dan bahwa penuhanan selain-Nya adalah batil. Oleh karena itu, pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kebatilannya dan menyebutkan buktinya], pada waktu pagi dan petang hari.

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لا يَمْلِكُونَ لأنْفُسِهِمْ نَفْعًا وَلا ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (١٦)

16. Katakanlah (Muhammad)[Kepada orang-orang yang menyekutukan Allah dengan patung dan berhala, di mana mereka arahkan kurban dan ibadah kepada patung dan berhala itu], “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah[Kalau pun mereka tidak mengucapkannya, maka tidak ada jawaban selain itu].” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah[Seperti halnya patung dan berhala], padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi dirinya sendiri?[Dan kamu malah meninggalkan yang berkuasa memberikan manfaat dan menolak mudharrat. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan celaan]” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat[Yakni samakah orang kafir dengan orang mukmin?]? Atau samakah yang gelap dengan yang terang[Atau samakah kekafiran dengan keimanan? Samakah beribadah kepada makhluk yang lemah dengan beribadah kepada al Khaliq (Pencipta) yang memiliki nama dan sifat yang sempurna, yang menguasai makhluk hidup dan makhluk yang mati, yang di Tangan-Nya mencipta, mengatur, memberi manfaat dan menolak bahaya? Tentu tidak sama, sebagaimana kegelapan dengan cahaya tidak sama]? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka[Padahal kenyataannya sekutu-sekutu itu tidak mampu mencipta, dan lagi mereka dicipta]?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu[Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam mencipta. Oleh karena hanya Dia yang menciptakan segala sesuatu, maka Dia pula yang berhak disembah saja] dan Dia Tuhan Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.”

Ayat 17-18: Teguhnya kebenaran dan bermanfaatnya serta lemahnya kebatilan dan lenyapnya, dan bahwa setiap manusia memperoleh balasan amal perbuatannya masing-masing

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ (١٧)

17.[Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala membuat permisalan untuk kebenaran dan kebatilan] Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa yang mereka lebur dalam api[Seperti logam emas, perak, tembaga, dsb] untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya[Yaitu kotorannya] seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil[As Sa’diy berkata, “Allah Ta’aala mengumpamakan petunjuk yang menghidupkan hati dan ruh (manusia); yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya dengan air yang diturunkan-Nya untuk kehidupan manusia. Dia mengumpamakan apa yang ada dalam petunjuk yang mengandung manfaat secara umum dan banyak lagi dibutuhkan hamba dengan apa yang ada dalam air yang di dalamnya mengandung manfaat yang umum lagi dibutuhkan sekali. Allah mengumpamakan hati yang siap menerima petunjuk dan keadaannya yang berbeda-beda (pada masing-masing orang) dengan lembah yang dialiri air. Ada lembah yang besar yang menampung banyak air seperti hati yang besar yang menampung ilmu yang banyak. Ada pula lembah yang kecil yang menampung sedikit air seperti hati yang kecil yang menampung ilmu yang sedikit, dan begitulah seterusnya. Allah mengumpamakan apa yang ada dalam hati berupa syahwat dan syubhat ketika kebenaran datang kepadanya seperti buih yang berada di atas air dan buih yang berada di atas api yang sedang meleburkan logam perhiasan yang hendak dibersihkan dan dituang dalam cetakan, dan bahwa buih itu senantiasa mengambang di atas air lagi mengeruhkannya sampai akhirnya buih itu hilang dan lenyap, dan tinggallah yang bermanfaat bagi manusia berupa air yang jernih dan perhiasan yang murni. Seperti itulah syubhat dan syahwat, hati (yang baik) membencinya, melawannya dengan bukti-bukti yang benar dan keinginan yang keras sehingga syubhat dan syahwat itu hilang dan lenyap, dan tinggallah hati yang bersih lagi jernih yang di dalamnya tidak ada lagi selain yang memberi manfaat bagi manusia berupa pengetahuan terhadap kebenaran, pengutamaannya, dan rasa cinta kepadanya. Oleh karena itu, yang batil akan hilang dan dikalahkan oleh kebenaran, “Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (terj. Al Israa’: 81).”]. Adapun buih[yaitu buih yang mengambang di atas air atau buih dari logam yang dileburkan], akan hilang sebagai suatu yang tidak ada gunanya[Demikianlah kebatilan itu, ia akan hilang dan sirna meskipun dalam sebagian waktu berada di atas kebenaran]; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi[ Dalam waktu yang lama seperti air dan perhiasan. Demikianlah perumpamaan terhadap kebenaran]. Demikianlah Allah membuat perumpamaan[Agar kebenaran semakin jelas dari kebatilan, dan petunjuk semakin jelas dari kesesatan].

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَى وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لافْتَدَوْا بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (١٨)

18.[Stelah Allah Ta’ala menerangkan yang hak dan yang batil, maka Allah menerangkan bahwa manusia terbagi menjadi dua bagian; yang memenuhi seruan Tuhan-Nya dan yang tidak memenuhi seruan Tuhan-Nya. Disebutkan pula masing-masing balasannya] Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhan[Dengan menaati-Nya], mereka (disediakan) balasan yang baik[Berupa keadaan yang baik dan balasan yang baik, yaitu surga]. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya[Seperti halnya orang-orang kafir, setelah Allah memberikan permisalan untuk mereka dan menerangkan kebenaran kepada mereka, maka mereka akan mendapatkan keadaan yang buruk], sekiranya mereka memiliki semua yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus dirinya (dari azab) dengan itu[Kalau pun mereka memilikinya, namun tetap tidak diterima]. Orang-orang itu mendapat hisab yang buruk[Yakni semua amal buruk yang mereka kerjakan baik terkait dengan hak Allah maupun hak hamba Allah akan diberikan hukuman tanpa diampuni, dan mereka akan berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan tertulis (di hadapan). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun juga.” (Terj. Al Kahfi: 49)] dan tempat kediaman mereka Jahanam[Yang menghimpun segala siksa, berupa lapar yang sangat, haus yang sangat, panas yang sangat, makanan dan minuman yang tidak enak seperti zaqqum dan pohon yang berduri, minuman yang mendidih dan siksaan lainnya, wal ‘iyaadz billah] dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.

Ayat 19-24: Orang-orang yang beriman dan bagaimana mereka dapat mengambil manfaat dari nasihat Al Qur’an, serta beberapa sifat orang mukmin dan pemuliaan Allah untuk mereka di surga

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (١٩)

19.[Ada yang mengatakan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Hamzah dan Abu Jahal atau ‘Ammar dan Abu Jahal, wallahu a’lam. Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala membedakan antara orang yang berilmu lagi mengamalkannya dengan orang yang tidak berilmu lagi tidak beramal. Antara keduanya terdapat perbedaan, bahkan seperti antara langit dan bumi. Oleh karena itu, sepantasnya manusia berpikir siapakah di antara kedua orang itu yang lebih baik keadaannya, dan siapakah yang diikuti jalannya. Akan tetapi, tidak semua orang dapat mengambil pelajaran. Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. Mereka adalah manusia pilihan yang sifatnya sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya.] Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,

الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ (٢٠)

20. (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah[Yang diambil dari mereka dahulu (lihat Al A’raaf: 172), atau setiap perjanjian yang mereka buat dengan Allah seperti sumpah, nadzar, dsb] dan tidak melanggar perjanjian[Dengan tidak beriman atau dengan meninggalkan kewajiban],

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (٢١)

21. Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan[Yaitu hubungan kekerabatan (silaturahim) dan tali persaudaraan (ukhuwwah). Menurut As Sa’diy, ayat ini umum mencakup semua yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, seperti beriman kepada-Nya, beriman kepada Rasul-Nya, beribadah hanya kepada-Nya saja dan menaati Rasul-Nya. Mereka juga menyambung hubungan mereka dengan bapak dan ibu mereka, seperti dengan berbakti dan tidak mendurhakai. Mereka juga menyambung hubungan kekerabatan dengan bersilaturrahim, dan menyambung hubungan dengan lainnya yang diperintahkan untuk disambung, seperti dengan istri, kawan dan budak mereka, yaitu dengan memenuhi hak mereka secara sempurna, baik hak yang terkait dengan agama maupun dunia. Sebab yang menjadikan mereka menyambung apa yang diperintahkan untuk disambung adalah karena mereka takut kepada Allah dan takut terhadap hisab-Nya, sehingga mereka tidak berani bermaksiat atau meremehkan apa yang diperintahkan Allah karena takut kepada siksa-Nya dan berharap kepada pahala-Nya], dan mereka takut kepada Tuhannya[yakni ancaman-Nya] dan takut kepada hisab yang buruk.

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (٢٢)

22. Dan orang yang sabar[Baik sabar di atas ketaatan, sabar dalam meninggalkan yang haram, maupun sabar terhadap musibah dengan tidak keluh kesah] karena mencari keridhaan Tuhannya[Bukan karena mencari perhiasan dunia. Sabar karena mencari keridhaan Allah itulah sabar yang bermanfaat. Adapun sabar yang tujuannya sebagai uji nyali, di mana tujuannya adalah untuk berbangga-bangga, maka sabar tersebut tidaklah terpuji dan sia-sia, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah], mendirikan shalat[Dengan rukun, syarat, dan pelengkapnya lahir maupun batin], dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka[Baik pengeluaran yang wajib seperti zakat dan kaffarat, maupun pengeluaran yang sunat], secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan[ Seperti tindak kebodohan dari orang lain dengan sikap hilm (santun), gangguan dengan kesabaran, memberi ketika tidak diberi, memaafkan ketika dizalimi, menyambung hubungan ketika diputuskan dan membalas dengan kebaikan orang yang berbuat jahat kepada mereka]; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)[Di akhirat].

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (٢٣)

23. (yaitu) surga-surga ‘and[Surga sebagai tempat bermukim, di mana mereka tidak akan pindah darinya, dan tidak menginginkan pindah darinya, karena mereka tidak melihat kenikmatan yang lebih dari itu], mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang-orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;

سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (٢٤

24. (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera[Dari Allah Ta’ala] atasmu karena kesabaranmu[Ucapan selamat ini mengandung hilangnya semua yang tidak diinginkan dan diperolehnya semua yang diinginkan].” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu[Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki perhatian dalam untuk kebahagiaan dirinya, maka hendaknya ia berjihad melawan hawa nafsunya agar termasuk mereka yang disebut Allah sebagai orang-orang yang berakal sehingga memperoleh keberuntungan di akhirat, Allahumaj’alnaa minhum].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s