Tafsir Yusuf Ayat 15-29

Ayat 15-18: Menerangkan tentang kelembutan Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada orang-orang yang taat kepada-Nya, agar tidak tertipu dengan tangisan orang-orang zalim (tangisan buaya), dan menerangkan tentang bahaya dusta

فَلَمَّا ذَهَبُوا بِهِ وَأَجْمَعُوا أَنْ يَجْعَلُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِأَمْرِهِمْ هَذَا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (١٥)

15.[Setelah mereka mengemukakan alasan agar Yusuf dilepas bersama mereka, kemudian segala alasan yang menghalangi mereka jawab, maka Nabi Ya’qub ‘alaihis salam akhirnya melepas Beliau pergi bersama mereka] Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur[Mereka pun melakukannya. Mereka lepaskan bajunya setelah Beliau dipukuli terlebih dahulu dan dihinakan bahkan sampai hendak dibunuh, lalu mereka turunkan ke dalam sumur (sumur tersebut bagian bawahnya agak luas sedangkan bagian atasnya sempit). Ketika sampai di pertengahan sumur, mereka jatuhkan agar Beliau mati, namun Beliau terjatuh ke dalam air (tidak terkena batu yang ada di bawah), lalu Yusuf mendatangi batu yang ada di sana. Kemudian mereka memanggil Yusuf dari atas, maka Yusuf menjawabnya karena ia mengira bahwa mereka berubah menjadi kasihan terhadapnya, ternyata mereka malah hendak menimpakan batu besar kepada Beliau, maka Yahudza melarang mereka], Kami wahyukan kepadanya[Saat Beliau berada di dalam sumur untuk menenteramkan hatinya, sedang usia Beliau ketika itu 17 tahun atau kurang], “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”

وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ (١٦)

16. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka pada sore hari sambil menangis[Kedatangan mereka pada sore hari (terlambat) dan sambil menangis dimaksudkan agar menjadi penguat terhadap ucapan mereka].

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ (١٧)

17. Mereka berkata, “Wahai ayah Kami! Sesungguhnya kami pergi berlomba[ Yakni berlomba lari atau panah-memanah] dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau tidak akan percaya kepada kami[Karena kecintaanmu kepada Yusuf dan persangkaanmu yang buruk terhadap kami], sekalipun kami berkata benar[dengan kata-kata ini mereka berusaha menguatkan ucapan mereka].”

وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ (١٨)

18. Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu[Mereka menggunakan darah anak kambing (sebagaimana disebutkan Mujahid, As Suddiy dan lainnya) yang mereka sembelih untuk melumuri baju gamisnya, namun mereka lupa tidak merobek-robek baju itu sehingga Nabi Ya’qub mengetahui kedustaannya]. Dia (Ya’kub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu[Yaitu menjauhkan aku dengan Yusuf]; maka hanya bersabar yang baik[kesabaran yang baik adalah kesabaran yang bersih dari sikap marah-marah, keluh kesah, dan dari mengadu kepada makhluk, serta menjadikan dirinya mengadu kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya terhadap hal itu, dan tidak bersandar kepada kemampuannya] itulah (yang aku lakukan). Dan hanya kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

 

Ayat 19-22: Nabi Yusuf ‘alaihis salam bersama pembesar Mesir, dan bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberikan tempat kepada Beliau di bumi

وَجَاءَتْ سَيَّارَةٌ فَأَرْسَلُوا وَارِدَهُمْ فَأَدْلَى دَلْوَهُ قَالَ يَا بُشْرَى هَذَا غُلامٌ وَأَسَرُّوهُ بِضَاعَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَعْمَلُونَ (١٩)

19. Kemudian datanglah sekelompok musafir[Yang datang dari Madyan menuju Mesir, lalu mereka singgah di dekat sumur di mana Yusuf berada. Muhammad bin Ishaq berkata, “Ketika saudara-saudara Yusuf melempar Yusuf ke sumur, mereka duduk-duduk di sana pada hari itu menunggu apa yang akan dilakukan Yusuf atau yang akan terjadi padanya, maka Allah mengarahkan sekelompok musafir kepadanya yang kemudian singgah di dekat sumur itu. Mereka pun mengutus seorang pengambil air, yakni orang yang diminta mengambilkan air. Ketika ia mendatangi sumur itu dan melepaskan timbanya, Yusuf bergantung ke timba itu, lalu pengambil air itu menariknya dan merasa gembira sambil berkata, “Oh senangnya, …dst.”], mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu dia menurunkan timbanya. Dia berkata, “Oh; senangnya, ini ada seorang anak muda!” Kemudian mereka[“Mereka” di sini menurut sebagian mufasir (ahli tafsir) adalah orang-orang yang mendatangi sumur itu, sedangkan menurut mufasir lain adalah saudara-saudara Yusuf yang berada di dekat sumur] menyembunyikan perkaranya (sambil menjadikan) sebagai barang dagangan[Maksud ayat, “mereka menyembunyikan perkaranya” ada beberapa tafsiran. Menurut Mujahid, As Suddiy dan Ibnu Jarir, bahwa orang-orang yang mendatangi sumur menyembunyikan perkara sebenarnya dari kelompok musafir lainnya dan berkata, “Kami membeli anak ini dari para pemilik air” karena khawatir mereka mengambil bagiannya jika mengetahui keadaan yang sebenarnya. Namun menurut yang lain, bahwa saudara-saudara Yusuf (yang ketika itu berada di dekat sumur pula) menyembunyikan keadaan saudaranya, bahwa ia saudara mereka, dan mengatakan, “Ini adalah budak kami yang melarikan diri.” Yusuf pun diam karena khawatir saudara-saudaranya akan membunuhnya dan ia lebih memilih dijual-belikan atau dijadikan barang dagangan oleh saudara-saudaranya. Kemudian saudara-saudara Yusuf menjualnya dengan harga yang rendah, yaitu beberapa dirham saja seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya karena mereka ingin menjauhkan Beliau dari bapaknya]. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

وَشَرَوْهُ بِثَمَنٍ بَخْسٍ دَرَاهِمَ مَعْدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ (٢٠)

20. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja[Menurut Ibnu Mas’ud, mereka menjualnya seharga 20 dirham. Sedangkan menurut ‘Ikrimah, mereka menjualnya seharga 40 dirham, walahu a’lam], sebab mereka tidak tertarik kepadanya[Mereka di sini bisa kembalinya kepada sekelompok musafir, yakni mereka tidak tertarik kepada Yusuf karena dia anak temuan dalam perjalanan. Mereka khawatir kalau pemiliknya datang mengambilnya. Oleh karena itu, mereka segera menjualnya meskipun dangan harga yang murah. Bisa juga kata “mereka” di sini kembalinya kepada saudara-saudara Yusuf karena mereka membencinya, wallahu a’lam].

وَقَالَ الَّذِي اشْتَرَاهُ مِنْ مِصْرَ لامْرَأَتِهِ أَكْرِمِي مَثْوَاهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأرْضِ وَلِنُعَلِّمَهُ مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢١)

21. Dan orang dari Mesir yang membelinya[Dari sekelompok musafir] berkata kepada isterinya[Orang Mesir yang membeli Yusuf ‘alaihis salam itu seorang menteri negara bernama Qithfir, sebagai pemegang harta kekayaan negeri Mesir, sedangkan istrinya bernama Ra’il (demikian menurut Ibnu Abbas), namun yang lain mengatakan, bahwa nama istrinya adalah Zulaikha. Raja Mesir ketika itu bernama Ar Rayyan bin Al Walid seorang yang berasal dari kaum ‘Amaliq. Qithfir kemudian membelinya dengan harga 20 dinar ditambah dua pasang sandal dan dua buah baju], “Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita[Sebagaimana budak memberikan banyak pelayanan kepada tuannya] atau kita pungut dia sebagai anak[Yakni sebagaimana Kami menyelamatkan Yusuf dari pembunuhan, ketika berada di sumur, dan dijadikan hati Qithfir sayang kepadanya].” Dan demikianlah[Melalui jalan ini] Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di negeri (Mesir)[21], dan agar Kami ajarkan kepadanya takwil mimpi[Ketika Beliau tinggal di sana tanpa diberikan banyak kesibukan dan perhatian Beliau tertuju kepada ilmu, maka yang demikian menjadi sebab Beliau banyak memperoleh ilmu, ilmu tentang hukum-hukum, takwil mimpi, dan lainnya]. Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (٢٢

22. Dan ketika dia telah cukup dewasa[Yaitu ketika Beliau semakin kuat baik batin maupun zhahir (fisik); kuat memikul beban-beban kenabian dan kerasulan, yaitu ketika berusia 30 atau 33 tahun] Kami berikan kepadanya Hikmah[Maksudnya, dijadikan nabi dan rasul] dan ilmu[Yakni pemahaman terhadap agama]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik[Baik dalam beribadah kepada Allah maupun dalam bergaul dengan hamba-hamba Allah. Allah memberikan balasan kepada mereka yang berbuat baik atas kebaikan mereka dengan ilmu yang bermanfaat, Allahummaj’alnaa minhum, Allahummaj’alnaa minhum, Allahummaj’alnaa minhum, Allahumma aamin].

 

Ayat 23-29: Rayuan istri Al ‘Aziz kepada Yusuf ‘alaihis salam, dan bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta’aala melindungi Nabi-Nya dan menjaganya dari maksiat, haramnya berduaan dengan wanita yang bukan mahram, serta perintah menjaga kehormatan rumah tangga

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (٢٣)

23.[Ayat ini dan setelahnya menerangkan ujian yang dialami Nabi Yusuf ‘alaihis salam, dan ujian ini lebih berat daripada ujian sebelumnya dari saudara-saudaranya. Hal itu, karena kesabaran dalam ujian ini adalah kesabaran atas dasar pilihan dengan banyak pendorong untuk melakukannya, namun Beliau lebih mengutamakan kecintaan Allah daripada menuruti hawa nafsunya. Adapun kesabarannya terhadap ujian yang diterimanya dari saudara-saudaranya adalah kesabaran karena terpaksa sebagaimana kesabaran terhadap penyakit dan musibah yang menimpa seseorang tanpa ada pilihan di sana, di mana tidak ada sikap lain selain harus tetap bersabar] Dan perempuan[Zulaikha] yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik[Sehingga tidak mungkin aku akan mengkhianati orang yang telah berbuat baik kepadaku, dan yang demikian adalah kezaliman, sedangkan orang-orang yang zalim tidak akan beruntung].” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (٢٤)

24. Sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya[Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihis salam mempunyai keinginan yang buruk terhadap wanita itu (Zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya sehingga jika dia tidak dikuatkan dengan tanda dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala yang menghalanginya tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan. Tentang tanda dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan, bahwa dibayangkan kepadanya wajah bapaknya Ya’qub ‘alaihis salam, atau dibayangkan kepadanya wajah tuannya, atau dilihat atap di atasnya tulisan yang isinya melarang berbuat zina, dan ada yang mengatakan bahwa tanda tersebut adalah ilmu dan iman yang ada pada dirinya yang membuatnya meninggalkan larangan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, wallahu a’lam]. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan[Yaitu sifat khianat] dan kekejian[Yaitu zina]. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih[Dalam sebuah qira’at dibaca dengan “mukhlishin”, yang artinya termasuk orang-orang yang ikhlas dalam ketaatan].

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ قَالَتْ مَا جَزَاءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوءًا إِلا أَنْ يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (٢٥)

25.[Kemudian Yusuf pergi ke pintu untuk melarikan diri dari wanita itu] Dan keduanya berlomba menuju pintu dan perempuan itu menarik baju gamisnya (Yusuf) dari belakang hingga koyak dan keduanya mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Dia (perempuan) itu berkata[Untuk membersihkan dirinya], “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih[Yakni dipukuli]?”

قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ قُبُلٍ فَصَدَقَتْ وَهُوَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (٢٦)

26. Dia (Yusuf) berkata, “Dia yang menggodaku dan merayu diriku[Ketika itu perkataan Zulaikha mengandung kemungkinan benar atau salah, namun belum dapat dipastikan. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan untuk kebenaran dan kejujuran tanda yang menunjukkan terhadapnya, terkadang manusia mengetahui dan terkadang tidak].” Seorang saksi dari keluarga perempuan[Yaitu putera pamannya. Ada yang mengatakan, bahwa ia masih kecil dalam buaian berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani bahwa tidak ada yang dapat berbicara dalam buaian selain empat orang: Nabi Isa, saksi Yusuf, kawan Juraij, dan anak tukang sisir (Mashitoh) Fir’aun. Pendapat lain mengatakan, bahwa saksi tersebut adalah orang yang sudah dewasa dan berjanggut berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma] itu memberikan kesaksian, “Jika baju gamis koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar dan dia (Yusuf) termasuk orang yang dusta[Karena jika demikian berarti Yusuf yang mendatanginya dan si wanita menolaknya].

وَإِنْ كَانَ قَمِيصُهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ فَكَذَبَتْ وَهُوَ مِنَ الصَّادِقِينَ (٢٧)

27. Dan jika baju gamisnya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk orang yang benar[Karena jika demikian, berarti Yusuf berpaling darinya namun ditarik oleh wanita itu].”

فَلَمَّا رَأَى قَمِيصَهُ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَالَ إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ (٢٨)

28. Maka ketika dia (suami wanita itu) melihat baju gamisnya (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia berkata, “Sesungguhnya ini[Yakni ucapan istrinya, “Apakah balasan terhadap orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan siksa yang pedih?”] adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat.”

يُوسُفُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنْتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ (٢٩

29. Wahai Yusuf! Lupakanlah ini[Maksudnya, rahasiakanlah peristiwa ini agar tidak tersebar. Namun kenyataannya malah tersebar seperti yang tersebut dalam ayat selanjutnya, di mana kaum wanita membicarakannya sehingga mencela istri Al ‘Aziz], dan (kamu wahai isteriku) mohonlah ampunan atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s