Tafsir Yunus Ayat 71-86

Ayat 71-74: Di antara kisah Nabi Nuh ‘alaihis salam bersama kaumnya, dan isyarat terhadap para rasul setelahnya

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلا تُنْظِرُونِ (٧١) فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٧٢) فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (٧٣) ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ نَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ        (٧٤)

71. Dan bacakanIah (wahai Muhammad) kepada mereka[Penduduk Mekah] berita penting (tentang) Nuh[Ketika ia berdakwah kepada kaumnya, di mana Beliau berdakwah dalam waktu yang sangat lama. Beliau tinggal di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun, namun dakwah Beliau tidak menambah mereka mendekat, tetapi malah menambah mereka menjauh dan melampaui batas. Beliau tidak bosan dan berhenti berdakwah, bahkan kaumnya yang lama-kelamaan bosan, hingga kemudian Nabi Nuh ‘alaihis salam berkata kepada kaumnya sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas] di waktu dia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Jika terasa berat bagimu aku tinggal (bersamamu) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah[lalu kalian hendak menimpakan malapetaka kepadaku], maka kepada Allah aku bertawakal. Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), dan janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, kemudian bertindaklah terhadap diriku, dan janganlah kamu tunda lagi[ini merupakan bukti yang kuat yang menunjukkan kebenaran risalahnya dan apa yang Nabi Nuh ‘alaihis salam bawa, di mana Beliau hanya sendiri, tidak ada keluarga yang melindungi dan pasukan yang membelanya. Beliau berdakwah dengan menerangkan kesalahan pandangan kaumnya, agama yang mereka pegang, serta menerangkan cacat patung dan berhala yang mereka sembah. Oleh karenanya kaumnya semakin marah dan memusuhi Beliau, sedangkan mereka memiliki kemampuan dan kekuasaan. Kemudian Nabi Nuh ‘alaihis salam berkata sambil bertawakkal kepada Allah, Karena itu bulatkanlah keputusanmu dan kumpulkanlah sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku).” Yakni berkumpullah kamu bersama para sekutumu dan tunjukkanlah tipu daya yang hendak kamu timpakan kepadaku lalu lakukanlah tipu daya itu jika kamu mampu. Mereka pun tidak mampu melakukannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa Beliau benar dan bahwa mereka berdusta].

72. Maka jika kamu berpaling (dari peringatanku), (padahal) aku tidak meminta imbalan sedikit pun darimu[sehingga kamu menolaknya dengan alasan, bahwa aku berdakwah dengan maksud diberi imbalan darimu]. Imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah, dan aku diperintah agar aku termasuk golongan orang-orang muslim (berserah diri);

73. Kemudian mereka mendustakannya (Nuh)[setelah Beliau berdakwah di malam dan siang, secara sembunyi dan terang-terangan], lalu Kami selamatkan dia dan orang yang bersamanya di dalam kapal[yang diperintahkan Allah kepadanya untuk dibuat, lalu diperintahkan kepadanya agar ia memasukkan juga ke dalam kapalnya di samping pengikutnya semua binatang secara berpasang-pasangan. Maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lebat, dan bumi untuk memancarkan air, hingga timbullah banjir yang besar], dan Kami jadikan mereka itu khalifah serta Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu[mereka dibinasakan, mendapat laknat, dan tidak disebut-sebut selain celaan. Oleh karena itu, hendaknya orang-orang yang mendustakan rasul takut jika mereka mengalami seperti yang dialami orang-orang terdahulu yang binasa].

74. Kemudian setelahnya (Nuh), Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing)[yang mengajak mereka kepada petunjuk dan menjauhi segala sebab yang dapat membinasakan], maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan yang jelas (mukjizat), tetapi mereka tidak mau beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya[maksudnya adalah bahwa mereka sebelum diutus rasul biasa mendustakan yang benar. Bisa juga maksudnya, bahwa ketika rasul datang kepada mereka, kemudian mereka segera mendustakannya, maka Allah menghukum mereka dengan mengunci hati mereka dan dihalangi-Nya mereka dari beriman setelah mereka mampu melakukannya]. Demikianlah Kami mengunci hati orang-orang yang melampaui batas[sehingga tidak bisa dimasuki oleh kebaikan dan keimanan. Allah tidaklah menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka dengan menolak kebenaran ketika datang dan mendustakannya pertama kali].

Ayat 75-78: Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam kepada Fir’aun dan kaumnya dengan membawa mukjizat, namun mereka bersikap sombong dan tidak mau beriman

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (٧٥) فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ (٧٦) قَالَ مُوسَى أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ أَسِحْرٌ هَذَا وَلا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ (٧٧) قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ (٧٨

75. Kemudian setelah mereka, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya[diutusnya Musa dan Harun kepada penguasa, karena rakyat mengikuti penguasa], dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami (mukjizat), ternyata mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

76. Maka ketika telah datang kepada mereka kebenaran[mukjizat, tanda-tanda kekuasaan Allah] dari sisi Kami[melalui tangan Nabi Musa ‘alaihis salam, di mana tongkatnya bisa berubah menjadi ular yang besar dan tangannya bercahaya], mereka berkata, “Ini benar-benar sihir yang nyata.”

77. Musa berkata, “Pantaskah kamu mengatakan terhadap kebenaran ketika ia datang kepadamu, sihirkah ini?”[yakni lihatlah sifatnya dan apa yang ada di dalamnya, kamu akan mengetahui bahwa ia merupakan kebenaran] Padahal para pesihir itu tidaklah mendapat kemenangan.”

78. Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa (kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya (berupa menyembah berhala)[dan beralih hanya menyembah Allah saja], dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)?[perkataan ini merupakan pengelabuan dari mereka agar orang-orang awam mendukung mereka memusuhi Nabi Musa ‘alaihis salam dan tidak beriman kepadanya. Membantah kebenaran dengan perkataan yang seperti ini menunjukkan tidak mampunya mereka membantah hujjah lawannya, karena kalau ia memang memiliki hujjah, tentu tidak beralih mengatakan, “Maksudmu adalah begini dan begitu!” padahal orang yang mengetahui keadaan Nabi Musa ‘alaihis salam serta dakwahnya akan mengetahui, bahwa ia tidak bermaksud memperoleh kekuasaan di muka bumi, bahkan maksud Beliau sama dengan saudaranya yang lain dari kalangan para rasul, yaitu menunjukkan manusia dan mengarahkan mereka kepada hal yang bermanfaat bagi mereka] Kami tidak akan mempercayai kamu berdua[karena sombong dan keras kepala, bukan karena batilnya apa yang dibawa Musa dan Harun atau karena samarnya apa yang dibawa keduanya. Bahkan ucapannya tidak lain karena zhalim dan aniaya serta ingin tetap berkuasa di bumi yang mereka tuduhkan kepada Musa dan Harun].”

Ayat 79-86: Jahatnya kebatilan dan kalahnya dia ketika berhadapan dengan kebenaran, perintah Nabi Musa ‘alaihis salam kepada kaumnya agar bertawakkal kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan pertolongan Allah kepada mereka

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ (٧٩) فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (٨٠) فَلَمَّا أَلْقَوْا قَالَ مُوسَى مَا جِئْتُمْ بِهِ السِّحْرُ إِنَّ اللَّهَ سَيُبْطِلُهُ إِنَّ اللَّهَ لا يُصْلِحُ عَمَلَ الْمُفْسِدِينَ (٨١) وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ (٨٢) فَمَا آمَنَ لِمُوسَى إِلا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ (٨٣) وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ (٨٤) فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٨٥) وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (٨٦

79. Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka kaumnya), “Datangkanlah kepadaku semua pesihir yang ulung!”[maka dikirimlah beberapa orang untuk mencari tukang sihir yang ada di berbagai kota di Mesir dengan beragam tingkatan mereka]

80. Maka ketika para pesihir itu datang[untuk mengalahkan Musa], Musa berkata kepada mereka[setelah para penyihir berkata kepadanya, “Kamukah yang melempar lebih dulu ataukah kami yang melempar?”], “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!”

81. Setelah mereka melemparkan[tali dan tongkat mereka, maka tali dan tongkat mereka seakan-akan berubah menjadi ular yang merayap cepat], Musa berkata, “Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan[karena maksud mereka adalah membela yang batil untuk melawan kebenaran. Demikianlah setiap orang yang mengerjakan kerusakan, meskipun ia telah melakukan tipu daya, membuat makar, dsb. namun perbuatannya akan batal dan hilang meskipun dalam waktu tertentu laris diterima orang, namun lama-kelamaan akan batal dan hilang. Adapun orang-orang yang mengadakan perbaikan, di mana niat mereka dalam amalnya adalah mencari ridha Allah, maka Allah akan memperbaiki amal mereka dan menaikkannya serta mengembangkannya].”

82. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya[maka Nabi Musa ‘alaihis salam melempar tongkatnya, lalu tongkat itu menjadi ular yang besar, kemudian menelan semua tali dan tongkat mereka yang nampak seakan-akan ular. Ketika itu batallah sihir mereka dan lenyaplah kebatilan mereka, dan ketika itu pula para pesihir pun tersungkur sujud saat mereka menyaksikan kebenaran Nabi Musa ‘alaihis salam. Kemudian Fir’aun mengancam mereka dengan akan menyalib, memotong tangan dan kaki secara bersilang, namun para pesihir itu tidak peduli dan tetap kokoh di atas keimanannya. Sedangkan Fir’aun, para pemukanya dan para pengikutnya, tetap tidak beriman, bahkan tetap di atas kesesatannya].

83. Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya[ada yang mengatakan, bahwa mereka ini adalah para pemuda Bani Israil. Yang demikian adalah karena biasanya yang lebih segera menerima kebenaran adalah para pemuda, berbeda dengan orang-orang yang sudah tua, di mana mereka sudah terbina di atas kekufuran, dalam hati mereka telah mengakar keyakinan-keyakinan yang rusak sehingga sulit dilepaskan] dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir’aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas[dengan mengaku sebagai tuhan].

84. Dan Musa berkata[menasehati kaumnya untuk bersabar dan mengingatkan mereka sesuatu yang dapat membantu mereka untuk bersabar], “Wahai kaumku! apabila kamu beriman kepada Allah[yakni kerjakanlah tugas keimananmu], maka bertawakkallah kepada-Nya, jika kamu benar-benar orang muslim (berserah diri).”

85. Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim[janganlah Engkau berikan kekuasaan kepada mereka terhadap kami sehingga mereka akan menyiksa kami atau mereka mengalahkan kami sehingga kami terfitnah karenanya dan berkata, “Kalau memang Musa dan Harun berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak akan kalah.”],

86. dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir[agar kami selamat dari kejahatan mereka dan agar kami dapat menjalankan agama kami dan menegakkan syi’ar-syi’arnya tanpa ada yang menghalangi].”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s