Tafsir Yunus Ayat 21-33

Ayat 21-23: Menerangkan tabiat manusia, yaitu kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala ketika merasakan kesulitan, dan bahwa orang yang terdesak dikabulkan doanya meskipun kafir

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُمْ إِذَا لَهُمْ مَكْرٌ فِي آيَاتِنَا قُلِ اللَّهُ أَسْرَعُ مَكْرًا إِنَّ رُسُلَنَا يَكْتُبُونَ مَا تَمْكُرُونَ (٢١)هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (٢٢) فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٢٣

21. Dan apabila Kami memberikan suatu rahmat kepada manusia, setelah mereka ditimpa bencana[ Seperti hujan dan kesuburan setelah sebelumnya kemarau panjang, atau sehat setelah sebelumnya sakit, atau kaya setelah sebelumnya miskin, dan aman setelah sebelumnya ditimpa ketakutan], mereka segera melakukan segala tipu daya (menentang) ayat-ayat Kami[Dengan melakukan pengolok-olokkan dan mendustakan serta berusaha menolak kebenaran. Mereka lupa padahal sebelumnya mereka ditimpa bencana, mereka tidak bersyukur ketika mendapatkan rahmat, bahkan malah tetap di atas kesesatannya]. Katakanlah, “Allah lebih cepat makarnya (atas tipu daya itu)[Dan makar yang buruk tidaklah menimpa kecuali kepada pelakunya; tipu daya mereka akan berbalik kepada mereka, bahkan para malaikat mencatatnya untuk kemudian diberikan balasan terhadapnya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman Al Khumais berkata, “Hakikat makar disini adalah siasat kokoh untuk menimpakan hukuman kepada pelaku dosa dari arah yang tidak dia sadari. Ia (makar) lebih khusus daripada kata pembalasan, karena ia adalah hukuman dengan cara yang khusus. Oleh karena itu, makar dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah siasat untuk menolak tipu daya pembuat makar agar kembali menimpanya serta menimpakan hukuman kepadanya dari arah yang tidak dia sadari, serta membalasnya sesuai amal dan niatnya. Hal yang termasuk wajib diketahui, bahwa nama maakir (pembuat makar) tidak dimutlakkan kepada Allah karena mengambil kesimpulan dari ayat ini. Mahasuci Allah (dari memiliki nama maakir), bahkan yang benar dikatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah sebaik-baik pembuat makar, dan Allah menimpakan makar kepada orang-orang kafir dan munafik, sehingga seorang yang mengucapkannya berhenti pada batas yang disebutkan dalam nash secara muqayyad (terikat) agar tidak memberikan kesan keliru karena dengan menisbatkan sesuatu kepada Allah Ta’ala yang Dia tidak menyebutkannya.”].” Sesungguhnya malaikat-malaikat Kami mencatat tipu dayamu.

22.[Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kebiasaan manusia ketika mendapatkan rahmat setelah sebelumnya mendapat bencana, Allah menyebutkan keadaan yang sama seperti itu untuk menguatkan, yaitu keadaan mereka ketika di tengah lautan saat badai dan gelombang datang menerpa mereka] Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (dan berlayar) di lautan[Dengan memudahkan sebab-sebabnya dan menunjukkan kepadanya]. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah (kapal) itu membawa mereka (orang-orang yang ada di dalamnya) dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya; tiba-tiba datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru, dan mereka mengira telah terkepung (bahaya)[Mereka yakin akan binasa, ketika itu ketergantungan mereka kepada makhluk terputus, mereka tahu bahwa makhluk tidak dapat berbuat apa-apa terlebih sesembahan mereka seperti patung dan berhala, dan mereka menyadari bahwa tidak ada yang mampu menyelamatkan mereka dari bahaya besar itu kecuali Allah saja, maka ketika itu mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan berjanji akan bersyukur kepada-Nya], maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata. (Seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti Kami termasuk orang-orang yang bersyukur[yakni orang-orang yang mengesakan Engkau, ya Allah].”

23. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka, malah mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar[yaitu dengan berbuat syirk. Mereka lupa terhadap peristiwa itu dan doa yang mereka panjatkan kepada Allah saat itu serta janji yang mereka ungkapkan. Mereka lupa kepada semua itu dan berbuat syirk lagi kepada Allah]. Wahai manusia! Sesungguhnya kezalimanmu bahayanya akan menimpa dirimu sendiri[yakni dosanya ditangung olehmu sendiri]; itu hanya kenikmatan hidup duniawi[yang hanya sebentar], selanjutnya kepada Kami-lah kembalimu[setelah mati], kelak Kami akan kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan[ Lalu Allah memberikan balasan terhadapnya. Dalam ayat ini terdapat peringatan yang dalam terhadap mereka jika tetap di atas perbuatan itu].

Ayat 24-25: Zuhud terhadap dunia tidak akan tegak kecuali setelah memperhatikan keadaan dunia yang sebentar dan tidak kekal, dan memperhatikan akhirat yang merupakan negeri yang kekal, serta seruan Allah kepada manusia agar menempuh jalan ke Darussalam (surga)

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢٤) وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٢٥

24. Sesungguhnya perumpamaan[sifat] kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur (karena air itu), di antaranya ada yang dimakan manusia[seperti beras dan gandum] dan hewan ternak[seperti rerumputan]. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias[bumi menjadi indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan tanam-tanamannya, indah dipandang mata dan menyegarkan jiwa], dan permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya (dapat memetik hasilnya)[Mereka semakin berharap bahwa kenikmatan itu akan tetap terus dan langgeng bagi mereka karena keinginan mereka yang hanya terbatas kepadanya dan harapan mereka yang sampai di sana], datanglah kepadanya perkara Kami[Qadha’ (keputusan) atau azab Kami] pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanamannya) seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin[seakan-akan sebelumnya tidak ada, maka tangannya pun kosong dan hatinya pun penuh rasa sedih. Seperti inilah keadaan dunia]. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami)[dengan menerangkannya, memperjelasnya dan memudahkan untuk dipahami dan dicerna] kepada orang yang berpikir[orang yang mau menggunakan akal pikiran mereka untuk hal yang bermanfaat bagi mereka. Adapun orang yang lalai lagi berpaling, maka ayat-ayat itu tidak bermanfaat bagi mereka, dan penjelasannya tidak menyingkirkan keraguan].

25.[Setelah Allah menerangkan keadaan dunia dan hasil dari kenikmatannya, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala mendorong manusia kepada kehidupan akhirat] Dan Allah menyeru (manusia) ke darussalam (surga)[Allah mengajak manusia tanpa terkecuali ke surga dengan mengajak mereka beriman. Namun hidayah-Nya hanya diberikan kepada orang yang Dia kehendaki, inilah ihsan dan karunia-Nya; Dia khususkan rahmat-Nya kepada yang Dia kehendaki, sedangkan seruan-Nya diarahkan kepada semua manusia tanpa terkecuali, inilah keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Arti kata darussalam adalah tempat yang penuh kedamaian dan keselamatan. Surga disebut Darussalam karena bersihnya dari segala musibah dan kekurangan. Hal itu tidak lain karena sempurna kenikmatannya, kesempurnaannya dan kekekalannya serta keindahannya di atas segala sesuatu], dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam).

Ayat 26-27: Perbandingan antara kenikmatan penghuni surga dan pahala yang disiapkan untuk mereka dengan orang-orang yang mengerjakan keburukan dan balasan yang akan mereka dapatkan, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidaklah berbuat zalim kepada mereka

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٦) وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٧

26.[Setelah Allah mengajak manusia ke Darussalam, seakan-akan setiap jiwa menjadi rindu untuk mengerjakan amalan yang dapat memasukkan ke surga] Bagi orang-orang yang berbuat baik[Dengan berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah, yaitu dengan beribadah sambil merasakan seakan-akan melihat-Nya atau minimal merasakan pengawasan dari-Nya. Demikian juga berbuat ihsan kepada hamba-hamba Allah dengan melakukan perbuatan baik yang mampu dilakukan baik berupa perkataan maupun perbuatan kepada hamba-hamba Allah, termasuk di dalamnya beramar ma’ruf dan bernahi munkar, mengajarkan orang yang tidak tahu, menasehati orang yang berpaling, dsb], ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya[yang dimaksud dengan tambahannya ialah kenikmatan melihat Allah Subhaanahu wa Ta’aala, mendengarkan firman-Nya, memperoleh keridhaan-Nya, senang karena bisa dekat dengan-Nya]. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan[muka mereka berseri-seri dan tidak ada sedikit pun tanda kesusahan]. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

27. Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan[seperti melakukan kekafiran, kesyirikan dan mendustakan para rasul] (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diliputi oleh kehinaan[yang menimpa hati mereka, dan terus menyebar ke lahiriah mereka sehingga wajah mereka hitam]. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya[Betapa jauh perbedaan antara penghuni surga dengan penghuni neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka. Ya Allah, masukkanlah kami ke surga dan jauhkanlah kami dari neraka].

Ayat 28-33: Keadaan kaum musyrik dan sembahan yang mereka sembah pada hari Kiamat, dan penegakkan dalil terhadap keberhakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala untuk disembah; tidak selain-Nya

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا مَكَانَكُمْ أَنْتُمْ وَشُرَكَاؤُكُمْ فَزَيَّلْنَا بَيْنَهُمْ وَقَالَ شُرَكَاؤُهُمْ مَا كُنْتُمْ إِيَّانَا تَعْبُدُونَ  (٢٨) فَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ إِنْ كُنَّا عَنْ عِبَادَتِكُمْ لَغَافِلِينَ (٢٩) هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلاهُمُ الْحَقِّ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ       (٣٠) قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ أَمْ مَنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الأمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ (٣١) فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (٣٢)كَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لا يُؤْمِنُونَ (٣٣

28. Dan (ingatlah) pada hari (ketika) itu Kami mengumpulkan mereka semuanya[termasuk pula sesembahan yang mereka sembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala], kemudian Kami berkata kepada orang yang mempersekutukan (Allah), “Tetaplah di tempatmu itu, kamu dan para sekutumu[patung dan berhala atau yang mereka sembah selain Allah].” Lalu Kami pisahkan mereka[Allah pisahkan mereka dengan sesembahan mereka, baik pisah badan maupun hati dan muncul permusuhan yang keras antara mereka dengan sesembahannya setelah sebelumnya ketika di dunia mereka memberikan kecintaan dan ketulusan kepada sesembahannya] dan berkatalah sekutu-sekutu mereka, “Kamu sekali-kali tidak pernah menyembah kami.”

29. Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara Kami dengan kamu, sebab Kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami)[kami tidak menyuruh kamu menyembah kami dan tidak pula mengajakmu kepadanya, bahkan kamu hanya menyembah makhluk yang mengajakmu, yaitu setan. Oleh karena itulah, para malaikat, para nabi dan para wali nanti akan berlepas diri dari para penyembahnya pada hari kiamat. Ketika itulah orang-orang musyrik menyesal dengan penyesalan yang bukan main menyesalnya, mereka mengetahui sejauh mana amal yang mereka kerjakan, serta perkara buruk yang mereka lakukan. Ketika itu, jelaslah kedustaan mereka, dan bahwa mereka mengada-ada terhadap Allah, ibadah mereka sia-sia, sesembahan mereka lenyap, dan hubungan pun terputus, na’uudzu billahi min dzaalik];

30. Di tempat itu (padang mahsyar), setiap jiwa merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya (dahulu) dan mereka dikembalikan kepada Allah, pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa (pelindung palsu) yang mereka ada-adakan.

31. Katakanlah (Muhammad)[kepada orang-orang musyrik yang mengingkari uluhiyyah Allah (keberhakkan Allah untuk diibadati; tidak selain-Nya) dan mengakui rububiyyah-Nya (bahwa Allah Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta )], “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup[misalnya mengeluarkan anak ayam dari telur, dan telur dari ayam, atau mengeluarkan tumbuhan dari biji, dan biji dari tumbuhan, atau mengeluarkan orang mukmin dari kekafiran dan sebaliknya], dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)[dengan beriman, atau hanya beribadah kepada-Nya saja dan meninggalkan sesembahan selain-Nya]?”

32. Maka itulah Allah [yang melakukan semua itu], Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan [klimat ini merupakan istifham taqrir (pertanyaan untuk menetapkan), yakni tidak ada lagi setelah kebenaran selain kesesatan. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak menyembah Allah, maka ia terjatuh dalam kesesatan]. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran) [padahal buktinya jelas]?

33. Demikianlah [sebagaimana mereka dipalingkan dari keimanan] telah tetap kalimat [yaitu firman-Nya, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya”). surat Huud: 119, atau firmannya, “Annahum laa yu’minuun”] (hukuman) Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik [yakni orang-orang yang kafir, keluar dari kebenaran menuju kebatilan], karena sesungguhnya mereka tidak beriman [setelah sebelumnya Allah menunjukkan kepada mereka ayat-ayat yang nyata dan keterangan yang jelas, yang di sana terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, nasehat bagi orang-orang yang bertakwa dan petunjuk bagi seluruh alam].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s