Tafsir Hud Ayat 114-123

Ayat 114-117: Pentingnya menjaga shalat lima waktu, dorongan berbuat kebaikan dan larangan mengadakan kerusakan di bumi

  وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ (١١٤)

114.[ Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang mencium seorang wanita, lalu laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu, maka turunlah kepada Beliau ayat, “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” Laki-laki itu berkata, “Apakah ayat ini untukku?” Beliau bersabda, “Untuk orang yang melakukan demikian di kalangan umatku.” Dalam riwayat Muslim dan para pemilik kitab sunan dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendapatkan seorang wanita di kebun, lalu aku berbuat segala sesuatu dengannya, hanya saja aku tidak menjima’inya; aku mencium dan memeluknya. Oleh karena itu, lakukanlah terhadapku apa yang engkau kehendaki…dst.”] Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang)[Yakni shalat Subuh, Zhuhur dan ‘Ashar] dan pada bagian permulaan malam[Yaitu Maghrib dan Isya. Termasuk ke dalamnya shalat malam, karena ia dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala berdasarkan lafaz “wa zulafam minal lail.”]. Perbuatan-perbuatan baik itu[Seperti shalat yang lima waktu dan shalat-shalat sunat] menghapus kesalahan-kesalahan[Yakni dosa-dosa kecil, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ » .

“Shalat yang lima waktu, shalat Jum’at yang satu ke shalat Jum’at berikutnya, dan Ramadhan yang satu ke Ramadhan berikutnya mengapuskan dosa-dosa antara keduanya apabila ia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)]. Itu[Kata “itu” di sini bisa tertuju kepada perintah-perintah sebelumnya, yaitu tetap istiqmah di atas jalan yang lurus, tidak melampaui batas, tidak cenderung kepada orang-orang zalim, mendirikan shalat dan penjelasan bahwa kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan] peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)[Dengannya mereka dapat memahami perintah dan larangan Allah, dan mereka bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan baik yang membuahkan kebaikan dan menghindarkan keburukan. Akan tetapi, perbuatan tersebut butuh usaha keras dari dalam diri manusia dan kesabaran, oleh karenanya pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan bersabar].

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (١١٥)

115. Dan bersabarlah[Yakni terhadap gangguan kaummu atau bersabarlah dalam mendirikan shalat atau secara umum bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan], karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan[Yaitu mereka yang bersabar di atas ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemaksiatan].

فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ    (١١٦)

116.[Setelah sebelumnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan tentang kebinasaan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan bahwa kalau sekiranya di kalangan umat-umat itu ada orang-orang yang utama yang mengajak kepada petunjuk dan melarang perbuatan buruk, tentu mereka akan selamat, akan tetapi sedikit sekali orang yang melakukan. Oleh karena itu, umat akan tetap eksis selama mereka mengikuti petunjuk Allah yang dibawa oleh para rasul, dan jika mereka meninggalkannya, maka mereka akan binasa] Maka mengapa tidak ada di antara umat-umat sebelum kamu orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (berbuat) kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang yang telah Kami selamatkan[Mereka melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga mereka selamat]. Dan orang-orang yang zalim[Baik dengan melakukan kerusakan di bumi (kemaksiatan) maupun dengan tidak melakukan nahi munkar padahal mampu] hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa[Oleh karena itu, mereka mesti diberi hukuman dan dibinasakan oleh azab. Dalam ayat ini terdapat dorongan kepada umat ini agar di tengah-tengah mereka ada orang-orang yang utama yang mengadakan perbaikan, yang menegakkan agama Allah, mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, bersabar terhadap gangguan dan menerangkan jalan yang lurus kepada masyarakat yang sebelumnya nampak gelap di hadapan mereka. Orang yang melakukannya kedudukannya dalam agama adalah tinggi dan pelakunya menjadi imam dalam agama ini apabila dia melakukannya ikhlas karena Allah Rabbul ‘alamin].

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (١١٧

117. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim[Dia tidak berbuat zalim kepada mereka], selama penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan (beriman)[Oleh karena itu, Allah tidak akan membinasakan mereka kecuali apabila mereka berbuat zalim dan telah tegak hujjah kepada mereka. Maksud ayat ini bisa juga bahwa Allah tidak akan membinasakan neger-negeri karena kezaliman mereka yang dahulu apabila mereka telah rujuk dan memperbaiki amal mereka, karena Allah akan memaafkan mereka, dan menghapuskan kezaliman mereka yang telah lalu].

Ayat 118-119: Sunnatullah pada perpecahannya manusia dan keputusan-Nya kepada mereka pada hari Kiamat

  وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ     (١١٨)

118. Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu[Di atas agama yang satu, yaitu Islam], tetapi mereka senantiasa berselisih (pendapat)[Hikmah-Nya menghendaki bahwa mereka akan senantiasa berselisih, ada yang menyelisihi jalan yang lurus, mengikuti jalan yang menghubungkan ke neraka, masing-masing melihat bahwa dirinya yang benar sedangkan yang lain salah],

إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (١١٩)

119. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu[Yakni Allah menginginkan kebaikan untuk mereka, sehingga mereka tidak berselisih. Allah menunjukkan mereka kepada ilmu (pengetahuan terhadap kebenaran) dan amal, serta bersepakat di atasnya. Adapun selain mereka, maka mereka akan dibiarkan dan diserahkan kepada diri mereka sendiri]. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka[Hikmah Allah menghendaki, Dia menciptakan mereka agar di antara mereka ada orang yang bahagia dan ada orang yang sengsara, ada orang yang bersatu, dan ada orang yang berselisih, ada yang diberi petunjuk dan ada yang mesti tersesat, agar semakin jelas kepada manusia keadilan-Nya, dan hikmah-Nya dan untuk memperlihatkan apa yang tersembunyi dalam diri manusia berupa kebaikan atau keburukan. Demikian juga agar lapangan jihad dan ibadah tegak, di mana hal itu tidak mungkin sempurna kecuali dengan adanya ujian dan cobaan. Di samping itu, karena kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” Sehingga Dia memudahkan penghuni neraka untuk memasukinya dengan mengerjakan amal yang akan menyampaikan mereka kepadanya]. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”

Ayat 120-123: Menerangkan bahwa setiap kisah yang Allah ceritakan berupa kisah-kisah para rasul adalah untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebagai pelajaran bagi kaum mukmin, serta menjelaskan penyerahaan mutlak kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala

وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)

120.[Setelah disebutkan dalam surat ini berita para nabi, maka disebutkan hikmahnya] Dan semua kisah rasul-rasul[Yang perlu diceritakan], Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu[Agar hatimu tenang, dapat teguh dan bisa bersabar sebagaimana para rasul ulul ‘azmi dapat bersabar. Hal itu, karena jiwa akan mengikuti, semangat beramal, berlomba dengan yang lain, dan kebenaran semakin kuat ketika disebutkan saksi-saksinya dan banyaknya orang yang melakukan]; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat[Sehingga mereka menjauhi perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah dan melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai-Nya] dan peringatan bagi orang yang beriman[Karena merekalah yang dapat mengambil manfaat darinya, berbeda dengan orang-orang kafir, berbagai nasihat dan peringatan tidaklah beranfaat bagi mereka].

وَقُلْ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ (١٢١)

121. Dan katakanlah (Muhammad) kepada orang yang tidak beriman[Setelah ayat-ayat disampaikan kepada mereka], “Berbuatlah menurut keadaanmu (sekarang), kami pun benar-benar akan berbuat (menurut keadaan kami)[Dalam kata-kata ini terdapat ancaman],

وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ (١٢٢)

122. dan tunggulah (akibat perbuatanmu), sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu.”

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (١٢٣

123. Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan bumi[Allah mengetahui yang ghaib pada keduanya] dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan[Baik perbuatan maupun pelakunya, lalu Dia memisahkan yang baik dan yang buruk]. Maka sembahlah Dia[Yakni kerjakanlah ibadah, yakni semua yang diperintahkan Allah yang mampu kamu lakukan, serta bertawakkallah kepada-Nya dalam hal itu] dan bertawakkallah kepada-Nya[Karena Dia akan mencukupkanmu]. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan[Dia hanya menangguhkan mereka sampai waktunya tiba].

Selesai tafsir surat Hud, wal hamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘alaa Muhammad wa sallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s