Tafsir Al A’raaf Ayat 88-102

Juz 9

Ayat 88-93: Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salam

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (٨٨) قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (٨٩) وَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ      (٩٠) فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (٩١) الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ (٩٢) فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ (٩٣

88. Pemuka-pemuka yang menyombongkan dari kaum Syu’aib berkata, “Wahai Syu’aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami[Mereka menggunakan kekerasan untuk melawan yang benar].” Syu’aib berkata, “Apakah (kamu kamu hendak mengembalikan kami kepada agamamu), kendatipun kami tidak suka?”

89. Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami darinya. Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki[Kehendak yang mengikuti ilmu dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya]. Pengetahuan Tuhan Kami meliputi segala sesuatu[Termasuk pula tentang keadaan aku dan keadaan kamu]. Hanya kepada Allah kami bertawakkal[Yakni kami bersandar kepada-Nya agar Dia meneguhkan kami di atas jalan yang lurus, menjaga kami dari semua jalan yang mengarah kepada neraka, karena barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya, memudahkan perkara agamanya dan dunianya]. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)[Maksudnya, “Tolonglah orang yang teraniaya dan orang yang berada di atas kebenaran terhadap orang yang zalim lagi menentang kebenaran.”]. Engkaulah pemberi keputusan terbaik[Fath (keputusan) Allah kepada hamba-hamba-Nya mencakup dua hal:
a. Keputusan dalam arti diterangkan ilmu, yakni diterangkan jalan yang benar dari jalan yang batil, petunjuk daripada kesesatan, dan siapa yang berada di atas jalan yang lurus dengan yang berada di atas jalan yang bengkok.
b. Keputusan dalam arti pemberian balasan dan hukuman kepada orang yang zalim, serta keselamatan dan pemuliaan kepada orang-orang yang saleh].”

90. Pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu’aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya)[Memperingatkan yang lain agar tidak mengikuti Nabi Syu’aib ‘alaihis salam], “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi[Mereka tidak mengetahui, bahwa kerugian yang sesungguhnya ketika tetap berada di atas kesesatan dan menyesatkan yang lain, dan mereka akan mengetahui siapa yang sesungguhnya rugi ketika azab menimpa mereka].”

91. Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan[Di atas lutut mereka] di dalam reruntuhan rumah mereka,

92. Orang-orang yang mendustakan Syu’aib seakan-akan mereka belum pernah tinggal di (negeri) itu. Mereka yang mendustakan Syu’aib, itulah orang-orang yang sebenarnya merugi.

93. Maka Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu[Namun kamu tidak mau beriman]. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir[Kami berlindung kepada Engkau ya Allah dari kehinaan seperti ini. Kerugian dan kesengsaraan manakah yang melebihi kerugian orang-orang yang manusia terbaik (para nabi) berlepas diri daripadanya dan tidak berduka cita terhadapnya]?”

Ayat 94-95: Sunnatullah dalam bertindak terhadap setiap umat

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (٩٤) ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩٥

94. Dan Kami tidak mengutus seseorang nabi pun[Yang mengajak manusia kepada Allah; menyembah hanya kepada-Nya dan mengerjakan kebaikan serta melarang semua keburukan] kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan[Yakni kemiskinan atau kesengsaraan] dan penderitaan[Seperti sakit dan berbagai bencana lainnya] agar mereka tunduk dengan merendahkan diri[Sehingga mereka beriman].

95. Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan[Dengan memperbanyak rezeki, menyehatkan badan mereka serta menghindarkan musibah dari mereka] sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata[Sebagai tanda kufur kepada nikmat Allah], “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan[Menurut mereka kesengsaraan, sakit dan musibah adalah hal yang biasa sebagaimana menimpa pula kepada nenek moyang mereka sebelumnya, dan bukan sebagai peringatan dan hukuman Allah, oleh karena itu mereka tetap di atas sikap mereka],” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.

Ayat 96-102: Sunnatullah dalam memberikan hukuman kepada orang-orang yang mendustakan para nabi, dan pentingnya takwa dalam kehidupan manusia

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ    (٩٦) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩) أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ (١٠٠) تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ (١٠١) وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ (١٠٢

96.[Setelah Alah menyebutkan tentang orang-orang yang mendustakan para rasul, bahwa mereka diuji dengan berbagai penderitaan dan musibah sebagai peringatan bagi mereka, dan dengan kesenangan sebagai istidraj (penangguhan) dan makar, Allah menyebutkan, bahwa penduduk negeri jika mau beriman kepada para rasul serta menjauhi kufur dan kemaksiatan, maka Alah menurunkan berkah dari langit dan bumi kepada mereka. Berdasarkan ayat ini, jika amal yang naik kepada Allah adalah amal yang baik, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menurunkan kebaikan. Sebaliknya, jika amal yang naik kepada Alah Ta’ala adalah amal buruk, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala akan menurunkan keburukan pula kepada mereka] Dan sekiranya penduduk negeri beriman[Kepada Allah dan rasul-Nya] dan bertakwa[Menjauhi kekufuran dan kemaksiatan], pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit[Seperti diturunkan hujan] dan bumi[Seperti ditumbuhkan tumbuh-tumbuhan], tetapi ternyata mereka mendustakan (para rasul), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

97. Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada siang hari ketika mereka sedang bermain?

99. Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang datang tidak terduga-duga)[Yakni istidraj; penundaan azab dengan memberikan nikmat untuk sementara waktu, lalu azab datang secara tiba-tiba]? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi[As Sa’diy berkata, “Dalam ayat ini terdapat takhwif (menakutkan) yang dalam agar seorang hamba tidak merasa aman dengan iman yang dimilikinya, bahkan ia harus selalu memiliki rasa takut jika sekiranya ia ditimpa cobaan yang mencabut keimanannya, dan hendaknya ia senantiasa berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Serta beramal dan berusaha melakukan setiap sebab yang dapat meloloskannya dari keburukan ketika terjadi fitnah, karena seorang hamba kalau pun tinggi keadaannya, namun tidak pasti tetap selamat”].

100.[Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan umat-umat yang baru agar memperhatikan umat-umat yang telah binasa dahulu, yakni agar mereka tidak mengerjakan hal yang sama seperti yang dikerjakan umat terdahulu yang binasa, karena Sunnatullah berlaku baik bagi orang-orang yang tedahulu maupun yang kemudian, bahwa jika Dia menghendaki, Dia akan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, sebagaimana orang-orang sebelum mereka] Atau apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri setelah (lenyap) penduduknya? Bahwa kalau Kami menghendaki pasti Kami siksa mereka karena dosa-dosanya; dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran)[Yakni ketika Allah mengingatkan mereka, namun mereka tidak mau mengingatnya, memberi pelajaran kepada mereka namun mereka tidak mau mengambil pelajaran, menunjukkan mereka, namun mereka tidak mau mengikutinya sehingga Allah mengunci hati mereka dan mereka tidak dapat mendengarkan lagi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Mereka hanya mendengar sesuatu yang merupakan penegak hujjah atas mereka].

101. Itulah negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian kisahnya kepadamu[Agar menjadi pelajaran, membuat orang-orang zalim berhenti dari kezalimannya dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa]. Rasul-rasul mereka benar-benar telah datang kepada mereka[Mengajak kepada sesuatu yang membahagiakan mereka] dengan membawa bukti-bukti yang nyata (mukjizat). Tetapi mereka tidak beriman (juga) kepada apa yang telah mereka dustakan sebelumnya[Yakni karena pada awalnya mereka mendustakan sehingga mereka mendustakan lagi setelahnya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (terj. Al An’aam: 110)]. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang kafir[Sebagai hukuman bagi mereka, dan Allah tidaklah menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri].

102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji[Yakni tidak teguh memegang wasiat Allah yang diwasatkan-Nya kepada semua manusia serta tidak tunduk kepada perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya]. Sebaliknya yang Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar-benar fasik[Fasik artinya keluar dari ketaatan kepada Allah. Alah Subhaanahu wa Ta’aala menguji manusia dengan mengutus rasul dan menurunkan kitab serta memerintahkan mereka melaksanakan wasiat-Nya dan petunjuk-Nya, namun tidak ada yang mengikutinya kecuali sebagian kecil di antara mereka, sedangkan sebagian besarnya berpaling dari petunjuk, bersikap sombong terhadap apa yang dibawa para rasul, sehingga Allah menimpakan hukuman-Nya yang bermacam-macam].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s