Tafsir Al An’aam Ayat 21-32

Ayat 21-26: Sikap orang-orang yang mengingkari Al Qur’an dan bagaimana penyesalan mereka yang mendalam pada hari Kiamat

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (٢١) وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (٢٢) ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ (٢٣) انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (٢٤)وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (٢٥) وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (٢٦

21. Dan siapakah yang lebih zalim[Yakni tidak ada yang lebih zalim] daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah[Dengan menisbatkan sekutu kepada-Nya, atau menyangka bahwa selain-Nya ada juga yang berhak disembah, atau menyangka bahwa Dia punya istri dan anak, Mahasuci Allah dari semua ini], atau mendustakan ayat-ayat-Nya?[Yaitu Al Qur’an, termasuk pula menolak kebenaran yang dibawa rasul-Nya] Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.

22. Dan (ingatlah), pada hari ketika Kami mengumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada orang-orang yang menyekutukan Allah[Sebagai bentuk taubikh (celaan)], “Dimanakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu sangka (sekutu-sekutu kami)?”.

23. Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan Kami, tidaklah Kami mempersekutukan Allah.”

24. Lihatlah[Sambil merasa aneh terhadapnya], bagaimana mereka berbohong terhadap diri mereka sendiri[Dengan mengatakan bahwa dirinya tidak berbuat syirk]. Dan sembahan yang mereka ada-adakan dahulu akan hilang dari mereka.

25. Dan di antara mereka ada yang mendengarkan bacaanmu (Muhammad)[Namun tidak ada niat untuk mencari yang benar dan mengikutinya. Oleh karena itu, mendengarnya mereka bacaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan manfaat kepada mereka, karena dalam hati mereka tidak ada keinginan kepada kebaikan], padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (kami letakkan) sumbatan di telinganya[Sehingga mereka tidak mendengarkan dengan pendengaran yang bermanfaat bagi mereka (yang menjadikan mereka tunduk menerima)]. Kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya[Bahkan mereka malah mendebatnya]. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.”

26. Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran[Adapula yang mengartikan, “Mereka melarang orang lain mengikuti Nabi”] dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya[Dan tidak beriman kepadanya. Mereka menggabung antara keadaannya yang sesat dan menyesatkan orang lain. Mereka melarang orang lain mengikuti kebenaran dan mereka juga menjauhinya], dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.

Ayat 27-32: Hal-hal yang akan disaksikan pada hari Kiamat, kerugian orang-orang yang mendustakan pada hari itu, dan menerangkan nilai kehidupan dunia

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢٧) بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ    (٢٨) وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ (٢٩) وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ    (٣٠) قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (٣١) وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ (٣٢

27. Dan seandainya kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.”

28. Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka sembunyikan dahulu[Maksudnya, bahwa mereka sebenarnya tidak bercita-cita ingin dikembalikan ke dunia untuk beriman kepada Allah, tetapi perkataan itu semata-mata diucapkan karena melihat kedahsyatan neraka, di mana mereka ingin dihindarkan daripadanya]. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya[Seperti syirk (menyekutukan Allah)]. Mereka itu sungguh pendusta.

29. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula)[Sambil mengingkari adanya kebangkitan], “Hidup hanyalah di dunia ini saja, dan kita tidak akan dibangkitkan.”[Yakni jika mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan mengatakan demikian]

30. Dan seandainya kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Dia berfirman, “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab, “Sungguh benar, demi Tuhan kami.” Dia berfirman, “Rasakanlah azab ini, karena dahulu kamu mengingkarinya.”

31. Sungguh rugi orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah[Yakni mendustakan kebangkitan, di mana hal itu membuatnya berani mengerjakan perbuatan haram dan perbuatan yang dapat membinasakan]; sehingga apabila Kiamat datang kepada mereka secara tiba-tiba[Sedangkan mereka dalam keadaan yang paling buruk, lantas mereka menampakkan penyesalan yang mendalam], mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami[Akan tetapi penyesalan pada saat itu tidak berguna lagi], terhadap kelalaian Kami tentang kiamat itu,” sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.

32. Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau[Maksudnya kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah seseorang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat berupa ketaatan dan hal-hal yang membantunya]. Sedangkan negeri akhirat itu[Maksudnya surga], sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa[Yaitu mereka yang mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Di surga terdapat apa yang mereka inginkan dan yang menyejukkan pandangan mereka, terdapat kenikmatan bagi hati maupun badan, dan penuh dengan kegembiraan, ini semua diperuntukkan bagi mereka yang bertakwa]. Tidakkah kamu mengerti[Yakni tidakkah mereka dapat membedakan mana yang lebih layak didahulukan; dunia atau akhirat?]?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s