Tafsir Ali Imran Ayat 185-194

Ayat 185-186: Kematian adalah tempat kembali semua makhluk, yang dijadikan patokan adalah sukses di akhirat, yaitu masuk surga

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

185.[Dalam ayat yang mulia ini terdapat dorongan untuk bersikap zuhud terhadap dunia, di mana ia tidak kekal dan akan fana, dunia juga merupakan kesenangan yang memperdaya; nampak indah dan menyilaukan, namun sesungguhnya ia akan binasa dan berpindah ke negeri yang kekal, negeri di mana amal manusia akan diberi balasan secara sempurna] Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya[Kesenangan yang sebentar kemudian akan binasa].

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

186. Kamu pasti akan diuji dengan hartamu[Dengan adanya nafkah wajib dan sunat, dengan adanya musibah atau dengan siap habis di jalan Allah] dan dirimu[Dengan ibadah, bala’ (cobaan) atau beban-beban berat, seperti berjihad fii sabilillah, siap mendapatkan kelelahan, terbunuh, tertawan dan terluka, atau terkena penyakit yang menimpa dirinya atau menimpa orang yang dicintainya]. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati[Seperti celaan dan cercaan] dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik[Ada beberapa faedah mengapa diberitakan hal seperti ini, di antaranya:
– Hikmah (kebijaksanaan) Allah Ta’ala menghendaki demikian, untuk membedakan siapa orang mukmin yang sebenarnya dan siapa yang tidak.
– Allah menaqdirkan seperti itu karena keinginan-Nya memberikan kebaikan kepada mereka, berupa meninggikan derajat mereka, menghapuskan kesalahan, menambahkan keimanan, dan menyempurnakan keyakinan mereka. Hal itu, karena jika mereka diberitakan akan terjadi seperti itu dan kemudian terjadi, maka orang-orang mukmin akan menghadapinya dengan sikap yang menunjukkan keimanan mereka, seperti yang terjadi dalam perang Azab, di mana kaum mukmin mengatakan, “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.” Yang demikian tidaklah menambah kepada mereka selain keimanan dan ketundukan. (lihat surat Al Ahzab: 22).
– Allah mengabarkan demikian agar jiwa merasa siap dan mampu bersabar. Sehingga hal itu menjadi mudah dipikul, bebannya menjadi ringan dan mereka bisa menghadapinya dengan sikap sabar dan takwa].
[Abu Dawud meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari bapaknya, bahwa Ka’ab bin Al Asyraf mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diberi dukungan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, sedangkan penduduknya beraneka ragam; ada yang muslim, musyrik yang menyembah berhala dan ada orang-orang Yahudi. Mereka menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi-Nya bersabar dan memaafkan. Tentang mereka turunlah ayat, “Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati…dst,”(lih. ayat di atas). Ketika Ka’ab bin Al Asyraf enggan berhenti menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Sa’ad bin Mu’adz mengirimkan beberapa orang untuk membunuhnya, maka dikirimlah Muhammad bin Maslamah, dan disebutkan di sana kisah pembunuhannya. Setelah mereka berhasil membunuhnya, orang-orang Yahudi dan musyrik kaget, mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Di malam hari kawan kami didatangi seseorang lalu dibunuh.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada mereka ucapan Ka’ab Al Asyraf, dan Beliau mengajak mereka untuk membuat tulisan berisi aturan yang harus dipenuhi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat tulisan antara Beliau beserta kaum muslimin dengan mereka sebuah lembaran…dst.”] Jika kamu bersabar dan bertakwa[Yakni jika kamu bersabar terhadap cobaan yang menimpa harta dan diri kamu atau terhadap gangguan orang-orang zalim, dan kamu bertakwa, yakni mengharapkan keridaan Allah dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya], maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.

 Ayat 187-189: Menerangkan tentang pengambilan perjanjian dari Ahli Kitab, dan bagaimana mereka melempar janji itu ke belakang punggung mereka

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

187. Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya[Di antara keterangan yang disembunyikan itu ialah tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam],” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka[Yakni tidak mengamalkannya] dan menukarnya dengan harga yang murah[Yakni dengan kesenangan dunia, seperti menginginkan kedudukannya diangkat atau memperoleh harta. Sehingga mereka berani menyembunyikan ilmu yang mereka ketahui]. Amat buruk tukaran yang mereka terima.

لا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

188.[Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa beberapa orang munafik di zaman Rasulullah saw, ketika Rasulullah saw keluar berperang, mereka tidak ikut dan merasa senang tidak berangkat meninggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang, mereka mengemukakan alasan dan mereka senang jika dipuji terhadap hal yang tidak mereka lakukan, maka turunlah ayat, “Laa tahsabannalladziina yafrahuuna…dst.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Alqamah bin Waqqas, bahwa Marwan berkata kepada penjaga pintunya, “Pergilah wahai Raafi’ kepada Ibnu Abbas, katakan kepadanya, “Jika setiap orang senang dengan apa yang diberikan dan senang dipuji dalam hal yang tidak dilakukannya akan diazab, tentu kita semua akan diazab.” Ibnu Abbas berkata, “Apa hubungan kamu dengan ayat ini! Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajak orang-orang Yahudi dan menanyakan kepada mereka tentang sesuatu, lalu mereka menyembunyikannya, dan mereka memberitakan dengan yang selainnya, lalu saya melihat mereka ingin dipuji terhadap berita yang mereka sampaikan dan mereka senang dengan sikap mereka menyembunyikan.” Lalu Ibnu Abbas membacakan ayat, “Wa idz akhadzallahu miitsaaqalladziina utul kitaab….” Sampai “Yafrahuuna bimaa atau wa yuhibbuuuna ay yuhmaduu bimaa lam yaf’aluu…” (Ali Imran: 187-188)] Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan[Berupa menyesatkan manusia, atau mengerjakan perbuatan dan perkataan buruk] dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka lakukan[Padahal mereka tidak mengerjakan kebaikan dan tidak menegakkan kebenaran. Dengan demikian, mereka menggabung antara mengerjakan keburukan, senang terhadapnya dan suka dipuji terhadap sesuatu yang mereka tidak melakukannya], jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka akan lolos dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih[Termasuk ke dalam ayat ini adalah Ahli Kitab yang bergembira dengan ilmu yang ada pada mereka, namun mereka tidak mengikuti rasul dan menyangka bahwa sikap mereka benar.
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang senang mendapat pujian karena kebaikannya dan mengikuti yang hak, jika maksudnya bukan riya’ dan sum’ah, maka tidaklah tercela. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam pernah berdoa, “Dan Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (Terj. Asy Syu’araa: 84)].

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

189. Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu [Dia bertindak terhadap semua yang ada di langit dan di bumi dengan kuasa-Nya yang sempurna, sehingga tidak ada satu pun makhluk yang dapat menolak ketetapan-Nya dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat melemahkan-Nya. Di antara kekuasaan-Nya juga adalah dengan menyiksa orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin].

Ayat 190-194: Ulil Albab Adalah Hamba yang Berzikir dan Berfikir

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi [Demikian juga keajaiban-keajaiban yang ada pada keduanya, seperti besarnya, luasnya, teraturnya peredaran benda yang beredar dan lain sebagainya. Semua ini menunjukkan keagungan Allah, keagungan kerajaan-Nya dan menyeluruhnya kekuasaan-Nya. Tertib dan teraturnya ciptaan Allah, demikian juga rapi dan indahnya menunjukkan kebijaksanaan Allah dan tepat-Nya serta luas ilmu-Nya. Terlebih dengan manfaat bagi makhluk yang ada di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keluasan rahmat-Nya, meratanya karunia dan kebaikan-Nya, dan semua itu menghendaki untuk disyukuri. Semua itu juga menunjukkan butuhnya makhluk kepada khaliqnya dan tidak pantas Penciptanya disekutukan. Di dalam ayat ini terdapat anjuran untuk memikirkan alam semesta, memperhatikan ayat-ayat-Nya dan merenungkan ciptaan-Nya], dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal,
[Ayat ini diawali dengan perkataan “inna” yang bermakna “sesungguhnya” sebagai penekanan dan penegasan tentang apa-apa yang akan disampai setelahnya. Perkara penting yang disampaikan didalam ayat ini adalah memperhatikan penciptaan langit dan bumi, dan silih berganti siang dan malam sebagai usaha untuk mengetahui tanda kekuasaan Allah, setelah itu mentauhidkan-Nya dengan sepenuh hati dan jiwa. Apabila seseorang memperhatikan langit sebagai yang luas terjunjung, ditinggikan tanpa tiang, dihiasi dengan bulan dan bintang, ribuan bahkan jutaan benda-benda angkasa bergerak dan beredar diorbit masing-masing tanpa bertabrakan, sungguh merupakan tanda kekuasaan Allah yang tidak mungkin diingkari. Begitu pula dengan silih berganti malam dan siang; dari gelap segelap-gelapnya menjadi terang seterang-terangnya, kadangkala malam yang lebih dipanjangkan dan kadangkala pula siang yang lebih dilamakan, sungguh merupakan tanda tanda kekuasaan Allah yang sangat jelas sekali.
Tetapi bagi siapa? Apakah semua manusia memperhatikannya dan kemudian beriman kepada Allah sehingga menjadi hamba-hamba yang ta’at dan patuh? Rupanya tidak, yang mendapatkan manfa’at dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang terang tersebut adalah Ulil Albab. “Uli” maknanya secara bahasa “memiliki” dan “Albab” adalah bentuk jamak dari “lub” yang bermakna “isi utama”. Ulil Albab adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang isi utama (nilai)].

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring [Yakni dalam setiap keadaan. Menurut Ibnu Abbas, bahwa maksudnya mereka melakukan shalat sesuai kemampuan, yakni jika tidak sanggup berdiri, maka sambil duduk dst. Namun demikian, ayat ini mencakup semua dzikr lainnya dengan lisan maupun hati], dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [Memikirkan kekuasaan Penciptanya atau memikirkan maksudnya. Ayat ini menunjukkan bawa berpikir merupakan ibadah dan termasuk sifat wali-wali Allah yang mengenal-Nya. Setelah mereka memikirkannya, mereka pun tahu bawa Allah tidak menciptakannya sia-sia] (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, Tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia [Bahkan di sana terdapat dalil sempurnanya kekuasaan-Mu]; Mahasuci Engkau [Yakni dari menciptakan sesuatu secara main-main], maka lindungilah kami dari azab neraka[Termasuk juga di dalamnya meminta surga, karena ketika mereka meminta dilindungi dari neraka, maka secara langsung mereka juga meminta surga, akan tetapi karena besarnya rasa takut dalam hati mereka, maka mereka menyebut sesuatu yang paling merisaukan mereka].
[Pada ayat 191 ini diterangkan tentang sifat Ulil-Albab tersebut; yaitu mereka yang senantiasa berzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, berfikir untuk memahami hikmah disebalik penciptaan langit dan bumi, lalu memohon kepada Allah sebagai Zat yang akan menyelamatkan mereka dari perkara buruk yang amat mereka takuti.
Ayat ini menerangkan tentang 3 sifat Ulil Albab;
Sifat pertama, berzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, maksudnya mereka itu tidak pernah berhenti dalam berzikir. Sebagaimana yang telah diketahui, kapanpun waktunya dan dimanapun manusia itu berada pasti dalam salah satu dari tiga keadaan tersebut; berarti Uli Albab adalah orang-orang yang memastikan setiap waktu yang dijalani dan setiap tempat yang didiami bersama dengan Allah yang telah mereka ketahui melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di alam semesta ini. Dan satu lagi, meskipun mereka bergerak dan berubah dari suatu keadaan kepada keadaan berikutnya, dari suatu perbuatan kepada perbuatan berikutnya tetapi tidak membuat mereka melupakan dan meninggalkan Allah Subahanuwata’ala.
Sifat kedua dari Ulil Albab adalah memikirkan penciptaan langit dan bumi. “Memikirkan” maknanya mengerakkan akal yang di kepala untuk memahami apa saja yang bisa difahami dari penciptaan langit dan bumi; tentang keadaan zatnya, aturan yang meliputinya, manfa’at yang terkandung didalamnya, keindahan dan keistimewaanya, dan apa saja yang bisa dijadikan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan.
Sifat ketiga adalah merupakan penyempurnaan dari berzikir dan berfikir; yaitu Ulil Albab akan menjadikan keimanan yang ada di hati dan pengetahuan yang ada di akal tentang Allah itu sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan di hari akhirat; karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya dan menjadi tujuan mereka ketika menjalani hidup di dunia ini. Seakan-akan mereka berkata: ”Wahai Tuhan kami, kami menyadari dan meyakini bahwa segala sesuatu diciptakan dengan tujuan dan mengandung nilai didalamnya, termasuk diri kami ini, maka jangan sia-siakan hidup kami ini, bantulah kami untuk tetap berada dalam petunjuk-Mu sehingga kami sampai ke tujuan hidup kami; yaitu redho dan syurga-Mu. Maha Suci Engkau yang jauh dari sifat kekurangan! Engkaulah yang akan menyelamatkan kami di akhirat maka peliharalah kami dari siksa neraka!”].

رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

192. Ya Tuhan Kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya[Karena ia mendapatkan kemurkaan dari Allah, malaikat-Nya, wali-wali-Nya dan mendapatkan aib yang tidak dapat lolos daripadanya], dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim[Yang menolong mereka dari azab. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka masuk ke dalam neraka karena kezaliman mereka].
Pengharapan dan permohonan Ulil Albab yang begitu besar kepada Allah sehingga tidak henti-henti dari Ulil Albab sebagai hamba-hamba yang sangat bergantung kepada kasih-sayang Allah; mereka sangat takut sekali kepada api neraka yang akan membuat mereka menjadi orang-orang yang hina, mereka menyadari bahwa hanya Allah yang akan menolong mereka dari balasan buruk di akhirat kelak, karena mereka mengetahui bahwa Allah-lah satu-satunya Penguasa di hari pembalasan.
Demikianlah sifat-sifat Ulil Albab; yaitu hamba-hamba yang meskipun masih menjalani hidup di dunia ini tetapi telah menjadikan akhirat sebagai tujuan dalam setiap perbuatan; meskipun di dunia ini diliputi oleh alam semesta yang terdiri dari langit dan bumi, dan diliputi oleh malam dan siang, tetapi tetap mengingat akhirat yang pasti akan mereka jalani. Mudah-mudahan kita dimasukkan kedalam golongan hamba-hamba yang berhasil menghidupkan hati dengan berzikir, akal dengan berfikir, dan jiwa dengan berharap kepada Allah.

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

193. [3 sifat yang dimiliki oleh Ulil Albab sebelumnya yaitu berzikir dengan hati, berfikir dengan akal dan bergantung kepada Allah dengan sepenuh jiwa. Mereka menjadikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta sebagai sarana untuk menjalin hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala. Selanjutnya diterangkan pula bahwa mereka adalah hamba-hamba yang sangat merendahkan diri dihadapan Allah, hal ini terlihat dari do’a mereka ketika mereka bermunajat kepada Allah] Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman[Yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam], (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan Kami[Dalam ayat ini terdapat dalil bagi tawassul yang disyari’atkan, yaitu tawassul dengan iman atau amal salih yang dikerjakan], ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti[Dalam doa ini terdapat permintaan taufiq agar dapat menjalankan kebaikan dan meninggalkan keburukan, di mana yang demikian dapat menjadikannya tergolong sebagai orang-orang yang berbakti dan beristiqamah di atasnya sampai wafat].
Didalam ayat ini dijelaskan bahwa Ulil Albab menyatakan dihadapan Allah bahwa mereka telah mendengar Nabi Muhammad menyeru mereka supaya beriman kepada Allah maka merekapun dengan segera beriman tanpa berlengah-lengah lagi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa mereka adalah hamba-hamba sangat bersungguh-sungguh dalam beriman. Penggunaan “huruf fa” pada perkataan “fa aamannaa” mengandungi makna cepat dalam beriman; hal itu menjelaskan fitrah mereka yang suci bersih dan jauhnya mereka dari sifat angkuh dan sombong. Didalam ayat ini Nabi Muhammad disebut sebagai penyeru kepada keimanan untuk menerangkan betapa tingginya kedudukan beliau karena tidak ada penyeru yang lebih baik daripada penyeru kepada keimanan. Menyeru kepada keimanan berarti menyeru kepada keamanan sehingga terselamat dari azab dan siksaan, sungguh suatu seruan yang sangat berharga sekali!
“Seruan” secara bahasa bermakna perkataan yang disampaikan kepada orang lain dengan suara yang keras dan lantang sehingga dapat diterima dengan terang dan jelas. Azan yang dikumandangkan oleh muazzin disebut juga sebagai seruan karena tujuannya adalah supaya manusia dapat mendengar dan memahami bahwa waktu sholat telah masuk, dan hal itu baru sempurna apabila dilakukan dengan mengangkat suara lebih tinggi dan mengarahkannya kepada setiap orang yang bisa dicapai dengan seruan tersebut. Apabila demikian makna seruan berarti Rasulullah sebagai “penyeru” merupakan pribadi yang sangat agung dan mulia sekali, karena bersungguh-sungguh dalam menginginkan semua manusia menjadi hamba-hamba yang akan mendapatkan keamanan di dunia dan di akhirat. Berarti penyebutan “penyeru” kepada Rasulullah oleh Ulil Albab merupakan bentuk pengagungan yang menjelaskan kesucian dan kebersihan hati mereka.
Setelah menyatakan dihadapan Allah sebagai hamba-hamba yang telah beriman maka selanjutnya golongan Ulil Albab bermohon kepada Allah supaya dosa-dosa mereka diampuni, keburukan-keburukan mereka dihapuskan dan mereka diwafatkan bersama orang-orang yang banyak berbuat kebaikan. Berarti ada 3 perkara yang mereka minta dalam do’a mereka; pertama, mohon pengampunan dosa, penekanannya adalah supaya Allah tidak menyiksa mereka, karena setiap dosa pasti akan dibalas dengan siksa. Kedua, mohon penghapusan kesalahan, penekanannya adalah supaya Allah menghapuskan pengaruh kesalahan dari kemaksiatan yang telah dilakukan, karena meskipun kemaksiatan telah lama dilakukan tetapi pengaruhnya masih mengganggu kenyamanan hidup hingga ke hari ini. Ketiga, mohon diwafatkan bersama orang-orang yang banyak berbuat kebaikan, penekanannya adalah supaya diwafatkan dalam keadaan berbuat baik seperti perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba yang banyak berbuat baik (Al-Abrar), karena tidak akan mungkin bisa bersama golongan Al-Abrar apabila tidak melakukan perbuatan seperti mereka. Tidak akan mungkin bisa bersama Imam Syafi’i kalau tidak melakukan perbuatan yang senilai dengan perbuatan Imam Syafi’i. Sungguh do’a Ulil Albab ini merupakan do’a yang tersusun rapi dan teratur, mulai dari masa lampau yang telah berlalu hingga   masa sekarang yang sedang dijalani dan kemudian kepada kematian pada masa yang akan datang!
Atau dengan perkataan lain, Ulil Albab berdo’a kepada Allah supaya dosa-dosa mereka yang telah lalu tidak menjadi sebab bagi mereka untuk disiksa, dan keta’atan mereka bisa menjadi sebab untuk penghapusan dosa, kemudian kematian mereka dalam keadaan Husnul Khotimah (wafat dalam keadaan berbuat baik) bisa menjadi sebab untuk bersama hamba-hamba yang banyak berbuat baik setelah kematian nanti. Setelah mereka meminta yang berkaitan dengan sebab maka pada ayat berikutnya pula mereka meminta belas-kasihan Allah supaya memperkenankan do’a mereka; karena hanya Allah-lah yang menjadi penentu segala-galanya].

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

194. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu [Permintaan mereka agar diberikan janji Allah yang disampaikan oleh para rasul meskipun Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya adalah agar mereka digolongkan ke dalam orang-orang yang berhak menerimanya, karena mereka belum yakin termasuk orang-orang yang menerimanya, dan diulanginya kata “Ya Tuhan kami” berkali-kali menunjukkan sikap tadharru’ (perendahan diri yang dalam) mereka. Janji Allah kepada Rasul-Nya di antaranya adalah mendapatkan kemenangan di dunia dan mendapatkan keridaan Allah dan surga-Nya di akhirat.]. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji.”
Ayat ini menerangkan bahwa Ulil Albab meneruskan do’a mereka; yang mana apabila sebelumnya berkaitan dengan kehidupan di dunia ini maka sekarang berpindah kepada kehidupan di akhirat nanti. Mereka mengetahui bahwa kehidupan di dunia adalah sebagai tempat beramal dan beribadah, adapun hidup di akhirat adalah sebagai menerima balasan yang tidak akan pernah putus-putusnya. Dan sudah menjadi janji Allah bahwa setiap yang berbuat baik di dunia ini akan dibalas dengan kebaikan di akhirat nanti, janji Allah ini telah disampaikan melalui para rasul yang diutus sebagai pembawa kebenaran; maka ia adalah sesuatu yang pasti akan ditunaikan.
Bertambah khusyu’ dalam berdo’a ketika Ulil Albab dengan rasa takut yang menguasai jiwa memohon kepada Allah supaya tidak dihinakan di hari akhirat dengan berbagai macam azab; yaitu siksaan yang akan diterima dihadapan manusia-manusia yang sengaja berkumpul untuk menyaksikannya. Sungguh berat dan menyengsarakan sekali apabila ia berlaku nantinya; mereka dengan penuh kekhusyu’an berdo’a supaya perkara buruk itu tidak terjadi, mereka tutup permohonan dengan menyatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji sebagai menunjukkan betapa besarnya pengharapan mereka kepada Allah Yang Maha Penyayang. Mudah-mudahan kita mendapat pengetahuan dan petunjuk dari do’a-do’a yang diamalkan oleh hamba-hamba yang digelar sebagai Ulil Albab di dalam ayat ini; yaitu hamba-hamba yang telah mendapat karunia dari Allah sehingga mengetahui perkara-perkara yang pokok dan inti dari kehidupan yang telah, sedang dan akan dijalani ini! Wallahu A’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s