Tafsir Ali Imran Ayat 159-164

Ayat 159-164: Beberapa ayat ini menerangkan tentang hakikat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepemimpinannya yang bijaksana, sayangnya, akhlaknya dan jasanya shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

159. Maka berkat rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu [Berdasarkan ayat ini, maka di antara sarana dakwah yang ampuh, yang dapat menarik manusia ke dalam agama Allah adalah akhlak mulia, di samping adanya pujian dan pahala yang istimewa bagi pelakunya]. Karena itu maafkanlah mereka [Karena tidak sempurna memenuhi hak Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam], mohonkanlah ampunan bagi mereka [hal ini merupakan sikap ihsan. Oleh karena itu, Beliau menggabung antara sikap memaafkan dan sikap ihsan], dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu [Maksudnya: dalam urusan yang butuh adanya musyawarah, pemikiran yang matang dan pandangan yang tajam. Misalnya dalam urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lain. Musyawarah memiliki banyak faedah dan maslahat duniawi maupun agama, antara lain:
– Musyawarah termasuk ibadah yang mendekatkan diri seseorang kepada Allah.
– Di dalamnya terdapat sikap menghargai pendapat orang lain, sehingga mereka menjadi senang kepada kita.
– Dapat menyatukan visi dan misi.
– Menerangi akal-fikiran.
– Menutupi kekurangan yang ada pada orang lain.
– Membuahkan keputusan yang bijak, tepat dan benar. Hal itu, karena hampir tidak ditemukan ada keputusan yang salah dalam musyawarah]. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad [Setelah bermusyawarah], maka bertawakkallah kepada Allah [Bersandarlah dengan kemampuan dan kekuatan Allah; tidak mengandalkan kemampuan kamu]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.

  إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

160. Jika Allah menolong kamu [Ketika menghadapi musuhmu, seperti dalam Perang Badar], maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu [Meskipun semua musuh berkumpul dengan jumlah yang besar lengkap dengan persenjataan], tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan) [ Menyerahkan kamu kepada dirimu sendiri], maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? [Yakni tidak ada lagi penolong bagimu. Dalam ayat ini terdapat perintah meminta pertolongan kepada Allah, bersandar kepada-Nya dan berlepas diri dari kekuatan dan kemampuan dirinya] Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

161.[Al Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Abbas, tentang ayat di atas, ia berkata, “Tidak pantas bagi para sahabat menuduh Beliau begitu (yakni berbuat ghulul)” ] Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang) [Karena khianat dalam urusan harta rampasan perang adalah haram, bahkan termasuk dosa besar. Tidak mungkinnya seorang nabi berbuat itu adalah karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menjaga para nabi-Nya dari segala cacat yang menodai kepribadiannya, menjadikan mereka manusia yang paling utama akhlaknya, paling bersih jiwanya. Oleh karenanya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengangkatnya sebagai rasul-Nya]. Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu [Di atas punggungnya]. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya[Baik orang yang berkhianat maupun lainnya akan diberi pahala atau dosa sesuai amal yang dikerjakannya], dan mereka tidak dizalimi [Keburukannya tidak ditambah dan kebaikannya tidak dikurangi].

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

162. Maka apakah orang yang mengikuti keridaan Allah [Orang yang niatnya mencari keridaan Allah dan mengerjakan amalan yang mendatangkan keridaan-Nya] sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah [Karena maksiat dan berkhianat] dan tempatnya di neraka Jahannam? [Tentu tidak sama baik menurut hukum Allah, hikmah (kebijaksanaan) Allah maupun fitrah yang ada dalam diri manusia] Itulah seburuk-buruk tempat kembali.

هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

163. (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah [Sesuai amal yang mereka kerjakan. Orang yang mencari keridaan Allah berusaha menggapai derajat dan kedudukan yang tinggi, sehingga Allah memberikannya kepada mereka karena karunia dan kepemurahan-Nya sesuai amal yang mereka kerjakan. Adapun orang-orang yang mengerjakan amalan yang mendatangkan kemurkaan Allah, maka sesungguhnya mereka berlomba-lomba untuk turun ke bawah sampai ke bagian yang paling bawah sesuai amalnya], dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

164. Sungguh, Allah telah memberi karunia [Karunia ini merupakan karunia yang paling besar, bahkan asasnya. Karunia ini merupakan karunia yang menyelamatkan mereka dari kesesatan dan dari jurang kebinasaan (neraka)] kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri [Yakni orang Arab seperti mereka agar mereka dapat memahami perkataannya, bukan dari kalangan malaikat dan bukan pula orang asing (non Arab). Mereka mengenali nasab Beliau, keadaannya, bahasanya dan sifatnya yang tulus dan sayang kepada mereka, ia membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan lafaz dan maknanya], yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka [Dari dosa-dosa seperti dosa syirk, maksiat, perbuatan-perbuatan rendah dan semua akhlak buruk lainnya], dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (As Sunnah) [Adapula yang mengartikan hikmah dengan menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengetahui rahasia syari’at]. Sesungguhnya sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata [Mereka tidak mengetahui jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Tuhan mereka serta tidak mengetahui sesuatu yang dapat membersihkan jiwa dan menyucikannya].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s