Tafsir Ali Imran Ayat 152-158

Ayat 152-155: Menerangkan tentang hal yang menimpa kaum muslimin dalam perang Uhud, sebab-sebab kekalahan umat Islam dalam perang Uhud, dan menerangkan bahwa kesusahan dapat membersihkan hati

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

152. Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah [Takut untuk berperang] dan berselisih dalam urusan itu[Yakni urusan pelaksanaan perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar regu pemanah tetap bertahan pada tempat yang telah ditunjukkan oleh beliau dalam keadaan bagaimanapun] dan mengabaikan perintah Rasul [Agar tetap berada di tempat yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam] setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai [Yaitu kemenangan dan harta rampasan]. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia [Meninggalkan posisinya dan lebih mengutamakan ghanimah] dan diantara kamu ada pula orang yang menghendaki akhirat [Tetap di tempat, seperti Abdullah bin Jubair dan kawan-kawannya]. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka [Kaum muslimin tidak berhasil mengalahkan mereka] untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang orang mukmin[Yaitu dengan memberikan nikmat beragama Islam kepada mereka, menunjukkan mereka kepada syari’at-Nya, memaafkan kesalahan mereka dan memberi pahala terhadap musibah yang menimpa mereka].

إِذْ تُصْعِدُونَ وَلا تَلْوُونَ عَلَى أَحَدٍ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلا تَحْزَنُوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلا مَا أَصَابَكُمْ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

153. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu[Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama beberapa orang sahabat berada dekat dengan musuh dan memanggil para sahabat yang lari, “Kemarilah wahai hamba-hamba Allah!”], karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan [Kesedihan kaum muslimin disebabkan mereka tidak menaati perintah Rasul yang mengakibatkan kekalahan bagi mereka. Kesedihan tersebut adalah tidak memperoleh kemenangan, tidak memperoleh ghanimah, mengalami kekalahan dan kesedihan mendengar suara bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mati terbunuh, padahal tidak], agar kamu tidak bersedih hati [Allah menjadikan semua itu baik bagi mereka. Firman-Nya “ agar kamu tidak bersedih hati lagi terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu” bisa juga maksudnya agar kalian terlatih untuk bersabar dan segala beban dan kesulitan menjadi ringan] lagi terhadap apa yang luput dari kamu[Seperti harta rampasan perang] dan terhadap apa yang menimpamu [Seperti terbunuh dan mengalami kekalahan]. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

 ثُمَّ أَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُعَاسًا يَغْشَى طَائِفَةً مِنْكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنْفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لا يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَا هُنَا قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

154.[Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Abi Thalhah ia berkata: Aku berusaha mengangkat kepalaku (setelah selesai perang) pada peperangan Uhud, maka aku melihat tidak ada seorang pun ketika itu kecuali terkulai lemas di bawah perisainya karena ngantuk. Itulah maksud firman Allah, ta’ala, “Tsumma anzala ‘alakum mim ba’dil ghammi amanatan nu’aasaa.” (Hadits ini hasan shahih)
Ibnu Rahawaih meriwayatkan dari Zubair, ia berkata, “Sungguh, kamu melihat aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada peperangan Uhud ketika kami merasakan ketakutan yang sangat, maka Allah membuat kami tertidur. Ketika itu, tidak ada seorang pun di antara kami kecuali dagunya menempel ke dadanya. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar pendengar ucapan Mu’tab bin Qusyair seperti mimpi, Sekiranya ada hak campur tangan bagi kita dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini,” dan aku mengingatnya, kemudian Allah Tabaaraka wa Ta’aala menurunkan ayat tentang itu, “Tsumma anzala ‘alaikum mim ba’dil ghammi amanatan nu’aasaa…sampai firman Allah, “Maa qutilnaa haahunaa.” Terhadap kata-kata Mu’tab bin Qusyair. Allah berfirman, “Law quntum fii buyuutikum… sampai ayat, ‘Aliimum bidzaatish shuduur.” Habiburrahman Al A’zhamiy berkata, “Al Buwshiri mendiamkan, namun isnadnya jayyid.”] Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Allah menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu [Orang-orang Islam yang kuat keyakinannya. Mereka adalah kaum mukmin, di mana tidak ada yang mereka inginkan selain tegaknya agama Allah, mencari ridha Allah serta dapat memberikan sesuatu yang bermaslahat bagi saudara mereka kaum muslimin], sedangkan segolongan lagi [Orang-orang Islam yang masih ragu-ragu. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka ini adalah orang-orang munafik] telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah [Sangkaan bahwa kalau Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu benar-benar Nabi dan Rasul Allah, tentu dia tidak akan dikalahkan dalam peperangan. Atau sangkaan bahwa Allah tidak menyempurnakan agama-Nya dan bahwa kekalahan itu merupakan kesempatan terakhir bagi agama-Nya]. Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita hak campur tangan dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya segala urusan [Mencakup urusan taqdir dan urusan syari’at-Nya. Semuanya mengikuti qadha’ Allah dan qadar-Nya, dan bahwa kesudahan yang baik akan diperoleh wali-wali-Nya meskipun terkadang mereka mengalami kekalahan] itu di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada hak campur tangan bagi kita dalam urusan ini [Yakni diberikan kesempatan berpendapat dan memberikan usulan. Hal ini merupakan penolakan mereka terhadap qadar Allah, menganggap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya kurang pintar dan menganggap diri mereka lebih pandai], niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah (Muhammad): “Meskipun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh [Oleh karena itu, semua sebab meskipun telah diusahakan, maka hanyalah bermanfaat jika tidak berbenturan dengan qadar Allah. Jika berbenturan, maka tidak akan bermanfaat, bahkan yang berlaku hanyalah ketetapan Allah dalam Al Lauhul Mahfuzh].” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu [Menguji apakah ada nifak atau lebih dominan keimanan atau bahkan imannya lemah] dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu [Berupa bisikan dari setan dan sifat-sifat tercela yang timbul daripadanya]. Allah Maha mengetahui isi hati [Oleh karena itu, ujian yang dilakukan-Nya untuk memperlihatkan secara jelas apa yang disembunyikan dalam hatinya. Ilmu dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya menghendaki untuk mengadakan sebab yang dapat menampakkan apa yang disembunyikan dalam hati].

إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu[Dari peperangan] ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu[Dua pasukan itu ialah pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum musyrikin dalam perang Uhud], sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan [Dengan bisikannya], disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau) [Yakni sikap-sikap menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sebab inilah setan berhasil menguasai mereka. Kalau sekiranya mereka menaati Allah dan rasul-Nya, tentu setan tidak akan dapat menguasai hati mereka. Allah berfirman,
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Terj. Al Hijr: 42)], tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun [Dengan memberikan taufiq kepada mereka untuk beristighfar dan bertobat, serta dengan musibah-musibah yang menghapuskan dosa] lagi Maha Penyantun [Dia tidak segera menghukum para pelaku maksiat, bahkan menundanya dan mengajak untuk kembali kepada-Nya. Jika ia mau bertobat dan kembali, maka Dia menerimanya dan menjadikannya seolah-olah tidak pernah berbuat dosa, maka segala puji bagi Allah atas ihsan-Nya].

Ayat 156-158: Menanamkan jiwa berkorban dan berjihad, larangan menyerupai orang-orang munafik, menerima syubhat mereka, dan bantahan terhadap syubhat mereka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَفَرُوا وَقَالُوا لإخْوَانِهِمْ إِذَا ضَرَبُوا فِي الأرْضِ أَوْ كَانُوا غُزًّى لَوْ كَانُوا عِنْدَنَا مَا مَاتُوا وَمَا قُتِلُوا لِيَجْعَلَ اللَّهُ ذَلِكَ حَسْرَةً فِي قُلُوبِهِمْ وَاللَّهُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

156. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang kafir [Yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar-Nya] (orang-orang munafik) yang mengatakan kepada saudara-saudaranya apabila mereka mengadakan perjalanan di bumi [Lalu meninggal] atau mereka berperang [Lalu terbunuh], “Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh.” Dengan (perkataan dan keyakinan) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang dalam di dalam hati mereka [Sehingga bertambahlah musibah mereka. Adapun orang-orang mukmin, mereka mengetahui bahwa hal itu terjadi dengan taqdir Allah, sehingga Allah memberikan hidayah dan meneguhkan hati mereka serta meringankan musibah tersebut]. Allah yang menghidupkan dan mematikan [Oleh karena itu, diam di tempat tidaklah dapat menolak kematian]. Allah melihat apa yang kamu kerjakan.

وَلَئِنْ قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

157.[Dalam ayat ini dan ayat setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan bahwa terbunuh dalam jihad atau di jalan Allah lainnya bukanlah merupakan kekurangan dan sesuatu yang ditakuti, karena hal itu menjadi sebab yang menyampaikan seseorang kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya, dan yang demikian lebih baik dari harta yang dikejar-kejar dan dikumpulkan oleh manusia pada umumnya. Demikian juga bahwa manusia apabila mereka mati atau terbunuh, maka ia akan dikembalikan kepada Allah bagaimana pun keadaannya, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka. Oleh karena itu, tidak ada jalan keluar selain kepada Allah, dan tidak ada perlindungan bagi makhluk kecuali perlindungan Allah Azza wa Jalla] Dan sungguh, sekiranya kamu gugur di jalan Allah atau meninggal[Maksudnya: meninggal di jalan Allah bukan karena peperangan], tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik (bagimu) dari apa yang mereka kumpulkan [Yakni harta dunia].

وَلَئِنْ مُتُّمْ أَوْ قُتِلْتُمْ لإلَى اللَّهِ تُحْشَرُونَ

158. Dan sungguh, sekiranya kamu meninggal atau gugur, tentu kepada Allah saja kamu dikumpulkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s