Tafsir Surat Ali Imran Ayat 92-101

Juz 4

Ayat 92-94: Menerangkan tentang fiqh infak, dan bantahan terhadap larangan orang Yahudi tentang makanan

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (٩٢) كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٩٣) فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٩٤

92.[Ayat ini merupakan dorongan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menginfakkan harta pada jalan-jalan kebaikan] Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai [Orang yang lebih mencintai Allah akan rela mengorbankan harta yang dicintainya dengan menginfakkannya di jalan-jalan yang diridhai-Nya. Termasuk ke dalam menginfakkan harta yang dicintainya adalah berinfak ketika orang yang berinfak membutuhkannya dan berinfak ketika kondisi sehat dan berat mengeluarkannya; dalam kondisi di mana ia khawatir miskin dan mengharap kaya. Ayat ini menunjukkan bahwa tingkat kebajikan seorang hamba tergantung sejauh mana kerelaan menginfakkan harta yang dicintainya]. Dan apa pun yang kamu infakkan [Agar tidak ada kesan bahwa menginfakkan harta jika tidak seperti yang disebutkan berarti tidak bermanfaat, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan bahwa apa saja yang kita infakkan, besar maupun kecil, dicintai atau tidak harta itu, maka Allah akan membalasnya sesuai niat dan manfaat barang yang diinfakkan], maka sesungguhnya Allah mengetahuinya [Sehingga Dia pun akan memberikan balasan].

93.[Dalam tafsir Al Jalalain diterangkan, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya kamu mengaku berada di atas agama Nabi Ibrahim, padahal ia tidak memakan daging unta dan susunya.” As Sa’diy dalam Tafsirnya menerangkan, bahwa ayat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang menyangka bahwa penghapusan hukum tidak boleh terjadi, oleh karenanya mereka kafir kepada Nabi Isa ‘alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana keduanya datang dengan membawa hukum yang sebagiannya berbeda dengan hukum yang ada pada Taurat dalam hal yang halal dan yang haram] Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan oleh Israil (Yakub) untuk dirinya sendiri [Yaitu daging unta dan susunya karena nadzarnya ketika ia menderita sakit ‘irqun nasaa (semacam encok), di mana apabila ia sembuh, niscaya ia tidak akan memakan makanan yang paling disukainya, yaitu daging unta, demikian pula susunya. Kemudian keturunan Nabi Ya’qub pun mengikutinya, dan hal itu terjadi sebelum Taurat diturunkan] sebelum Taurat diturunkan [Yakni setelah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, namun pada masa Beliau makanan tersebut tidak diharamkan. Setelah Taurat diturunkan, ada beberapa makanan yang diharamkan bagi mereka sebagai hukuman. Nama-nama makanan itu disebut di dalamnya. Selanjutnya lihat surat An Nisa’ ayat 160 dan surat Al An’aam ayat 146]. Katakanlah (Muhammad), “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar”.

94. Barang siapa mengadakan kedustaan terhadap Allah [Dusta terhadap Allah ialah dengan mengatakan bahwa sebelum Taurat diturunkan, Allah telah mengharamkan beberapa makanan kepada Bani Israil] setelah itu [Yakni setelah jelas hujjah, bahwa pengharaman tersebut hanya dari diri Nabi Ya’qub ‘alaihis salam saja, tidak dari masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam], maka mereka itulah orang-orang yang zalim [Kezaliman apa yang lebih besar daripada kezaliman orang yang diajak untuk menggunakan kitabnya, lalu menolaknya dengan sombong dan bersikeras di atas pendiriannya. Ayat ini termasuk bukti kebenaran kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam].

Ayat 95-97: Menerangkan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, pembangunannya terhadap Ka’bah, bantahan terhadap pengakuan Ahli Kitab tentang rumah ibadah yang pertama dan menetapkan kewajiban haji dalam Islam

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٩٥)إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (٩٦)فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (٩٧

95. Katakanlah (Muhammad), “Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus [Di mana Beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) berada di atasnya. ‘Yang lurus’ di sini maksudnya menyelisihi semua agama selain Islam. Agama Nabi Ibrahim adalah Islam, karena Beliau di atas tauhid dan tidak berada di atas syirk], dan dia tidaklah termasuk orang yang musyrik.

96.[Ayat ini turun ketika Ahli Kitab mengatakan, bahwa kiblat mereka lebih dulu dibangun sebelum kiblat kaum muslimin. Maka Allah membantahnya, yakni bahwa rumah ibadah yang pertama kali dibangun adalah Ka’bah, baru kemudian Al Aqsha. Jarak antara keduanya sebagaimana dalam hadits adalah 40 tahun] Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam [Yakni kiblat mereka].

97. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim [Maqam Ibrahim Ialah tempat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdiri membangun Ka’bah, yaitu Hijr. Sebelumnya, hijr tersebut menempel dengan dinding Ka’bah, namun pada zaman Umar radhiyallahu ‘anhu, diletakkan di tempat yang ada sekarang. Ada yang mengatakan, bahwa tanda yang terdapat di sana adalah bekas injakan kedua kaki Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang membekas di batu, dan hal itu masih terlihat sampai di masa-masa pertama umat Islam. Ada pula yang mengatakan, bahwa tanda di dalamnya adalah apa yang Allah tanamkan ke dalam hati manusia berupa rasa ta’zhim (penghormatan) kepada Baitullah. Ada pula yang berpendapat, bahwa yang dimaksud maqam Ibrahim di sini adalah maqam-maqam (posisi-posisi) Beliau di semua tempat manasik, sehingga termasuk di dalamnya semua bagian haji, di mana masing-masingnya terdapat tanda yang jelas seperti thawaf, sa’i dan tempatnya, wuquf di ‘Arafah dan Muzdalifah, melempar jamrah dan syi’ar-syi’ar lainnya. Sedangkan maksud tanda di sana adalah apa yang Allah tanamkan dalam hati manusia berupa rasa hormat dan ta’zhim kepadanya, mereka rela mengorbankan jiwa dan harta untuk dapat sampai ke sana serta siap memikul beban-beban perat untuknya, di samping itu di dalamnya juga terdapat rahasia dan makna yang tinggi. Bahkan dalam pekerjaan haji pun terdapat hikmah dan maslahat yang sangat banyak]. Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia [Termasuk tanda yang jelas juga adalah bahwa orang yang memasukinya akan aman baik secara syara’ maupun taqdir. Secara syara’ adalah, bahwa Allah memerintahkan rasul-Nya untuk menghormatinya dan mengamankan orang yang memasukinya serta tidak boleh diserang, bahkan sampai mengena pula kepada hewan buruannya, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagian ulama ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini, bahwa barang siapa yang melakukan tindak pidana di luar tanah haram, lalu ia berlindung ke baitullah, maka ia akan aman dan tidak ditegakkan had sampai ia keluar daripadanya. Adapun aman secara taqdir adalah, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala dengan taqdir-Nya menetapkan dalam diri manusia, termasuk orang-orang kafir dan musyrik untuk menghormatinya. Lebih dari itu, orang yang berniat jahat terhadap Baitullah, Allah memberikan hukuman segera kepadanya sebagaimana yang terjadi pada As-habul Fiil (tentara bergajah yang hendak menghancurkan ka’bah)]. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah [Sebelum menyebutkan kewajiban haji, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan kelebihan-kelebihan Baitullah yang menjadikan hati manusia berkeinginan untuk pergi ke sana, kelebihan itu adalah:
Pertama, sebagai rumah ibadah pertama di dunia.
Kedua, mendapatkan keberkahan, di mana tidak ada rumah yang paling banyak berkahnya dan paling banyak manfaatnya bagi manusia dibanding Baitullah.
Ketiga, sebagai petunjuk bagi manusia
Keempat, terdapat tanda-tanda.
Kelima, orang yang memasukinya akan aman.
Kalau pun kelebihan di atas tidak disebutkan, tetapi hanya cukup dengan penyandaran kepada-Nya, yakni sebagai “rumah-Nya”, maka hal itu pun sudah cukup], yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana [Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan, alat-alat pengangkutan, sehat jasmani dan perjalanan pun aman serta kleluarga yang ditinggalkannya terjamin kehidupannya]. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam [Allah Maha Kaya, tidak memerlukan manusia, jin, malaikat dan ibadah mereka].

Ayat 98-101: Peringatan terhadap umat Islam agar tidak menaati dan tidak berwala’ kepada Ahli Kitab, serta keharusan menjaga persatuan

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ (٩٨) قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (٩٩)

98. Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah (Al Qur’an), padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?”

99. Katakanlah (Muhammad), “Wahai ahli Kitab! Mengapa kamu menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah [Yakni dari agama-Nya, dengan mendustakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyembunyikan nikmat yang diberikan kepadanya], kamu menghendakinya (jalan Allah) menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?” [Menyaksikan maksudnya mengetahui bahwa agama yang diridhai Allah adalah agama Islam sebagaimana yang ada dalam kitab mereka]. Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan [Bahkan Allah meliputi amal mereka, niat mereka dan rencana jahat mereka dan akan memberikan balasan terhadap pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka misalnya kafir, mendustakan dan menghalangi manusia dari jalan Allah. Di ayat 98-99, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mencela orang-orang Yahudi dan Nasrani karena kekafiran mereka kepada ayat-ayat-Nya yang diturunkan kepada Rasul-Nya, padahal ayat tersebut Allah jadikan sebagai rahmat bagi hamba-hamba-Nya agar mereka dapat mengambilnya sebagai petunjuk. Namun mereka (Ahli Kitab) malah mengingkarinya, bahkan tidak hanya itu, mereka juga menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkannya menjadi bengkok].

Allah memperingatkan kaum mukminin akan tipu daya dan penyesatan orang-orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ (١٠٠)

100.[Allah memperingatkan kaum mukmin supaya tidak taat kepada orang-orang kafir, dari godaan dan penyesatan mereka, setelah sebelumnya Allah tegur Ahli Kitab atas kekafiran dan penghalangan mereka di jalan Allah, yaitu agama Islam] [Ayat ini turun ketika sebagian orang-orang Yahudi melewati kabilah Aus dan Khazraj. Bersatunya mereka membuat orang-orang Yahudi menjadi jengkel, maka mereka pun mengingatkan masa lalu kabilah Aus dan Khazraj di zaman jahiliyyah. Akibatnya, dua kabilah itu saling bertengkar dan hampir saja terjadi peperangan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak termakan oleh tipu daya mereka] Wahai orang-orang yang beriman! [kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dan kaum mukmin] Jika kamu mengikuti sebagian dari orang yang diberi Al Kitab [kamu penuhi ajakan mereka sehingga timbul fitnah yang terjadi diantara kaum mukminin], niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah beriman. [kekafiran menyebabkan kebinasaan di dunia, dengan adanya permusuhan dan kebencian sehingga timbul fitnah kekacauan dan pertumpahan darah, serta kebinasaan dalam agama]

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (١٠١

101. Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? [Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan sebab terbesar yang menjadikan kaum mukmin dapat tetap kokoh di atas keimanan mereka dan tidak goyah, yaitu dengan seringnya dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya pada siang dan malam hari, sebagaimana yang biasa mereka dengarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat maupun pada beberapa kesempatan. Dua ilmu dalam ayat ini, yaitu Al Qur’an dan Rasulullah. Adapun Rasulullah maka beliau telah wafat, sedangkan Al Qur’an, maka Allah kekalkan sebagai rahmat dan nikmat pada kaum mukmin, sebagai punjuk dan cahaya penerang, di dalamnya dijelaskan halal dan haram, ketaatan dan maksiat. Ketika orang kafir menyebar berita yang menyebabkan orang mukmin ragu, maka orang mukmin wajib kembali kepada ayat-ayat Allah dan tuntunan Rasulullah sehingga terbuka dan hilang keraguan yang menggantung di hati] Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah [yaitu Al Qur’an dan tuntunan Rasulullah Muhammad s.a.w., yang menjaganya dari terjatuh ke dalam kebinasaan yang abadi], maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. [yang menuju ke surga, yaitu jalan agama Islam. Dikatakan, maknanya adalah barang siapa menjadikan Allah sebagai sandaran dan rasa takutnya hanya kepada-Nya, ketika samar dan ragu, niscaya Allah akan menjaganya dari keraguan]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s