Tafsir Ali Imran Ayat 102-109

Ayat 102-109: Perintah bertakwa, beramar ma’ruf dan nahi munkar, berpegang dengan agama Allah serta tidak berpecah belah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ   (١٠٢)

102. [Setelah Allah SWT menerangkan tentang orang-orang kafir yang sesat dan menyesatkan orang lain, Allah terangkan kesempurnaan orang-orang mukmin untuk diri mereka]
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya
[yaitu berusaha sekuat tenaga melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan-Nya. Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Dengan ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak dikufuri dan diingat (dzikir) tidak dilupakan.“. Adapun yang disebabkan karena kelupaan maka tidak dicela, karena beban syari’at ketika demikian diangkat darinya.
Di dalam hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Apa yang aku larang, hendaklah kalian menjauhinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian melaksanakannya semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat ini merupakan penjelasan terhadap hak Allah Ta’ala dalam takwa, adapun yang diwajibkan bagi hamba dari ketakwaan itu adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, “fattaqullah mas tatha’tum” (Maka bertakwalah kepada Allah semampu kamu). Rincian ketakwaan yang terkait dengan hati dan anggota badan sangat banyak sekali, namun terhimpun dalam “mengerjakan semua yang diperintahkan Allah dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya”. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan mereka melakukan hal yang membantu ketakwaan, yaitu bersatu dan berpegang teguh dengan agama Allah, di samping itu perkataan kaum mukmin adalah sama sambil bersatu tidak berpecah belah. Bersatunya kaum muslimin di atas agama mereka serta bersamanya hati dapat memperbaiki agama dan dunia mereka. Dengan bersatu, mereka bisa melakukan perkara apa pun, demikian juga mereka akan memperoleh maslahat yang banyak yang hanya bisa dilakukan secara bersama, seperti tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, sebagaimana dalam berpecah dan bermusuhan menjadikan kesatuannya retak, ikatannya terputus, dan masing-masing hanya bekerja dan berusaha untuk kepentingan pribadinya meskipun mengakibatkan bahaya yang merata”];
dan janganlah kamu mati
[dalam kondisi yang bagaimanapun]
kecuali dalam keadaan beragama Islam. [Ini merupakan perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin agar mereka bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya, tetap berada di atasnya dan istiqamah menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan hingga akhir hayat, tidak berubah-ubah supaya tidak mati dalam keadaan berubah melakukan maksiat. Hal itu, karena orang yang terbiasa hidup di atas sesuatu, niscaya ia akan meninggal di atasnya. Barang siapa di saat sehat, semangat dan berkemampuan tetap menjaga ketakwaan kepada Tuhannya dan mentaati-Nya serta senantiasa kembali kepada-Nya, maka Allah akan meneguhkannya ketika wafat serta mengaruniakan husnul khatimah. Dari Jabir r.a., “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. berkata tiga kali sebelum beliau wafat, “Janganlah mati seseorang diantara kalian kecuali dia berkhusnudhon dengan Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)]

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)

103. Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah
[Rasulullah SAW bersabda: “Kitabullah adalah tali Allah yang menjulur dari langit ke bumi”. “Al-Qur’an merupakan tali Allah yang kuat, keajaibannya tidak pernah habis, dan tidak membosankan sekalipun banyak yang diulang-ulang. Barang siapa berkata dengannya benarlah dia, dan barang siapa mengamalkannya mendapatkan bimbingan dan orang yang berpegang teguh padanya mendapatkan hidayah ke jalan lurus (HR. Abu Sa’id al Khudri)],
dan janganlah kamu bercerai berai 
[sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dikatakan: Janganlah kalian adakan suatu perkara di tengah-tengah kalian yang menyebabkan perpecahan, sehingga persatuan menjadi sirna, berubah menjadi kelompok-kelompok dan individu. Maka dalam ayat ini terdapat larangan untuk bercerai berai dan perpecahan, dan perintah untuk bermufakat dan bersatu, karena yang Hak/kebenaran hanya satu, selainnya adalah kejahilan dan kesesatan. Sehingga menjadi wajib menghilangkan perbedaan dalam agama dan berkelompok, karena hal itu merupakan kebiasaan jahiliyah].
Ingatlah nikmat Allah kepadamu
[nikmat duniawi dan akhirat, yaitu hidayah dan taufik pada agama Islam]
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu [dengan Islam, Allah masukkan rasa cinta dengan memberimu taufik kepada Islam],
sehingga dengan karunia-Nya
[yaitu Islam]
kamu menjadi bersaudara
[di dalam agama Allah],
sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka 
[Di mana ketika itu tidak ada penghalang antara kalian dengan neraka selain kematian],
lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana 
[Dengan beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam].
Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk 
[Yakni dapat mengetahui yang hak serta dapat mengamalkannya. Ayat ini menunjukkan, bahwa Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang mengingat nikmat-Nya baik dengan hati maupun lisan agar bertambah syukur dan cinta mereka kepada-Nya dan agar Dia mengaruniakan kepada mereka karunia dan ihsan-Nya. Demikian juga menunjukkan bahwa nikmat besar yang layak sekali diingat adalah nikmat beragama Islam, mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta bersatunya kaum muslimin dan tidak berpecah belah].

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  (١٠٤)

104. Dan hendaklah di antara kamu ada
[Hendaklah ada di antara kalian wahai orang-orang beriman]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ يَبْعَثُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ، ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يَسْتَجِيْبُ لَكُمْ

“Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdo’a tidak dikabulkan-Nya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)]
segolongan orang
[yang diikuti orang-orang]
yang menyeru
[manusia] kepada kebajikan
[dan menganjurkan perbaikan pada urusan dunia dan akhirat mereka. Kebajikan (al khair) adalah segala sesuatu yang mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kemurkaan-Nya],
menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar 
[Ma’ruf: segala perintah Allah atau yang dianggap baik oleh syari’at dan akal, sedangkan munkar adalah segala yang dilarang Allah atau yang dianggap buruk oleh syara’ dan akal].
Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
[Ayat ini merupakan petunjuk dari Allah kepada kaum mukmin, yakni hendaknya di antara mereka ada segolongan orang yang mau berdakwah dan mengajak manusia ke dalam agama-Nya. Termasuk ke dalamnya adalah para ulama yang mengajarkan agama, para penasehat yang mengajak orang-orang non muslim ke dalam Islam, orang yang mengajak orang-orang yang menyimpang agar dapat beristiqamah, orang-orang yang berjihad fi sabilillah, dewan hisbah (lembaga amr ma’ruf dan nahi munkar) yang ditunjuk pemerintah untuk memperhatikan keadaan manusia dan mengajak manusia mengikuti syara’ seperti mengajak mereka mendirikan shalat lima waktu, berzakat, berpuasa, berhaji bagi yang mampu dan mengajak kepada syari’at Islam lainnya, demikian juga memperhatikan pasar, bagaimana timbangan dan takaran yang mereka gunakan apakah terjadi pengurangan atau tidak, serta melarang mereka melakukan kecurangan dalam bermu’amalah. Semua ini hukumnya fardhu kifayah. Bahkan tidak hanya itu, segala sarana yang menjadikan sempurna amr ma’ruf dan nahi munkar, sama diperintahkan, misalnya menyediakan perlengkapan jihad untuk dapat mengalahkan musuh, mempelajari ilmu agar dapat mengajak manusia kepada kebajikan, menuliskan buku-buku yang berisikan ajaran Islam, membangun madrasah untuk mengajarkan agama, membantu pihak berwenang (dewan hisbah) mewujudkan syari’at, dsb. Mereka inilah orang-orang yang beruntung, yakni memperoleh apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang mereka khawatirkan. Pada ayat selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala melarang mereka bertasyabbuh (menyerupai) Ahli Kitab yang berpecah belah dalam beragama, terlebih perpecahan mereka terjadi setelah datang keterangan yang jelas]

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٥)

105. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas [Yakni setelah mengetahui bahwa sikap mereka menyelisihi perintah Allah]. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (١٠٦)

106.[Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitakan tentang keadaan pada hari kiamat dan atsar (pengaruh) dari balasan yang adil atau lebih baik, di mana di dalamnya terdapat targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman) agar seseorang memiliki rasa takut dan harap] Pada hari itu [Yakni hari kiamat] ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram [Mereka adalah orang-orang kafir] (kepada mereka dikatakan) [Ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka], “Mengapa kamu kafir setelah beriman?[Maksudnya: “Bagaimana kamu lebih mengutamakan kekafiran dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk?”] Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”

وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١٠٧)

107. Adapun orang-orang yang berwajah putih berseri [Mereka adalah orang-orang mukmin], mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.

تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ (١٠٨)

108. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan Allah Tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh alam [Misalnya menyiksa mereka tanpa ada kesalahan atau dosa dan mengurangi kebaikan yang mereka lakukan].

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (١٠٩

109. Milik Allah-lah [Yakni milik-Nya, ciptaan-Nya dan hamba-Nya. Allah-lah yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi, Dia-lah yang menciptakan mereka, memberi rezki kepada mereka dan mengatur mereka dengan qadar-Nya, syari’at-Nya dan perintah-Nya. Semua akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat, dan Dia akan memberikan balasan amal mereka yang baik maupun yang buruk] segala yang ada di langit dan di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s