Tafsir Ali Imran Ayat 1-9

Surah Ali Imran (Keluarga Imran) [Surat ini turun setelah surat Al Anfal. Ayat pertama sampai 80-an ayat turun untuk membantah orang-orang Nasrani, membantah keyakinan mereka dan mengajak mereka ke dalam agama yang benar, yaitu Islam, sebagaimana awal-awal surat Al Baqarah turun untuk membantah orang-orang Yahudi]

Surah ke-3. Terdiri dari 200 ayat. Madaniyyah

Ayat 1-6: Menetapkan keesaan dan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, menetapkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan kebenaran Al Qur’an

 الم (١) اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (٢) نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (٣) مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ (٤) إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ (٥)هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٦

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Alif laam miim [Sudah dibahas di surat Al Baqarah].

2. Allah [yang berhak disembah dalam ibadah], tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang Mahahidup [yang Mahahidup tanpa permulaan dan tanpa akhir], Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya [Allah berdiri sendiri tanpa memerlukan bantuan makhluk-Nya, Dia mengatur dan mengurus makhluk-Nya sehingga semua makhluk membutuhkannya. Termasuk mengurus makhluk-Nya juga adalah menurunkan kitab agar menjadi pedoman bagi manusia dalam meniti hidup ini].

3. Dia menurunkan kitab (Al Quran)[secara berangsur-angsur sesuai dengan kejadian yang berlaku selama 23 tahun] kepadamu [Muhammad] yang mengandung kebenaran [dalam hukum-hukum, cerita orang-orang terdahulu, dalam janji dan ancaman, dalam petunjuk dan dalil bahwasanya dari sisi Allah, yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, bukan senda gurau, bukan dengan makna yang rusak, yang saling bertentangan]; membenarkan [sesuai] (kitab-kitab) sebelumnya [Dalam tauhid, keimanan serta mensucikan Allah dari hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya. Dalam perintah berbuat adil dan kebajikan, dalam berita para nabi dan umat terdahulu, dalam syariat yang sama disetiap umat. Adapun syariat yang berbeda mengandung hikmah kebaikan sesuai dengan kekhususan umat, yang membawa maslahat sesuai keadaan mereka] [Oleh karena itu, Al Qur’an adalah pentazkiyah (yang merekomendasi) kitab-kitab sebelumnya, apa saja berita yang dibenarkannya maka berita itu diterima dan apa saja berita yang ditolaknya, maka berita itu tertolak. Kitab tersebut sejalan dengan kitab-kitab sebelumnya dalam semua tuntutan yang disepakati para rasul. Oleh karena itu, orang-orang Ahlul kitab tidak dapat membenarkan kitab-kitab mereka jika mereka tidak beriman kepada kitab Al Qur’an. Hal itu, karena kafir kepada kitab tersebut membatalkan keimanan mereka kepada kitab-kitab mereka], dan menurunkan Taurat [secara sekali turun kepada Musa bin ‘Imran] dan Injil [secara sekali turun kepada Isa bin Maryam],

4. Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia [Agar urusan agama dan dunia mereka menjadi baik. Zhahirnya bahwa firman-Nya ” menjadi petunjuk bagi manusia ” kembali kepada kitab-kitab yang disebutkan, baik Taurat dan Injil yang masih murni dan kitab Al Qur’an. Dengan demikian, barang siapa yang tidak mau menerima kitab yang diturunkan-Nya, maka dia berada dalam kesesatan], dan Dia menurunkan Al Furqaan [Al Furqaan ialah kitab yang membedakan antara yang benar dan yang salah. Ada pula yang mengartikan furqan di sini dengan hujjah, bukti dan keterangan yang jelas, serta perincian segala yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum yang jelas sehingga tidak ada lagi udzur bagi mereka yang tidak beriman kepadanya]. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman[Bagi orang-orang yang mendurhakainya].

5. Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit [Disebutkan hanya bumi dan langit, karena penglihatan manusia tidak dapat melebihinya].

6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki [Misalnya dibentuk laki-laki atau perempuan, berkulit putih atau berkulit hitam]. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana [Ayat-ayat di atas mengandung taqrir (pernyataan) terhadap keesaan Allah dan keberhakan-Nya untuk diibadati tidak selain-Nya, membatalkan sesembahan-sesembahan yang disembah selain-Nya, membantah keyakinan orang-orang Nasrani yang menyangka bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam berhak disembah. Demikian juga menunjukkan bahwa Allah Maha Hidup dan Maha Mengurus (Qayyumiyyah Tammah) yang mencakup semua sifat suci bagi-Nya, menerangkan syari’at-syari’at yang besar dan bahwa syari’at tersebut merupakan rahmat dan hidayah bagi manusia, menerangkan hukuman bagi mereka yang tidak mau mengambil syari’at yang diturunkan-Nya dan menyatakan luasnya ilmu Allah, terlaksananya apa yang Dia kehendaki dan menerangkan pula tentang hikmah(kebijaksanaan)-Nya].

Ayat 7-9: Menerangkan ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat dalam Al Qur’an, pentingnya doa, dan wajibnya bertadharru’ (merendahkan diri dan berdoa) kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٧)رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (٨) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (٩

7. Dialah yang menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat [Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah], itulah pokok-pokok isi Al Qur’an [Yang dirujuk ketika terjadi kesamaran dan mengembalikan kepadanya paham yang menyelisihinya, atau maksudnya bisa juga “Yang dijadikan pegangan dalam hukum”] dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat [termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali setelah diteliti secara mendalam atau dipadukan dengan ayat yang muhkamat; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain. Ada pula yang menggolongkan beberapa huruf di awal surat sebagai mutasyabihat, seperti alif laam miim, dsb. wallahu a’lam]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya [Orang-orang yang berpenyakit hati karena niatnya yang buruk berusaha mencari ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan syubhat di tengah manusia agar dapat menyesatkan mereka, di samping itu, mereka menta’wil ayat-ayat mutasyabihat untuk menguatkan pemahaman mereka yang batil.
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membacakan ayat di atas, Dan bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهًمْ
“Apabila kalian melihat orang-orang yang mencari ayat-ayat mutasyabihat, mereka itulah orang-orang yang disebut Allah, maka berhati-hatilah.”], padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah [Jumhur (mayoritas) mufassir mewaqfkan (memberhentikan) sampai ayat ini, namun yang lain menyambung dengan kata-kata “wa raasikhuun…dst.” Kedua-duanya masih mengandung kemungkinan benar, jika maksud “ta’wil” di sini adalah mengetahui hakikatnya, maka yang benar adalah waqf sampai “illallah”, karena yang mengetahui hakikatnya adalah Allah saja. Misalnya hakikat sifat Allah, hakikat sifat-sifat yang terjadi pada hari akhir dsb. Hal ini, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, tidak boleh bagi seseorang memberanikan diri mengkaifiyatkannya.
Adapun jika arti “ta’wil” di ayat ini adalah tafsir, penjelasan lebih dalam, maka yang benar adalah menyambung kata-kata Ar Raasikhuun (orang-orang yang ilmunya mendalam) dengan Allah; tidak diwaqfkan. Sehingga tafsir ayat-ayat yang mutasyabihat, pengembalian kepada ayat-ayat yang muhkamat serta penyingkiran kesamaran yang ada dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala dan orang-orang yang ilmunya mendalam]. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya (Al Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami [Oleh karena semua ayat tersebut berasal dari sisi Allah, maka tidak akan terjadi pertentangan, bahkan isinya sama, yang satu dengan yang lain saling membenarkan dan menguatkan].” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal [Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat memahami dan mengerti maknanya secara benar].

8. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, Sesungguhnya Engkau Maha pemberi (karunia)”.

9. “Ya Tuhan Kami, Engkau-lah yang mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tidak ada keraguan padanya” [Tujuan dari do’a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya. Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:
1. Ilmu, sebagai sarana yang menyampaikan mereka kepada Allah.
2. Ilmunya yang mendalam.
3. Beriman kepada semua kitab dan mengembalikan ayat yang mutasyabihat kepada ayat yang muhkamat.
4. Meminta kepada Allah ampunan dan keselamatan dari musibah yang menimpa orang-orang yang tersesat.
5. Mereka mengakui nikmat hidayah yang diberikan Allah.
6. Mereka meminta kepada Allah rahmat-Nya yang mengandung keberhasilan memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan. Mereka bertawassul dengan nama-Nya Al Wahhab.
7. Keimanan dan keyakinan mereka yang mendalam kepada hari kiamat dan rasa takut mereka kepada hari itu sehingga membuahkan amal]. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s