Tafsir Al Baqarah Ayat 256-260

Ayat 256: Kelapangan Islam dan tidak dipaksanya seseorang masuk ke dalam agama Islam

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦

256.[Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai dan Ibnu Hibban yang bersumber dari Ibnu Abbas: Bahwa sebelum Islam datang, ada seorang wanita yang selalu kematian anaknya. Ia berjanji kepada dirinya, apabila ia mempunyai anak dan hidup akan dijadikan Yahudi. Ketika Islam datang dan kaum Yahudi Banin Nadzir diusir dari Madinah (karena pengkhianatannya), ternyata anak tersebut dan beberapa anak lainnya yang sudah termasuk keluarga Anshar, terdapat bersama-sama kaum Yahudi. Berkatalah kaum Anshar: “Jangan kita biarkan anak-anak kita bersama mereka”. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Al-Baqarah : 256) sebagai teguran bahwa tidak ada paksaan dalam Islam.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas: Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (Al-Baqarah : 256) berkenaan dengan Hushain dari golongan Anshar, suku Bani Salim bin ‘Auf yang mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani, sedang ia sendiri seorang Muslim. Ia bertanya kepada Nabi Saw: “Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan tetap ingin beragama Nasrani?”. Allah menjelaskan jawabannya dengan ayat tersebut bahwa tidak ada paksaan dalam Islam] Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam) [“Allah Subhaanahu wa Ta’aala memberitahukan bahwa tidak ada paksaan dalam menganut agama karena memang tidak butuh adanya pemaksaan. Hal itu, karena memaksa tidaklah dilakukan kecuali dalam hal yang masih samar tandanya, masih tersembunyi hasilnya atau dalam hal yang memang dibenci oleh jiwa. Adapun agama dan jalan yang lurus ini, maka telah jelas tanda-tanda (kebenarannya) oleh akal, telah jelas jalannya dan telah nampak perkaranya, telah diketahui petunjuknya dan bukan kesesatan. Oleh karena itu, orang yang memperoleh taufiq apabila memperhatikan agama ini meskipun sebentar, niscaya dia akan mendahulukan dan memilihnya. Sedangkan orang yang buruk niatnya, rusak pilihannya dan buruk jiwanya, maka ketika melihat yang hak, dia lebih memilih yang batil, saat ia melihat yang bagus, maka ia lebih memilih yang jelek. Orang seperti ini, Allah tidak butuh memaksanya menganut agama ini karena tidak ada nilai dan faedahnya. Di samping itu, orang yang dipaksa imannya tidaklah sah. Namun demikian, ayat ini tidaklah menunjukkan agar kita tidak memerangi orang-orang kafir harbiy (yang memerangi Islam). Tetapi maksudnya, bahwa hakikat agama ini sesungguhnya menghendaki untuk diterima oleh setiap orang yang adil, yang tujuannya mencari yang hak. Adapun masalah memerangi atau tidaknya, tidaklah ditunjukkan olehnya. Bahkan, kewajiban berperang diambil dari nash-nash yang lain. Akan tetapi dari ayat yang mulia ini, dapat dipakai dalil diterimanya jizyah (pajak) dari selain ahlul kitab sebagaimana hal itu merupakan pendapat kebanyakan ulama.”], sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat [Yakni telah jelas berdasarkan ayat-ayat yang begitu jelas bahwa iman adalah petunjuk dan kekafiran adalah kesesatan. Ayat ini turun berkenaan tentang sebagian orang Anshar yang memiliki anak, di mana dia hendak memaksa mereka masuk Islam]. Barang siapa ingkar kepada Thaghut [Thaghut ialah setan dan apa saja yang disembah selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang (teguh) kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus [Di mana tali yang dipegangnya dapat menyelamatkan dan menjaganya dari terjatuh ke dalam neraka]. Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui [Allah Maha Mengetahui apa yang dilakukan mereka serta mengetahui niatnya, dan Dia akan memberikan balasan terhadap semua itu].

Ayat 257: Allah Subhaanahu wa Ta’aala Pelindung orang-orang mukmin, sedangkan orang-orang kafir pelindung mereka adalah setan

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٥٧

257. Allah pelindung [Dengan memberikan pertolongan, taufiq dan penjagaan] orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) [Demikian pula Allah akan mengeluarkan mereka dari kegelapan kubur, kegelapan sewaktu hasyr (pengumpulan manusia), kegelapan pada hari kiamat kepada nikmat yang kekal, tempat peristirahatan yang sesungguhnya, keleluasaan dan kebahagiaan]. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran) [Disebutkan bahwa orang-orang kafir wali mereka adalah setan, di mana setan itu mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan adalah sebagai kebalikan orang-orang yang beriman, di mana wali mereka adalah Allah, dan Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Ayat ini bisa juga ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sebelumnya beriman kepada nabi sebelum diutusnya, namun setelah diutus, mereka kafir sehingga dikatakan “mengeluarkan mereka dari cahaya (keimanan) kepada kegelapan (kekafiran)”, wallahu a’lam]. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Ayat 258: Kisah Namrud yang mendebat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tentang Tuhannya

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (٢٥٨

258. Tidakkah kamu tidak memperhatikan orang [Yaitu Namrudz dari Babilonia. Yakni berani sekali ia mendebat sesuatu yang sudah yakin dan tidak ada keraguan lagi] yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya [Tentang keesaan Allah dan tentang rububiyyah-Nya (kepengurusan-Nya) terhadap alam semesta], hanya karena Allah telah memberikan kepada orang itu kerajaan (kekuasaan) [Sehingga dirinya bersikap sombong, sampai-sampai ia menyangka dapat berbuat seperti yang diperbuat Allah]. Ketika Ibrahim berkata [Sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan kepada Ibrahim, “Siapakah Tuhan yang kamu mengajak kami menyembahnya?”]: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” [Maksud kata-kata raja Namrudz “menghidupkan” ialah membiarkan hidup, dan yang dimaksud dengan mematikan ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim ‘alaihis salam] Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Lalu terdiamlah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim [Yakni Allah membiarkan mereka di atas kekafiran dan kesesatan, Karena merekalah yang memilih hal tersebut untuk diri mereka. Kalau seandainya, niat mereka mencari yang hak dan mencari hidayah, tentu Allah akan memberi mereka petunjuk dan memudahkan kepada mereka sebab-sebab untuk memperolehnya].

Ayat 259: Kisah orang yang melewati kampung yang roboh, dan di sana terdapat dalil bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala berkuasa membangkitkan manusia yang telah mati

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٥٩

259. Atau (tidakkah kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri [Ada yang mengatakan bahwa negeri itu adalah Baitul Maqdis dahulu, orang yang melewatinya dengan berkendaraan keledai adalah Uzair. Ia pun berkata dengan nada ta’ajjub (bingung) “Bagaimana caranya Allah menghidupkan negeri yang telah hancur ini?”] yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya [Karena dirobohkan oleh raja Bukhtanasshar], dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?” Lalu Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lama kamu tinggal (di sini)?” Dia menjawab: “Aku tinggal di sini sehari atau setengah hari [Kata-kata ini diucapkan karena ia tidur di pagi hari lalu dicabut nyawanya, kemudian dihidupkan kembali menjelang matahari tenggelam, walahu a’lam].” Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah [Meskipun sudah bertahun-tahun. Pada yang demikian itu terdapat dalil yang jelas kemahakuasaan Allah, yang mampu menjaga makanan itu sehingga tidak berubah meskipun telah berlalu masa yang lama, padahal makanan merupakan sesuatu yang paling cepat berubah menjadi basi dan tidak bisa dimakan lagi]; dan lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami menjadikanmu tanda kekuasaan Kami bagi manusia [Yakni bukti atas kemahakuasaan Allah untuk membangkitkan manusia yang telah mati]. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka ketika telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati), dia pun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ayat 260: Kisah Ibrahim ‘alaihis salam dan pembangkitan orang-orang yang telah mati, hal ini agar ia bertambah tenang

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٢٦٠

260.[Dalam ayat ini tedapat dalil hissiy (inderawi) yang menunjukkan Allah mampu menghidupkan orang yang telah mati dan memberikan balasan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala menceritakan tentang kekasih-Nya, yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bahwa dia pernah meminta kepada Allah agar diperlihatkan secara langsung bagaimana Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati. Hal itu, karena dia sudah yakin dengan apa yang diberitakan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, akan tetapi ia ingin menyaksikan langsung dengan mata kepala agar memperoleh tingkatan ‘ainul yakin (melihat langsung yang tidak mungkin lagi dihinggapi keraguan)] Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah kamu [Yakni “Apakah kamu belum percaya bahwa Aku dapat menghidupkan yang mati”. Meskipun Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui keimanan yang dalam yang ada pada diri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam]?” Ibrahim menjawab: “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)[Yakni agar bertambah keyakinannya].” Allah berfirman: “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah [Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hanya memegang potongan kepalanya, lalu Ibrahim memanggil burung-burung yang telah terpotong-potong itu, sehingga bagian-bagian itu berterbangan menyatu dengan bagiannya yang lain sehingga sempurna, kemudian terbang menuju kepalanya yang ada di sisi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam] olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit [Yakni bukit yang dekat dengan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam] satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa [Dia memiliki kekuatan yang besar untuk menundukkan semua makhluk, dan tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Namun demikian, tindakan-Nya di atas kebijaksanaan] lagi Maha Bijaksana [Baik dalam perkataan-Nya, perbuatan-Nya, syari’at yang dibuat-Nya maupun taqdir-Nya. Oleh karena itu, Dia tidaklah bertindak main-main atau kosong dari hikmah].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s