Tafsir Al Baqarah Ayat 168-173

Ayat 168-169: Nikmat Allah Subhaanahu wa Ta’aala kepada semua manusia dan ajakan-Nya kepada mereka untuk tidak mengikuti langkah-langkah setan

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأرْضِ حَلالا طَيِّبًا وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (١٦٨) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (١٦٩

168. Wahai manusia! Makanlah yang halal[Halal di sini mencakup halal memperolehnya, seperti tidak dengan cara merampas dan mencuri, demikian juga tidak dengan mu’amalah yang haram atau cara yang haram dan tidak membantu perkara yang haram] lagi baik[Yaitu yang suci tidak bernajis, bermanfa’at dan tidak membahayakan. Ada yang mengartikan thayyib di ayat ini dengan “tidak kotor” seperti halnya bangkai, darah, daging babi dan segala yang kotor lainnya. Dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa yang haram itu ada dua: yang haram zatnya dan yang haram karena ada sebab luar, seperti karena terkait dengan hak Allah atau hak hamba-Nya. Demikian juga bahwa hukum makan agar dapat melangsungkan kehidupan adalah wajib] yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan[Seperti menghalalkan dan mengharamkan dari diri sendiri, segala nadzar maksiat, melakukan bid’ah dan kemaksiatan. Termasuk juga mengkonsumsi barang-barang haram. Qatadah dan As Suddiy berpendapat bahwa semua kemaksiatan kepada Allah termasuk mengikuti langkah-langkah setan], sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu[Maksudnya: setan adalah musuh yang jelas bagi kita. Oleh karenanya, tidak ada yang diinginkannya selain menipu kita dan mencelakakan kita. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tidak cukup menyebutkan “jangan mengikuti langkah-langkah setan” tetapi menerangkan bahwa dia adalah musuh yang nyata bagi kita, dan tidak sampai di situ, Dia menerangkan lebih rinci apa yang diserukan setan, yaitu menyuruh berbuat jahat dan keji seperti yang disebutkan pada ayat ssetelahnya].

169. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat[Mencakup semua maksiat] dan keji[Yaitu maksiat yang dianggap jelek sekali oleh syara’, uruf (kebiasaan yang berlaku) maupun akal baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh: zina, meminum khamr, membunuh, menuduh zina, dsb. Ada juga yang berpendapat bahwa “as suuu’” (jahat) adalah kemaksiatan yang tidak ada hadnya, sedangkan “al fahsyaa’” (keji) adalah kemaksiatan yang ada hadnya], dan mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah [Termasuk mengatakan tentang Allah tanpa ilmu adalah:
– Berkata tentang syari’at Allah tanpa ilmu (dasar dalil).
– Berkata tentang taqdir Allah tanpa ilmu, padahal taqdir-Nya masih tersembunyi.
– Menyifati Allah tanpa dalil.
– Mengatakan bahwa Allah punya tandingan.
– Mengatakan bahwa Allah menghalalkan barang ini, mengharamkan barang itu atau memerintahkan hal ini dan melarang hal itu, ia menyatakan semua itu tanpa dalil.
– Menafsirkan firman Allah dengan tafsir batil atau sesuai hawa nafsunya, lalu ia mengatakan “inilah maksud firman Allah ini”.
– Dsb.].

Ayat 170-171: Keadaan kaum musyrik karena tidak mau beriman dan masuk Islam

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ (١٧٠)وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لا يَعْقِلُونَ (١٧١

170. Dan apabila dikatakan kepada mereka[Yakni orang-orang kafir atau orang-orang yang sesat], “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah[Seperti mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta’aala, menghalalkan yang baik-baik dan meninggalkan tradisi yang menyalahi ajaran agama],” mereka menjawab, “(Tidak), Kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”[Apakah mereka akan tetap mengikuti kebiasaan yang diwariskan leluhur mereka meskipun para leluhur itu tidak memahami sedikit pun kebenaran dalam hal-hal akidah dan ibadah serta tidak memiliki dalil logis dan menyimpang dari jalan yang benar?  Ayat ini menunjukkan tercelanya sikap taqlid tanpa dalil (ikut-ikutan). Adapun mengikuti para ahli ijtihad (yakni bertaklid kepada mereka setelah mengetahui dalil mereka) adalah boleh, dengan dalil firman Allah Ta’ala: “…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. (al-Anbiya’: 7)].

171. Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang meneriaki binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan saja[Penyeru orang-orang kafir adalah orang-orang yang berdakwah kepada mereka, mengajak mereka beriman dan mengikuti petunjuk. Dalam ayat ini, penyeru tersebut diumpamakan seperti penggembala, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan sebagai binatang ternak yang tidak memahami kata-kata si penggembala selain mendengar suara sebagai penegak hujjah, namun mereka tidak memahaminya]. (Mereka) tuli[Mereka tidak mendengarkan yang hak dengan pendengaran yang membuahkan pemahaman dan sikap menerima], bisu[Bisu dari mengatakan yang hak (benar)] dan buta[Penglihatan mereka tidak mampu melihat bukti-bukti yang jelas], maka mereka tidak mengerti[Mereka tidak mengerti nasehat yang disampaikan. Inilah sebab mereka bersikap seperti itu, yakni mereka tidak memiliki akal yang sehat, dan tidak mengerti hal-hal yang bermaslahat bagi mereka padahal penyeru itu mengajak kepada keselamatan dan agar jauh dari kesengsaraan, mengajak masuk ke dalam surga dan jauh dari neraka].

Ayat 172-173: Halalnya yang baik-baik dan haramnya yang buruk-buruk, dan makanan yang halal dan yang haram

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (١٧٢) إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٧٣

172.[Ayat ini perintah kepada kaum mukmin secara khusus setelah memerintahkan secara umum kepada manusia. Hal itu, karena hanya merekalah yang dapat mengerti nasehat yang disampaikan. Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan mereka memakan yang baik-baik dan bersyukur kepada Allah baik dengan hati, lisan maupun anggota badan, seperti menggunakan nikmat tersebut untuk keta’atan kepada-Nya atau dengan mengerjakan amal shalih. Perintah ini sama seperti perintah Allah kepada rasul-Nya, yaitu memakan makanan yang baik-baik dan beramal shalih (lihat surat Al Mukminun: 51)] Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik yang Kami berikan kepadamu[Perintah memakan yang baik-baik berarti larangan memakan yang kotor seperti halnya orang-orang kafir yang memakan sesuatu yang kotor dan mengharamkan makanan yang baik-baik] dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya[Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang bersyukur kepada Allah berarti telah beribadah kepada-Nya, demikian juga menunjukkan bahwa memakan makanan yang baik merupakan sebab untuk beramal shalih dan sebab diterimanya amal shalih tersebut. Di dalam ayat ini juga terdapat perintah bersyukur setelah memperoleh nikmat, karena syukur dapat menjaga nikmat yang ada dan menarik kembali nikmat yang hilang].

173.[Setelah Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan halalnya makanan yang baik-baik selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyebutkan haramnya memakan makanan yang kotor dan membahayakan, di antaranya yang disebutkan pada ayat di atas] Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai[Yakni binatang yang mati tanpa disembelih secara syar’i. termasuk ke dalam bangkai adalah anggota badan yang dipotong dari binatang hidup sebagaimana dalam As Sunnah, namun dikecualikan daripadanya bangkai ikan dan belalang], darah[Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan di ayat yang lain], daging babi[Disebutkan “daging” karena biasanya daging itulah yang dicari, meskipun bagian yang lain dari anggota badannya juga haram], dan binatang yang disembelih dengan (menyebut) nama selain Allah[Di samping haram memakan hewan yang disembelih dengan nama selain Allah, demikian pula diharamkan hewan yang disembeli dengan menyebut nama Allah dan menyebut pula nama selain-Nya. Termasuk diharamkan juga hewan yang disembelih untuk selain Allah, seperti untuk berhala, patung, dewa, kubur dsb.
Faedah:
Apa yang disebutkan di atas bukan berarti bahwa makanan yang diharamkan hanya sebatas empat makanan ini. Penyebutan empat makanan ini hanyalah untuk menerangkan beberapa contoh jenis makanan yang kotor atau khabaa’its, hal ini berdasarkan mafhum ayat sebelumnya, yaitu dari kata “thayyibaat”yang menunjukkan bahwa yang halal bagi kita hanyalah yang baik-baik saja. Adapun yang kotor dan membahayakan seperti bangkai, darah, daging babi dan hewan yang disembelih dengan nama selain Allah adalah haram, demikian juga makanan kotor dan membahayakan lainnya]. Tetapi barangsiapa terpaksa (memakannya)[Seperti karena lapar dan tidak ada makanan yang lainnya atau seseorang dipaksa. Dalam keadaan seperti ini, seseorang diperintahkan untuk makan, bahkan dilarang membiarkan dirinya binasa], sedangkan dia tidak menginginkannya[Yakni tidak mencari yang haram padahal masih mampu mengambil yang halal atau ia tidak lapar] dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[Pembolehan memakan makanan yang haram ketika kondisi darurat merupakan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan kelapangan dari-Nya. Oleh karena itu, ayat ini diakhiri dengan dua nama-Nya Yang Mulia yang sangat sesuai sekali, yaitu bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s